Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

Takut, Sang Pemersatu

Pada mulanya kita menyangka bahwa rasa takut merupakan naluri mendasar sang mangsa. Soiapa saja, sepanjang dalam dirinya bersemayam jiwa mangsa, maka rasa takut menjadi kesimpulan atas rangkaian hari-hari kehidupannya. Pemangsa dari rasa takut salah adalah mustahil-yang menerornya dengan pesimisme yang sadis. Lalu, di tengah kehidupan sang mangsa, rasa takut yang menggayutinya adalah takut gagal. Pemangsa segera menghadangnya dengan kegamangan-bertubu-tubi virus yang menyerang adalah disorientasi kerja. Akhirnya, mangsa benar-benar menemui hal yang ditakutinya, yaitu kenyataan yang telah ditakutinya sejak awal: salah dan gagal. Para pemangsa pun-mustahil, kegamangan, dan disorientasi-bersorak sorai meyakinkan keberhasilan mereka menaklukkan sang mangsa.

Tetapi, ternyata, rasa takut juga dimiliki oleh para pemangsa. Mustahil, misalnya, sangat takut kepada orang-orang yang tak pernah takut untuk berbuat salah ketika memulai sesuati. Orang ini ditakuti sang pemangsa karena optimisme yang dimilikinya tak mempan diteror oleh segala bentuk pesimisme. Ia juga menyebabkan tumbuhnya rasa takut pada diri-kegamangan, yang siap membantinya denga disorientasi tetapi rasa mantap dan fokus calon mangsa telah menbuyarkannya. Para pemangsa tak mampu berbuat apa-apa selain membiarkan orang itu merayakan keberhasilan paling hakiki dalam hidupnya, yaitu menjadi orang yang bebas dari mangsa siapapun.

Tentu ssaja, para mangsa bisa bangkit untuk keluar dari daftar korban para pemangsa. Ia bisa memulainya dengan bertarung melawan rasa takut salah, membunuh kegamangan, dan mendepak disorientasi . Apalagi ketika para mangsa tahu bahwa ternyata para pemangsa  juga punya rasa takut. Mereka akan bangkit dan mulai melakukan perlawanan dengan belajar dari kesalahan, berlatih untuk fokus dan mantap, dan mensyukuri setiap hasil akhir dengan bergairah dalam memperbaiki persentase gagal-berhasilny

Nah, jika rasa takut bisa menjadi pemersatu antara mangsa  dan pemangsa, sudah saatnya  mustahil, gamang, dan disorientasi dianggap sebagai makhluk biasa. Artinya, mangsa bisa berdampingan dengan pemangsa, tanpa saling menganggap istimewa.

Muhammad Yulius. Catcil. Annida No.7/XVI/ 15 Maret - 15 April 2007.

Negeri Van Oranje

Membaca novel ini, membuat saya seperti di ajak berkeliling Belanda. Deskripsinya sangat detil menjelaskan seluk-beluk negeri Belanda, mulai dari kehidupan dan budaya masyarakat disana sampai pada tempat-tempat  eksotis ala Eropa. Membacanya saja sudah membuat saya larut dalam keindahan  negeri kincir angin ini, apalagi jika benar-benar berada di sana, gak kebayang gimana rasanya. Novel yang dikemas dengan gaya lincah, kocak, dan menyentuh emosi ini, membuat saya benar-benar ingin menginjakkan kaki di benua Eropa

Diceritakan tentang lima orang mahasiswa S2 asal indonesia yang tidak sengaja bertemu di sebuah stasiun kereta,  bernama Amersfort.  Pertemuan dramatis yang tanpa disadari akan membelokkan jalah hidup mereka. Berkat badai, kretek, dan takdir, terbentuklah sebuah geng yang dijuluki Aagaban alias Aliansi Amersrfort GAra-gara Badai di Netherlands. Berangotakan Lintang, Gery, Daus, Wicak, dan Banjar. Keberadaan Lintang yang satu-satunya perempuan, membawa cerita seru dan menarik di antara mereka. 

Suka duka kehidupan mahasiswa di negeri orang, dengan beasiswa terbatas, membuat mereka menyiasati segala hal agar tetap bisa menikmati keindahan dan kemewahan yang ditawarkan negara ini. Termasuk mencari tambahan euro dengan bekerja sambilan, seperti yang banyak dilakukan oleh mahasiswa Eropa. Belum lagi culture shock yang dihadapi, karena banyak perbedaan budaya sehari-hari antara Indonesia dengan Belanda. Termasuk perjuangan super keras untuk dapat manamatkan pendidikan dengan nilai yang tidak memalukan.

