Dengan jantung berdebar tak karuan perlahan ku buka akunku di portal akademik kampus, aku klik pada bagian kartu hasi studi dengan jemari sedikit gemetar. Deg, jantungku hampir berceceran! Alhamdulillah! Sontak aku berteriak dalam hati. Perjuanganku selama ini membuahkan hasil, meskipun tidak mendapatkan nilai tertinggi, setidaknya aku lulus di mata kuliah ini dengan nilai yang cukup memuaskan. Tiada kata yang pantas ku ucapkan selain rasa syukur yang mendalam atas jawaban Allah terhadap doa-doaku.
Berkutat dengan mata kuliah yang satu ini memang menjadi momok yang menakutkan bagiku. Masalahnya ini adalah kesempatan kedua setelah mengalami kegagalan di semester lalu. Trauma dengan kesadisan dosen yang menghargai perjuanganku dengan nilai serendah itu, aku memutuskan mengulangnya dengan dosen berbeda. Berharap dosen ini bisa memberikan sistem penilaian yang lebih baik. Aku yakin performaku dalam mata kuliah ini tidak terlalu buruk hingga harus dicela dengan satu kata “gagal”, aku masih memegang pendirian bahwa bukan aku yang terlalu bodoh, namun dosen itu yang tidak mampu menilaiku.
