Pada hakikatku berkisah. Cerita hidup sepi, sebatang kara. Biarkanlah kuberbagi pada kalian, yang belum merasakan arti sebuah kesendirian. Selami tiap inci hatiku, kau akan temukan sebidang tanah lapang, tandus, panas, gersang, hampa. Tak ada unsur apapun di sana. Bahkan setetes cinta.
Kawan, dulu aku adalah telaga, dulu aku adalah kebun anggur, dulu aku adalah muara. Dulu, dulu sekali, hingga kini kulelah dengan kata dulu. Tahukah kau mengapa? Karena dulu merupakan sejarah usang. Dulu buatku adalah penyesalan.
Seorang ibu mengeluhkan biaya hidup semakin mahal. Bahan bakar naik, harga keperluan harian turut melonjak, cabai pun meroket, dan beras pun kena getahnya . Pusing kepalanya tiap hari memikirkan bagaimana membelanjakan uang dari suami agar dapur bisa tetap ngepul. Kalau tidak pandai-pandai menyiasati, bisa tidak makan anaknya yang berdelapan. Kemarin si bungsu sakit, untung ada obat gratis dari puskesmas, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada anaknya yang saban hari mencretnya tak kunjung berhenti. Namun karena letak rumahnya begitu jauh dari puskesmas, terpaksalah uang beli beras terpakai buat ongkos ojek. Untung sisa beras miskin bulan lalu masih ada, menyelamatkan ia dan anak-anaknya dari kelaparan untuk sehari. Besok sepertinya harus pinjam beras tetangga lagi, kalau tidak cukup terpakasa manfaat singkong di kebun belakang rumah sekedar pengganjal perut, sebab sudah seminggu suaminya tidak dapat jatah kerja. Sedangkan beras miskin tak akan bisa dibawa pulang tanpa uang. Walaupun bersubsidi yang namanya beras murah pun tetap harus dibayar. Selalu seperti itu, kemelaratan enggan beranjak, seperti kutukan yang melekat pada takdir. Bahkan menggerogoti raganya hingga tinggal kulit pembalut tulang.
Sehabis ashar, kuhabiskan waktu yang tersisa untuk menikmati segala pemandangan indah yang telah tersimpan selama bertahun-tahun di memoriku. Tidak lama lagi akan segera kutinggalkan kampung halaman, sebuah dusun tempat aku mengahabiskan masa kanak-kanak hingga umurku hampir seperempat abad. Seperti yang dilakukan kebanyakan orang, merantau adalah pilihan hidup yang menggiurkan untuk memperbaiki nasib. Begitu juga aku, setamat mengecap bangku kuliah, kuputuskan untuk mengadu peruntungan di ibu kota. Tekadku semenjak masih berseragam putih merah, merasakan hidup di kota besar.
Petang itu aku terduduk gontai di atap rumah, tempat favoritku untuk menyendiri. Dari sana aku bisa memandangi keindahan alam dan memantau aktivitas orang-orang dari kejauhan. Sesekali kupejamkan mata sembari menghirup udara sejuk pegunungan. Kuresapi bulir-bulir oksigen yang yang masuk ke rongga hidung kemudian mengalir memenuhi paru-paru. Kuhirup udara itu dengan brutal, sampai paru-paruku sesak. Mengingat di kota besar nanti, barangkali tak senikmat ini rasanya bernafas.
“ Lelaki itu lebih pantas kau panggil bapak, bahkan ia lebih tua dari ayahmu.” Begitu kata yang terlontar dari mulut ibu saat aku mengutarakaan niat untuk menikahi bang Jamil. Kekasihku.
“ Kami saling mencintai.”
“ Tak cukup hanya cinta, Yus. Cinta tak dapat mengganjal perutmu.”
“ Aku telah memikirkan semua risikonya, Bu. Aku ingin menikah.”
“ Riwayat pernikahannya sangat buruk. Tidakkah kau bercermin pada tiga orang perempuan yang telah gagal bertahan sebagai istrinya?”
Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya. Menatapku dengan pandangan sinis.
“ Entah apa pesona laki-laki tua ini di matamu, Yus? Dia hanya supir truk, tentu kau sudah paham bagaimana citra supir truk di kampung kita. Hidup bergelimang maksiat.”
Aku hanya bergeming. Tertunduk. Tak sanggup menatap wajah ibu.
“ Tidak, Yus. Aku tak sudi anak gadisku satu-satunya menikah dengan duda tua dan melarat. Kalau kau memang sudah tidak tahan untuk menikah, biar kucarikan laki-laki yang lebih pantas untukmu.”
Tangisanku pecah, bendungan yang kutahan dengan kelopak mata jebol seketika.
“ Aku sedang mengandung anaknya.”