Konflik pun kemudian timbul dalam persahabatan mereka. Para pria anggota geng Aagaban keculai Gery, ternyata menaruh hati pada Lintang. Diam-diam tanpa sepengetahuan yang lain, masing-masing dari mereka mengeluarkan jurus jitu untuk mendapatkan perhatian Lintang. Apalagi setelah Lintang putus dengan kekasih bulenya, Jeroen. Mereka pun mencari akal agar bisa berduaan saja dengan Lintang, tanpa sahabat yang lain. Lintang sama sekali tidak menyadari perasaan rekan-rekannya ini. Hanya Gery yang menyita perhatian Lintang sepanjang waktu. Gery, sosok pria flamboyan dan baik hati, idaman semua wanita, termasuk Lintang.

Impian Lintang kandas untuk mendapatkan cinta Gery setelah dia menyaksikan Gery berciuman mesra dengan seorang laki-laki di apartemennya. Ternyata Gery seorang gay. Gery tak pernah coming out pada para sahabatnya ini tentang orientasi seksualnya sebelum kejadian itu. Namun hal ini, tidak merusak persahabatan mereka. Seorang sahabat harus dapat menerima bagaimanapun keadaan sahabatnya.

Setelah menjalani proses perkuliahan yang berliku, menyelesaikan tesis yang menyita waktu dan tenaga, dan mendapatkan gelar di bidang masing-masing, akhirnya mereka memutuskan untuk berwisata menjelajahi eropa sebelum kembali ke Indonesia. Para sahabat ini , minus Gery ( Gery sudah sering keliling Eropa karena sudah di belanda sejak kuliah s1 ) kemuadian mengadakan perjalanan ke beberapa negara di benua Eropa.

 Perjalanan ala Eurotrip ini ternyata membuahkan suatu peristiwa penting yang akhirnya menentukan takdir mereka.

“ Lintang... I love you when you smile. I love you when you yell. I love you when you cry. I even love you when you’re drunk. All I know...is that I love you “

Wicak, the lucky guy yang berhasil mengutarakan perasaannya pada Lintang. Di saat itu, Lintang tak sekadar melihat wajah seorang sahabat saat memandang pria yang bicara padanya.

Pada akhirnya , mereka menemukan kebahagian masing-masing. Banjar sukses mendirikan sebuah perusahaan sendiri, Daus didapuk menjadi salah seorang juru bicara Istana Kepresidenan, Wicak bekerja di LSM internasional di Barcelona, Lintang menjadi diplomat di Depertemen Luar Negeri, dan Gery menjabat sebagai marketing manager di kantor pusat Philllips. Setelah menyelesika studi di Belanda, mereka kembali bertemu dalam sebuah acara spesial. Pernikahan Lintang dengan Wicak.

Selain berkisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga berbagi tip bertahan hidup di Eropa. Sungguh kisah yang sanagt inspiratif. Membuat saya makin termotivasi untuk bisa menyenyam pendidikan di Eropa, atau setidaknya menginjakkan kaki di benua Eopa.

Novel ini ditulis keroyokan oleh empat orang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda. Mereka adalah Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Perdana. Mereka sukses membuat impian saya makin menggeliat dalam diri ini.

Limpapeh Bridge

Japanese Tunnel

Sianok Ravine

Campus on the Street

Running to the Beach

Pantai Padang tetap menggoda.

Bangkiray on the Mount

Bankiray, begitulah orang-orang di sekitar sini menyebutnya, tempat ini berada di lereng gunung Singgalang. Dari ketinggian ini kita dapat memanjakan mata dengan menyaksikan paparan danau Singkarak dari kejauhan.

Ngarai Sianok






Berulang kali aku menginjakkan kaki dan menikmati pemandangan alam di panorama Ngarai Sianok ini. Namun mataku tak pernah bosan menatap dan merasakan batapa indahnya relief alam yang tercipta. Lembah di kaki Gunung Singgalang ini memberikan kesan seolah-olah ada daratan yang amblas ke bumi, sehingga menciptakan guratan lembah sepeti palung laut. Tidak salah memang , jika ada beberapa orang yang mengatakan Ngarai Sianok sebagai Grand Canyon-nya Indonesia. Jadi bangga nih aku sebagai orang Minang yang memiliki tempat pariwisata sehebat ini. Beberapa hari yang lalu aku menyempatkan diri cuci mata di daerah panorama Bukittinggi bersama Nina dan Anggun. Daripada bengong di rumah mending kita jalan-jalan, jaraknya juga eggak terlalu jauh dari rumah, sekitar setengah jam perjalanan dengan kendaraan.

Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi dengan Kecamataan IV Koto, Kabupaten Agam, Sematera Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai di Ngarai Sianok Enam Suku, dan berakhir sampai Palupuh. Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang indah dan menjadi salah satu objek wisata utama provinsi.

Jurang ini dalamnya sekitar 100 m membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan Pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang. Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau - hasil dari gerakan turun kulit bumi yang dialiri oleh sungai yang bernama Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman kolonial Belanda jurang ini disebut juga sebagai kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai.

Pokoknya eggak bakal nyesal dech pergi ke sana, tapi hati-hati sama monyet yang berkeliaran, jangan sampai kamu dikira sodaranya.

Btw, hasi jepretanku bagus nggak? Secara masih amatir dan aku masih menggunakan pocket cam.
razzbrossekakashi

Rumah Puisi Taufiq Ismail







Taufik Ismail

DUA GUNUNG KEPADAKU BICARA

Kepada Singgalang bertanya aku
Wahai gunung masa kanakku di lututmu kampung ibuku
Kenapa indahmu dari dahulu tak habis-habis jadi rinduku
kepada Merapi berkata aku
Wahai gunung masa bayiku di telapakmu kampung ayahku
Kenapa gagahmu dari dahulu tak habis-habis dari ingatanku
Kedua gunung tentu saja
Cuaca dingin bahasanya
Kabut putih kosa katanya
Rintik hujan ungkapnnya
Senyap biru bisikannya
Kepada dua gunung kuulang tanya
Berjawab lewat desahan jutaan daun rimba raya
Bergema begitu indahnya lewat margasatwa
Ombak nyanyian insekta betapa merdunya
Bertanyalah pada Yang Di Atas Sana

( Idul Adha, Senin, 8 Desember 2008. Nagari Aie Angek, di seberang Nagari Pandai Sikek)

Decak kagum keluar dari bibirku saat membaca puisi karya sang maestro Taufik Ismail yang terpampang di dinding luar sebuah ruangan di kompleks Rumah Puisi.
Sampai detik ini aku masih mengagumi sosok Taufik Ismail dengan mahakaryanya yang membuatku merinding ketika membacanya. Karena alasan itu pula aku menyempatkan diri untuk singgah ke Rumah Puisi Taufik Ismail, padahal sudah setahun lebih bangunan itu berdiri, namun baru kali ini aku bisa menapakinya.

Rumah Puisi ini terletak di Jl. Raya Padangpanjang-Bukittinggi, Km. 6, Nagari Aie Angek Kec. X Koto, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat, tepatnya di kaki gunung Merapi, berseberangan dengan daerahku yaitu Nagari Pandai Sikek yang terletak di kaki gunung Singgalang. Jaraknya cukup dekat dari tempat aku tinggal, sekitar limabelas menit perjalanan dengan kendaraan. Berada si sana kita akan di suguhi pemandangan indah dari kedua lereng gunung, Sejauh mata memandang terlhat hamparan sawah dan ladang yang luas.Selain bisa menikmati puisi dan
karya sastra, di sini kita juga di suguhi pemandangan alam yang memikat. Serta taman bunga yang indah terbentang di halamannya, menggelitik mata siapa saja yang memandang.

Ketika aku berkunjung, tak satupun pengunjung lain yang datang. pengunjung hanya kami berdua yaitu aku dan Nina. Selebihnya para karyawan yang bertugas menjaga dan merawat lingkungan Rumah Puisi, serta terdapat beberapa orang pekerja bangunan yang sibuk menyelesaikan pembangunan komplek tersebut. Memang kawasan itu belum selesai seratus persen, masih ada beberapa bangunan yang masih berada dalam proses penyelesaian. Namun gedung utamanya telah lebih dulu siap dan dapat dikunjungi. Sebuah ruangan yang lumayan besar, di dalamnya terdapat aula, ruang baca, dan perpustakaan koleksi karya Taufik Ismail serta koleksi buku sastra lainnya. Namun sayang aku tidak dapat masuk ke dalam untuk membaca koleksi buku di sana. Aku nggak tau kenapa hari ini Rumah puisi tutup, padahal bukan hari libur. Tapi it's ok, toh aku masih bisa menikmatinya dari luar, mungkin rumah puisi menginginkan aku berulang kali mengunjunginya. Yeah, next time I'll be there. I love this place.



Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

2015/04/04

Takut, Sang Pemersatu

Pada mulanya kita menyangka bahwa rasa takut merupakan naluri mendasar sang mangsa. Soiapa saja, sepanjang dalam dirinya bersemayam jiwa mangsa, maka rasa takut menjadi kesimpulan atas rangkaian hari-hari kehidupannya. Pemangsa dari rasa takut salah adalah mustahil-yang menerornya dengan pesimisme yang sadis. Lalu, di tengah kehidupan sang mangsa, rasa takut yang menggayutinya adalah takut gagal. Pemangsa segera menghadangnya dengan kegamangan-bertubu-tubi virus yang menyerang adalah disorientasi kerja. Akhirnya, mangsa benar-benar menemui hal yang ditakutinya, yaitu kenyataan yang telah ditakutinya sejak awal: salah dan gagal. Para pemangsa pun-mustahil, kegamangan, dan disorientasi-bersorak sorai meyakinkan keberhasilan mereka menaklukkan sang mangsa.

Tetapi, ternyata, rasa takut juga dimiliki oleh para pemangsa. Mustahil, misalnya, sangat takut kepada orang-orang yang tak pernah takut untuk berbuat salah ketika memulai sesuati. Orang ini ditakuti sang pemangsa karena optimisme yang dimilikinya tak mempan diteror oleh segala bentuk pesimisme. Ia juga menyebabkan tumbuhnya rasa takut pada diri-kegamangan, yang siap membantinya denga disorientasi tetapi rasa mantap dan fokus calon mangsa telah menbuyarkannya. Para pemangsa tak mampu berbuat apa-apa selain membiarkan orang itu merayakan keberhasilan paling hakiki dalam hidupnya, yaitu menjadi orang yang bebas dari mangsa siapapun.

Tentu ssaja, para mangsa bisa bangkit untuk keluar dari daftar korban para pemangsa. Ia bisa memulainya dengan bertarung melawan rasa takut salah, membunuh kegamangan, dan mendepak disorientasi . Apalagi ketika para mangsa tahu bahwa ternyata para pemangsa  juga punya rasa takut. Mereka akan bangkit dan mulai melakukan perlawanan dengan belajar dari kesalahan, berlatih untuk fokus dan mantap, dan mensyukuri setiap hasil akhir dengan bergairah dalam memperbaiki persentase gagal-berhasilny

Nah, jika rasa takut bisa menjadi pemersatu antara mangsa  dan pemangsa, sudah saatnya  mustahil, gamang, dan disorientasi dianggap sebagai makhluk biasa. Artinya, mangsa bisa berdampingan dengan pemangsa, tanpa saling menganggap istimewa.

Muhammad Yulius. Catcil. Annida No.7/XVI/ 15 Maret - 15 April 2007.

2011/08/20

Negeri Van Oranje

Membaca novel ini, membuat saya seperti di ajak berkeliling Belanda. Deskripsinya sangat detil menjelaskan seluk-beluk negeri Belanda, mulai dari kehidupan dan budaya masyarakat disana sampai pada tempat-tempat  eksotis ala Eropa. Membacanya saja sudah membuat saya larut dalam keindahan  negeri kincir angin ini, apalagi jika benar-benar berada di sana, gak kebayang gimana rasanya. Novel yang dikemas dengan gaya lincah, kocak, dan menyentuh emosi ini, membuat saya benar-benar ingin menginjakkan kaki di benua Eropa

Diceritakan tentang lima orang mahasiswa S2 asal indonesia yang tidak sengaja bertemu di sebuah stasiun kereta,  bernama Amersfort.  Pertemuan dramatis yang tanpa disadari akan membelokkan jalah hidup mereka. Berkat badai, kretek, dan takdir, terbentuklah sebuah geng yang dijuluki Aagaban alias Aliansi Amersrfort GAra-gara Badai di Netherlands. Berangotakan Lintang, Gery, Daus, Wicak, dan Banjar. Keberadaan Lintang yang satu-satunya perempuan, membawa cerita seru dan menarik di antara mereka. 

Suka duka kehidupan mahasiswa di negeri orang, dengan beasiswa terbatas, membuat mereka menyiasati segala hal agar tetap bisa menikmati keindahan dan kemewahan yang ditawarkan negara ini. Termasuk mencari tambahan euro dengan bekerja sambilan, seperti yang banyak dilakukan oleh mahasiswa Eropa. Belum lagi culture shock yang dihadapi, karena banyak perbedaan budaya sehari-hari antara Indonesia dengan Belanda. Termasuk perjuangan super keras untuk dapat manamatkan pendidikan dengan nilai yang tidak memalukan.

