Showing posts with label Cupid Poems. Show all posts
Showing posts with label Cupid Poems. Show all posts

Penyangga Rapuh

Gulanaku berserak sepanjang jalan
seiring perlina kidung harapan
Darahpun berceceran di jalan bersalju
noda memeta di hamparan putih
melukiskan jejak sebentuk cacat
Ternyata sebilah pisau berkarat
terselip di balik lidahmu
mengoyakkkan sayap-sayap
membilah sesayat kalbu
Badai pun menerjang sekat amarah
Merambah penyangga rapuh
tanpa menyisakan secuil pegangan utuh
aku kehilangan pilar tempat bersandar

Padang, 15 Juli 2011

Mawar Hitam


Akankah hari ini kau datang?
Dengan kuda bersayap dan setangkai lili putih.
Oh, belum waktunya barangkali.
Karena masih kutemukan mawar hitam di sudut kamar
Layu dan rontok satu-satu.
Kuurungkan langkah menjemput malam.
Lalu bergeming memeluk waktu.
Menjaga sisa harapan bergelimang resah
yang mengering di ujung senja.

Mimpi, Pedang, dan Selimut

Aku bersandar pada angan-angan
Pada mimpi yang menggantung di kaki langit
Diantara dua belas purnama
Harusnya pagi ini, kuasah pedang penebas aral
Untuk meretas titian pelangi
Tapi ada apa hari ini?
Aku dicengram ketakukan
Hujan datang menusuk ubun-ubun
Kilatan petir membutakan mata
Guntur pun membuatku tuli
Kabut berkawan gelap
Akankah kuakhiri saja?
Aku terlalu takut.

Takut?
Bukan!
Itu bukan takut!
Tapi pengecut!

Tentu saja tidak!
Aku hanya ingin tidur sejenak.
Pengecut itu bukan aku.

Maka lekas asah pedangmu,
bangun dari selimut dekil itu!

Bemuse

Berbisik lirih lewat semilir angin senja
Berharap desaunya mampu menerjemahkan isyarat hati
Dan mengabarkannya pada pemilik rindu
Yang menanti di balik dinding bersekat ruang dan waktu
Adakah percikan mimpi mampu menembusnya
Bahkan menerobos dimensi yang membelenggu
Hingga penantian tak lagi mematri jiwa linglung yang memendam tanya.

Misery


Nyanyian sang diam kembali merayap
Merasuki, akhirnya beri jeda dalam senyap
Hancur rasa menusuk, namun hanya hadir
Kepingan hasrat terserak, torehkan getir
Menjelma menjadi luka batin tanpa kendali
Ketukan nada sang bisu kini terdengar
Denyut emosi dan nadi cinta mulai terdengar
Harap jerat pelangi menyayat, memberi riap
Pada potongan jiwa yang telah sesat akan gelap
Bubuhkan pahit pada rasa yang dikecap
Tutur kata sang bijak terasa mendekat
Menarik sadar, lelah mengembara di padang kemunafikan
Menyadari tinta kelam kembali tertumpah pada angan
Ingin tahu jawab, jujur yang harus terucap
Walau tak kupungkiri, asaku tersayat
tanpa mampu menyatu kembali

Vanish

Bila memamg kau ada untukku
mengapa angin berlalu bisu?
Rinduku membelenggu hati
bebaskan aku dari hukuman mati ini
Sayap-sayap jiwaku mengelana bebas
haturkan tanya pada setiap risau
Kemanakah kau cinta?
Bila memang kau ada untukku
Mengapa hati terisis perih?
Penjaga takdir diam di sudut hari
tak membuka mata
meski bintang terus menghiba
Mimpiku tercabik nyata
tak lagi berdaya hadirkan wajahmu
Cintaku terhapus hujan
tinggalkan biru pada langit yang bergetar