Teruntuk perempuan, berpandai-pandailah memilih pendamping hidup. Pandaisikek, 31 maret 2011
Pada hakikatku berkisah. Cerita hidup sepi, sebatang kara. Biarkanlah kuberbagi pada kalian, yang belum merasakan arti sebuah kesendirian. Selami tiap inci hatiku, kau akan temukan sebidang tanah lapang, tandus, panas, gersang, hampa. Tak ada unsur apapun di sana. Bahkan setetes cinta.
Kawan, dulu aku adalah telaga, dulu aku adalah kebun anggur, dulu aku adalah muara. Dulu, dulu sekali, hingga kini kulelah dengan kata dulu. Tahukah kau mengapa? Karena dulu merupakan sejarah usang. Dulu buatku adalah penyesalan.
Seorang ibu mengeluhkan biaya hidup semakin mahal. Bahan bakar naik, harga keperluan harian turut melonjak, cabai pun meroket, dan beras pun kena getahnya . Pusing kepalanya tiap hari memikirkan bagaimana membelanjakan uang dari suami agar dapur bisa tetap ngepul. Kalau tidak pandai-pandai menyiasati, bisa tidak makan anaknya yang berdelapan. Kemarin si bungsu sakit, untung ada obat gratis dari puskesmas, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada anaknya yang saban hari mencretnya tak kunjung berhenti. Namun karena letak rumahnya begitu jauh dari puskesmas, terpaksalah uang beli beras terpakai buat ongkos ojek. Untung sisa beras miskin bulan lalu masih ada, menyelamatkan ia dan anak-anaknya dari kelaparan untuk sehari. Besok sepertinya harus pinjam beras tetangga lagi, kalau tidak cukup terpakasa manfaat singkong di kebun belakang rumah sekedar pengganjal perut, sebab sudah seminggu suaminya tidak dapat jatah kerja. Sedangkan beras miskin tak akan bisa dibawa pulang tanpa uang. Walaupun bersubsidi yang namanya beras murah pun tetap harus dibayar. Selalu seperti itu, kemelaratan enggan beranjak, seperti kutukan yang melekat pada takdir. Bahkan menggerogoti raganya hingga tinggal kulit pembalut tulang.
Sehabis ashar, kuhabiskan waktu yang tersisa untuk menikmati segala pemandangan indah yang telah tersimpan selama bertahun-tahun di memoriku. Tidak lama lagi akan segera kutinggalkan kampung halaman, sebuah dusun tempat aku mengahabiskan masa kanak-kanak hingga umurku hampir seperempat abad. Seperti yang dilakukan kebanyakan orang, merantau adalah pilihan hidup yang menggiurkan untuk memperbaiki nasib. Begitu juga aku, setamat mengecap bangku kuliah, kuputuskan untuk mengadu peruntungan di ibu kota. Tekadku semenjak masih berseragam putih merah, merasakan hidup di kota besar.
Petang itu aku terduduk gontai di atap rumah, tempat favoritku untuk menyendiri. Dari sana aku bisa memandangi keindahan alam dan memantau aktivitas orang-orang dari kejauhan. Sesekali kupejamkan mata sembari menghirup udara sejuk pegunungan. Kuresapi bulir-bulir oksigen yang yang masuk ke rongga hidung kemudian mengalir memenuhi paru-paru. Kuhirup udara itu dengan brutal, sampai paru-paruku sesak. Mengingat di kota besar nanti, barangkali tak senikmat ini rasanya bernafas.
“ Lelaki itu lebih pantas kau panggil bapak, bahkan ia lebih tua dari ayahmu.” Begitu kata yang terlontar dari mulut ibu saat aku mengutarakaan niat untuk menikahi bang Jamil. Kekasihku.
“ Kami saling mencintai.”
“ Tak cukup hanya cinta, Yus. Cinta tak dapat mengganjal perutmu.”
“ Aku telah memikirkan semua risikonya, Bu. Aku ingin menikah.”
“ Riwayat pernikahannya sangat buruk. Tidakkah kau bercermin pada tiga orang perempuan yang telah gagal bertahan sebagai istrinya?”
Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya. Menatapku dengan pandangan sinis.
“ Entah apa pesona laki-laki tua ini di matamu, Yus? Dia hanya supir truk, tentu kau sudah paham bagaimana citra supir truk di kampung kita. Hidup bergelimang maksiat.”
Aku hanya bergeming. Tertunduk. Tak sanggup menatap wajah ibu.
“ Tidak, Yus. Aku tak sudi anak gadisku satu-satunya menikah dengan duda tua dan melarat. Kalau kau memang sudah tidak tahan untuk menikah, biar kucarikan laki-laki yang lebih pantas untukmu.”
Tangisanku pecah, bendungan yang kutahan dengan kelopak mata jebol seketika.
“ Aku sedang mengandung anaknya.”
Teruntuk perempuan, berpandai-pandailah memilih pendamping hidup. Pandaisikek, 31 maret 2011
Thank's for visiting my blog. Just feel free to comment, even you just wanna say hi, or exchange links with me. Please follow my blog if you like it. Then, i'll do the same. ;)