Edelweiss


Menjunjung akal dalam kegilaan yang waras
Menentukan yang waras dalam ketabuan
Yang melunak dalam hati seharusnya kuterima
Namun kutantang dalam keperihan
Tetapi yang harus kubantah, kutelan dalam-dalam
Kengerian yang meruak setiap detik nadi
Membuat rasa didalamnya terpasung
Membayangkan segala yang tak pernah pasti
Dan menatap realita sebagai musuh abadi
Mencoba menyimpan segalanya rapat-rapat dan berharap
Doa yang tak pernah putus menghiasi lorong-lorong batin
Tuhan… keyakinan apa yang Kau berikan atas nama cinta
Semuanya sarat dengan makna tak terbaca
Teguh ini mempertahankan segala yang telah hilang
Tuhan menjanjikan jawaban untuk hamba-Nya yang berdoa
Entah kapan… entah dimana…
Aku terus menunggu sampai
Tuhan menjawabnya
                      

Desire


Sayang,
Kenalilah musim hujan yang basah
Dan kemarau yang meranggaskan daun-daun kering
Di sepanjang hari dalam dua belas purnama
Karna cintaku bersemi di dua musim
Kenalilah gelisah angin diantara buluh-buluh bambu
Yang meliuk kekanan dan meliuk kekiri
Yang gemerisik diantara sunyi
Karena ada bisikan tentang gelisahku
Ketika senja turun di bukit-bukit tak berpenghuni
Ada rona yang dilukiskan pada latar langit
Merah membara dan kadang-kadang lembayung
Kenalilah warnanya yang disapukan dari rinduku
Sayang,
Malam-malam ku adalah catatan tentang cinta
Dinginnya menghangatkan dan member aroma rasa
Aku jejaki purnama yang tenggelam di antara awan
Dan aku ingin terbenam bersama cinta yang kau bawa

Ruinous


Terbangun linglung, kudapati cinta berbuah kebencian
Dipenuhi ratusan ribu nanar
Akupun tenggelam dalam kesangsian akan hari depan
Dalam kalap jiwa yang kau jebak
Kutata muka dan berdiri patahkan rasa
Kenakan busana baru rajutan dendam
Dan penuhi tangki-tangki doa dengan kutukan
Tak kulihat warna selain buram
Setumpuk nilai pun sirna dibenam nafsu
Sungguh aku tertawan dan karam
Dalam lubang sempit bernama kekecewaan



Funeral

Cintamu  pernah berkilauan dibatinku
Seperti bola mata anak kecil
Yang bersih dilambung puisi
Tapi sekarang semua redam
Ia hidup dalam cahaya remang
Tersenyum menjaga rumah di negeri bulan
Siapakah itu yang kemari diantara siluet hujan?
Barangkali rohmu  melayang-layang
Mencari cinta, yang ada dalam genggamanku
Sayangnya kau terlambat, Sayang
cintaku sudah bersemayam dipemakaman

Parade Senja


Seberkas cahaya ku petik di penghujung senja
Berpadu pada warna langit jingga
Tak lupa ku iris sehelai awan muda
Untuk menemanimu membelai purmana
Kemasi persembahanku dalam balutan cinta
Sebelum kereta kencana membawa kita berkelana

Hollow

Senyummu adalah gerimis pertama
 yang menyiram kegersangan kalbu
setelah kemarau panjang di awal musim.
Lembab, dingin menelisik jauh ke dasar hati,
melumerkan tiap kepingan darah yang sempat membatu.
Semusim ku dapati dirimu berjungkat-jungkit
dalam jangkar sepi di bawah bias mantari.
 ilalang bisu menatapmu riang
melambai di padang tak bertuan.
Apa gerangan yang kau rengkuah dalam dekapanmu?
 Mataku menangkap ada segumpal hati
 bagai permukaan bulan di sana,
berkawah, penuh lubang terpapar
Wajahmu tersaput kabut samar
Memburatkan bayang hampa
Kedua korneamu bicara mengisyaratkan makna
Ada bilur penyesalan terpantul
Di antara kicauan burung dan desau angin menerpa
Kau  ucapkan namaku perlahan
Seolah sengau dan tak lantang
Nadamu terdengar gamang untuk dilontarkan
Ada semburat keraguan terpancar
Percayalah aku bukan algojo yang akan mencincang jantungmu
Berikan gumpalah hatimu yang cacat itu padaku
Akan ku tutupi palungnya dengan aliran  nadi ini.
Hingga menciptakan hujan merah jambu
membasuh jiwamu yang berkalang luka.  

Mist

Hujan menodai cakrawala, kabut memenuhi ladang dengan bayangan biru. Lima merpati putih menanti di atas pohon jati. Semuanya terdiam. Bahkan aku, menanti di bawah langit terbuka, wajahku basah dan muda. Bukan pagi, bukan malam, sesuatu di antara kuda-kuda di bawah sinar matahari.  Belalang bersenandung dalam sinar keemasan. Musim yang begitu hangat, daun-daun lembab merah merebak di tanah. Ini di antara tempat yang diapit oleh biru dan merpati yang menanti. Di sinilah tempat aku menanti di antara masa kanak-kanak dan dewasa, tertidur dan terjaga, tahu dan tidak tahu.

Reap

Aku tak pernah lelah mengeja hari tanpa sandaran cinta pasti. Banyak kekuatan yang mematriku untuk bertahan dalam lorong sepi. Dalam sunyi aku menuai benih-benih cinta yang siap ku tebar bila sang pemanah telah melesatkan anak panahnya tepat di ulu hati, tempat aku menyimpan sejuta kerinduan yang ku tata rapi. Tidak mudah memang membendung gemuruh hasrat  yang mudah datang kemudian secepat kilat berlalu pergi. Keteguhan membawaku pada tujuan abadi. Akhir penantian sakral yang mati-matian ku jaga di antara dua musim yang datang silih berganti. Meski terpasung waktu, tiada memudarkan asa yang tertancap dalam cengkeraman kepingan cinta yang ku pungut dari lembaran kisah yang tercecer. Ku rangkum semua serpihan itu dalam balutan kain sutera emas yang ku sulam dengan benang termahal yang pernah ada.  Hingga ketika sang waktu mulai menjamah dan memberi tanda pada semesta, saat itu pula ku lepaskan sesuatu yang tersimpan itu pelan-pelan. Membiarkannya terbang membubung tinggi meniti langit. Menjemput takdir, lalu melenggang menuju keabadian.

Moonlight

Mereka bergumul bermandikan cahaya purnama di pertengahan bulan. Menari – nari diiringi desau angin yang mengalunkan melodi picisan. Sepertinya menggairahkan, hingga merelakan tubuh terombang ambing di bawah hentakan nada yang dialunkan similir angin malam. Aku bergeming di balik benteng yang ku bangun dengan sedikit keangkuhan, tiada peduli pada rayuan bulan yang mampu menlenyapkan kepekatan malam. Dengan santai aku tetap meringkuk dalam bilik temaram ditemani jelaga hitam yang membumbung liar menghiasi langit-langit kamar. Desahan dalam balutan derai tawa tidak mampu menggelitikku sedikitpun. Tiada menarik bagiku yang merindui cahaya sejati. Ratusan kali purnama menyembul indah, hanya memberikan semburat harapan kosong di mataku. Aku tak sudi merelakan diri ini terkatung-katung ditunggangi rembulan dengan cahaya maya. Bukankah lebih baik seperti ini, menggantungkan asa pada  sinar abadi.

Lamentation

Air mata apa yang kau punya

Hingga bulirannya mampu meredam luka

Peluh bersimbah luluh dengan tanah

Darah membuncah kadang di selipi amarah

Namun cintamu tetap berlinang

Terus menggenangi  aku, dia, dan dia

Tak tampak bahasa lelah di setiap langkah

Walau gerimis menancapkan kaki di punggungmu

Meski surya menyengat kulitmu

Kasihmu tetap membakar.


Showing posts with label Cupid Poems. Show all posts
Showing posts with label Cupid Poems. Show all posts

2011/07/23

Penyangga Rapuh

Gulanaku berserak sepanjang jalan
seiring perlina kidung harapan
Darahpun berceceran di jalan bersalju
noda memeta di hamparan putih
melukiskan jejak sebentuk cacat
Ternyata sebilah pisau berkarat
terselip di balik lidahmu
mengoyakkkan sayap-sayap
membilah sesayat kalbu
Badai pun menerjang sekat amarah
Merambah penyangga rapuh
tanpa menyisakan secuil pegangan utuh
aku kehilangan pilar tempat bersandar

Padang, 15 Juli 2011

2011/06/24

Mawar Hitam


Akankah hari ini kau datang?
Dengan kuda bersayap dan setangkai lili putih.
Oh, belum waktunya barangkali.
Karena masih kutemukan mawar hitam di sudut kamar
Layu dan rontok satu-satu.
Kuurungkan langkah menjemput malam.
Lalu bergeming memeluk waktu.
Menjaga sisa harapan bergelimang resah
yang mengering di ujung senja.

2011/06/22

Mimpi, Pedang, dan Selimut

Aku bersandar pada angan-angan
Pada mimpi yang menggantung di kaki langit
Diantara dua belas purnama
Harusnya pagi ini, kuasah pedang penebas aral
Untuk meretas titian pelangi
Tapi ada apa hari ini?
Aku dicengram ketakukan
Hujan datang menusuk ubun-ubun
Kilatan petir membutakan mata
Guntur pun membuatku tuli
Kabut berkawan gelap
Akankah kuakhiri saja?
Aku terlalu takut.

Takut?
Bukan!
Itu bukan takut!
Tapi pengecut!

Tentu saja tidak!
Aku hanya ingin tidur sejenak.
Pengecut itu bukan aku.

Maka lekas asah pedangmu,
bangun dari selimut dekil itu!

2011/03/06

Bemuse

Berbisik lirih lewat semilir angin senja
Berharap desaunya mampu menerjemahkan isyarat hati
Dan mengabarkannya pada pemilik rindu
Yang menanti di balik dinding bersekat ruang dan waktu
Adakah percikan mimpi mampu menembusnya
Bahkan menerobos dimensi yang membelenggu
Hingga penantian tak lagi mematri jiwa linglung yang memendam tanya.

2011/01/29

Misery


Nyanyian sang diam kembali merayap
Merasuki, akhirnya beri jeda dalam senyap
Hancur rasa menusuk, namun hanya hadir
Kepingan hasrat terserak, torehkan getir
Menjelma menjadi luka batin tanpa kendali
Ketukan nada sang bisu kini terdengar
Denyut emosi dan nadi cinta mulai terdengar
Harap jerat pelangi menyayat, memberi riap
Pada potongan jiwa yang telah sesat akan gelap
Bubuhkan pahit pada rasa yang dikecap
Tutur kata sang bijak terasa mendekat
Menarik sadar, lelah mengembara di padang kemunafikan
Menyadari tinta kelam kembali tertumpah pada angan
Ingin tahu jawab, jujur yang harus terucap
Walau tak kupungkiri, asaku tersayat
tanpa mampu menyatu kembali

Vanish

Bila memamg kau ada untukku
mengapa angin berlalu bisu?
Rinduku membelenggu hati
bebaskan aku dari hukuman mati ini
Sayap-sayap jiwaku mengelana bebas
haturkan tanya pada setiap risau
Kemanakah kau cinta?
Bila memang kau ada untukku
Mengapa hati terisis perih?
Penjaga takdir diam di sudut hari
tak membuka mata
meski bintang terus menghiba
Mimpiku tercabik nyata
tak lagi berdaya hadirkan wajahmu
Cintaku terhapus hujan
tinggalkan biru pada langit yang bergetar


Edelweiss


Menjunjung akal dalam kegilaan yang waras
Menentukan yang waras dalam ketabuan
Yang melunak dalam hati seharusnya kuterima
Namun kutantang dalam keperihan
Tetapi yang harus kubantah, kutelan dalam-dalam
Kengerian yang meruak setiap detik nadi
Membuat rasa didalamnya terpasung
Membayangkan segala yang tak pernah pasti
Dan menatap realita sebagai musuh abadi
Mencoba menyimpan segalanya rapat-rapat dan berharap
Doa yang tak pernah putus menghiasi lorong-lorong batin
Tuhan… keyakinan apa yang Kau berikan atas nama cinta
Semuanya sarat dengan makna tak terbaca
Teguh ini mempertahankan segala yang telah hilang
Tuhan menjanjikan jawaban untuk hamba-Nya yang berdoa
Entah kapan… entah dimana…
Aku terus menunggu sampai
Tuhan menjawabnya
                      

Desire


Sayang,
Kenalilah musim hujan yang basah
Dan kemarau yang meranggaskan daun-daun kering
Di sepanjang hari dalam dua belas purnama
Karna cintaku bersemi di dua musim
Kenalilah gelisah angin diantara buluh-buluh bambu
Yang meliuk kekanan dan meliuk kekiri
Yang gemerisik diantara sunyi
Karena ada bisikan tentang gelisahku
Ketika senja turun di bukit-bukit tak berpenghuni
Ada rona yang dilukiskan pada latar langit
Merah membara dan kadang-kadang lembayung
Kenalilah warnanya yang disapukan dari rinduku
Sayang,
Malam-malam ku adalah catatan tentang cinta
Dinginnya menghangatkan dan member aroma rasa
Aku jejaki purnama yang tenggelam di antara awan
Dan aku ingin terbenam bersama cinta yang kau bawa

Ruinous


Terbangun linglung, kudapati cinta berbuah kebencian
Dipenuhi ratusan ribu nanar
Akupun tenggelam dalam kesangsian akan hari depan
Dalam kalap jiwa yang kau jebak
Kutata muka dan berdiri patahkan rasa
Kenakan busana baru rajutan dendam
Dan penuhi tangki-tangki doa dengan kutukan
Tak kulihat warna selain buram
Setumpuk nilai pun sirna dibenam nafsu
Sungguh aku tertawan dan karam
Dalam lubang sempit bernama kekecewaan



2011/01/28

Funeral

Cintamu  pernah berkilauan dibatinku
Seperti bola mata anak kecil
Yang bersih dilambung puisi
Tapi sekarang semua redam
Ia hidup dalam cahaya remang
Tersenyum menjaga rumah di negeri bulan
Siapakah itu yang kemari diantara siluet hujan?
Barangkali rohmu  melayang-layang
Mencari cinta, yang ada dalam genggamanku
Sayangnya kau terlambat, Sayang
cintaku sudah bersemayam dipemakaman

Parade Senja


Seberkas cahaya ku petik di penghujung senja
Berpadu pada warna langit jingga
Tak lupa ku iris sehelai awan muda
Untuk menemanimu membelai purmana
Kemasi persembahanku dalam balutan cinta
Sebelum kereta kencana membawa kita berkelana

2011/01/27

Hollow

Senyummu adalah gerimis pertama
 yang menyiram kegersangan kalbu
setelah kemarau panjang di awal musim.
Lembab, dingin menelisik jauh ke dasar hati,
melumerkan tiap kepingan darah yang sempat membatu.
Semusim ku dapati dirimu berjungkat-jungkit
dalam jangkar sepi di bawah bias mantari.
 ilalang bisu menatapmu riang
melambai di padang tak bertuan.
Apa gerangan yang kau rengkuah dalam dekapanmu?
 Mataku menangkap ada segumpal hati
 bagai permukaan bulan di sana,
berkawah, penuh lubang terpapar
Wajahmu tersaput kabut samar
Memburatkan bayang hampa
Kedua korneamu bicara mengisyaratkan makna
Ada bilur penyesalan terpantul
Di antara kicauan burung dan desau angin menerpa
Kau  ucapkan namaku perlahan
Seolah sengau dan tak lantang
Nadamu terdengar gamang untuk dilontarkan
Ada semburat keraguan terpancar
Percayalah aku bukan algojo yang akan mencincang jantungmu
Berikan gumpalah hatimu yang cacat itu padaku
Akan ku tutupi palungnya dengan aliran  nadi ini.
Hingga menciptakan hujan merah jambu
membasuh jiwamu yang berkalang luka.  

2011/01/25

Mist

Hujan menodai cakrawala, kabut memenuhi ladang dengan bayangan biru. Lima merpati putih menanti di atas pohon jati. Semuanya terdiam. Bahkan aku, menanti di bawah langit terbuka, wajahku basah dan muda. Bukan pagi, bukan malam, sesuatu di antara kuda-kuda di bawah sinar matahari.  Belalang bersenandung dalam sinar keemasan. Musim yang begitu hangat, daun-daun lembab merah merebak di tanah. Ini di antara tempat yang diapit oleh biru dan merpati yang menanti. Di sinilah tempat aku menanti di antara masa kanak-kanak dan dewasa, tertidur dan terjaga, tahu dan tidak tahu.

2011/01/24

Reap

Aku tak pernah lelah mengeja hari tanpa sandaran cinta pasti. Banyak kekuatan yang mematriku untuk bertahan dalam lorong sepi. Dalam sunyi aku menuai benih-benih cinta yang siap ku tebar bila sang pemanah telah melesatkan anak panahnya tepat di ulu hati, tempat aku menyimpan sejuta kerinduan yang ku tata rapi. Tidak mudah memang membendung gemuruh hasrat  yang mudah datang kemudian secepat kilat berlalu pergi. Keteguhan membawaku pada tujuan abadi. Akhir penantian sakral yang mati-matian ku jaga di antara dua musim yang datang silih berganti. Meski terpasung waktu, tiada memudarkan asa yang tertancap dalam cengkeraman kepingan cinta yang ku pungut dari lembaran kisah yang tercecer. Ku rangkum semua serpihan itu dalam balutan kain sutera emas yang ku sulam dengan benang termahal yang pernah ada.  Hingga ketika sang waktu mulai menjamah dan memberi tanda pada semesta, saat itu pula ku lepaskan sesuatu yang tersimpan itu pelan-pelan. Membiarkannya terbang membubung tinggi meniti langit. Menjemput takdir, lalu melenggang menuju keabadian.

Moonlight

Mereka bergumul bermandikan cahaya purnama di pertengahan bulan. Menari – nari diiringi desau angin yang mengalunkan melodi picisan. Sepertinya menggairahkan, hingga merelakan tubuh terombang ambing di bawah hentakan nada yang dialunkan similir angin malam. Aku bergeming di balik benteng yang ku bangun dengan sedikit keangkuhan, tiada peduli pada rayuan bulan yang mampu menlenyapkan kepekatan malam. Dengan santai aku tetap meringkuk dalam bilik temaram ditemani jelaga hitam yang membumbung liar menghiasi langit-langit kamar. Desahan dalam balutan derai tawa tidak mampu menggelitikku sedikitpun. Tiada menarik bagiku yang merindui cahaya sejati. Ratusan kali purnama menyembul indah, hanya memberikan semburat harapan kosong di mataku. Aku tak sudi merelakan diri ini terkatung-katung ditunggangi rembulan dengan cahaya maya. Bukankah lebih baik seperti ini, menggantungkan asa pada  sinar abadi.

2011/01/03

Lamentation

Air mata apa yang kau punya

Hingga bulirannya mampu meredam luka

Peluh bersimbah luluh dengan tanah

Darah membuncah kadang di selipi amarah

Namun cintamu tetap berlinang

Terus menggenangi  aku, dia, dan dia

Tak tampak bahasa lelah di setiap langkah

Walau gerimis menancapkan kaki di punggungmu

Meski surya menyengat kulitmu

Kasihmu tetap membakar.


Copyright @ Miscellaneous Thoughts | Floral Day theme designed by SimplyWP | Bloggerized by GirlyBlogger | Distributed by: best blogger template personal best blogger magazine theme | cheapest vpn for mac cheap vpn with open ports