Konflik pun kemudian timbul dalam persahabatan mereka. Para pria anggota geng Aagaban keculai Gery, ternyata menaruh hati pada Lintang. Diam-diam tanpa sepengetahuan yang lain, masing-masing dari mereka mengeluarkan jurus jitu untuk mendapatkan perhatian Lintang. Apalagi setelah Lintang putus dengan kekasih bulenya, Jeroen. Mereka pun mencari akal agar bisa berduaan saja dengan Lintang, tanpa sahabat yang lain. Lintang sama sekali tidak menyadari perasaan rekan-rekannya ini. Hanya Gery yang menyita perhatian Lintang sepanjang waktu. Gery, sosok pria flamboyan dan baik hati, idaman semua wanita, termasuk Lintang.

Impian Lintang kandas untuk mendapatkan cinta Gery setelah dia menyaksikan Gery berciuman mesra dengan seorang laki-laki di apartemennya. Ternyata Gery seorang gay. Gery tak pernah coming out pada para sahabatnya ini tentang orientasi seksualnya sebelum kejadian itu. Namun hal ini, tidak merusak persahabatan mereka. Seorang sahabat harus dapat menerima bagaimanapun keadaan sahabatnya.

Setelah menjalani proses perkuliahan yang berliku, menyelesaikan tesis yang menyita waktu dan tenaga, dan mendapatkan gelar di bidang masing-masing, akhirnya mereka memutuskan untuk berwisata menjelajahi eropa sebelum kembali ke Indonesia. Para sahabat ini , minus Gery ( Gery sudah sering keliling Eropa karena sudah di belanda sejak kuliah s1 ) kemuadian mengadakan perjalanan ke beberapa negara di benua Eropa.

 Perjalanan ala Eurotrip ini ternyata membuahkan suatu peristiwa penting yang akhirnya menentukan takdir mereka.

“ Lintang... I love you when you smile. I love you when you yell. I love you when you cry. I even love you when you’re drunk. All I know...is that I love you “

Wicak, the lucky guy yang berhasil mengutarakan perasaannya pada Lintang. Di saat itu, Lintang tak sekadar melihat wajah seorang sahabat saat memandang pria yang bicara padanya.

Pada akhirnya , mereka menemukan kebahagian masing-masing. Banjar sukses mendirikan sebuah perusahaan sendiri, Daus didapuk menjadi salah seorang juru bicara Istana Kepresidenan, Wicak bekerja di LSM internasional di Barcelona, Lintang menjadi diplomat di Depertemen Luar Negeri, dan Gery menjabat sebagai marketing manager di kantor pusat Philllips. Setelah menyelesika studi di Belanda, mereka kembali bertemu dalam sebuah acara spesial. Pernikahan Lintang dengan Wicak.

Selain berkisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga berbagi tip bertahan hidup di Eropa. Sungguh kisah yang sanagt inspiratif. Membuat saya makin termotivasi untuk bisa menyenyam pendidikan di Eropa, atau setidaknya menginjakkan kaki di benua Eopa.

Novel ini ditulis keroyokan oleh empat orang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda. Mereka adalah Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Perdana. Mereka sukses membuat impian saya makin menggeliat dalam diri ini.

2011/01/31

Limpapeh Bridge

Japanese Tunnel

2011/01/20

Sianok Ravine

Campus on the Street

2011/01/19

Running to the Beach

Pantai Padang tetap menggoda.

Bangkiray on the Mount

Bankiray, begitulah orang-orang di sekitar sini menyebutnya, tempat ini berada di lereng gunung Singgalang. Dari ketinggian ini kita dapat memanjakan mata dengan menyaksikan paparan danau Singkarak dari kejauhan.

2010/04/25

Ngarai Sianok






Berulang kali aku menginjakkan kaki dan menikmati pemandangan alam di panorama Ngarai Sianok ini. Namun mataku tak pernah bosan menatap dan merasakan batapa indahnya relief alam yang tercipta. Lembah di kaki Gunung Singgalang ini memberikan kesan seolah-olah ada daratan yang amblas ke bumi, sehingga menciptakan guratan lembah sepeti palung laut. Tidak salah memang , jika ada beberapa orang yang mengatakan Ngarai Sianok sebagai Grand Canyon-nya Indonesia. Jadi bangga nih aku sebagai orang Minang yang memiliki tempat pariwisata sehebat ini. Beberapa hari yang lalu aku menyempatkan diri cuci mata di daerah panorama Bukittinggi bersama Nina dan Anggun. Daripada bengong di rumah mending kita jalan-jalan, jaraknya juga eggak terlalu jauh dari rumah, sekitar setengah jam perjalanan dengan kendaraan.

Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi dengan Kecamataan IV Koto, Kabupaten Agam, Sematera Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai di Ngarai Sianok Enam Suku, dan berakhir sampai Palupuh. Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang indah dan menjadi salah satu objek wisata utama provinsi.

Jurang ini dalamnya sekitar 100 m membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan Pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang. Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau - hasil dari gerakan turun kulit bumi yang dialiri oleh sungai yang bernama Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman kolonial Belanda jurang ini disebut juga sebagai kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai.

Pokoknya eggak bakal nyesal dech pergi ke sana, tapi hati-hati sama monyet yang berkeliaran, jangan sampai kamu dikira sodaranya.

Btw, hasi jepretanku bagus nggak? Secara masih amatir dan aku masih menggunakan pocket cam.
razzbrossekakashi

2010/04/19

Rumah Puisi Taufiq Ismail







Taufik Ismail

DUA GUNUNG KEPADAKU BICARA

Kepada Singgalang bertanya aku
Wahai gunung masa kanakku di lututmu kampung ibuku
Kenapa indahmu dari dahulu tak habis-habis jadi rinduku
kepada Merapi berkata aku
Wahai gunung masa bayiku di telapakmu kampung ayahku
Kenapa gagahmu dari dahulu tak habis-habis dari ingatanku
Kedua gunung tentu saja
Cuaca dingin bahasanya
Kabut putih kosa katanya
Rintik hujan ungkapnnya
Senyap biru bisikannya
Kepada dua gunung kuulang tanya
Berjawab lewat desahan jutaan daun rimba raya
Bergema begitu indahnya lewat margasatwa
Ombak nyanyian insekta betapa merdunya
Bertanyalah pada Yang Di Atas Sana

( Idul Adha, Senin, 8 Desember 2008. Nagari Aie Angek, di seberang Nagari Pandai Sikek)

Decak kagum keluar dari bibirku saat membaca puisi karya sang maestro Taufik Ismail yang terpampang di dinding luar sebuah ruangan di kompleks Rumah Puisi.
Sampai detik ini aku masih mengagumi sosok Taufik Ismail dengan mahakaryanya yang membuatku merinding ketika membacanya. Karena alasan itu pula aku menyempatkan diri untuk singgah ke Rumah Puisi Taufik Ismail, padahal sudah setahun lebih bangunan itu berdiri, namun baru kali ini aku bisa menapakinya.

Rumah Puisi ini terletak di Jl. Raya Padangpanjang-Bukittinggi, Km. 6, Nagari Aie Angek Kec. X Koto, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat, tepatnya di kaki gunung Merapi, berseberangan dengan daerahku yaitu Nagari Pandai Sikek yang terletak di kaki gunung Singgalang. Jaraknya cukup dekat dari tempat aku tinggal, sekitar limabelas menit perjalanan dengan kendaraan. Berada si sana kita akan di suguhi pemandangan indah dari kedua lereng gunung, Sejauh mata memandang terlhat hamparan sawah dan ladang yang luas.Selain bisa menikmati puisi dan
karya sastra, di sini kita juga di suguhi pemandangan alam yang memikat. Serta taman bunga yang indah terbentang di halamannya, menggelitik mata siapa saja yang memandang.

Ketika aku berkunjung, tak satupun pengunjung lain yang datang. pengunjung hanya kami berdua yaitu aku dan Nina. Selebihnya para karyawan yang bertugas menjaga dan merawat lingkungan Rumah Puisi, serta terdapat beberapa orang pekerja bangunan yang sibuk menyelesaikan pembangunan komplek tersebut. Memang kawasan itu belum selesai seratus persen, masih ada beberapa bangunan yang masih berada dalam proses penyelesaian. Namun gedung utamanya telah lebih dulu siap dan dapat dikunjungi. Sebuah ruangan yang lumayan besar, di dalamnya terdapat aula, ruang baca, dan perpustakaan koleksi karya Taufik Ismail serta koleksi buku sastra lainnya. Namun sayang aku tidak dapat masuk ke dalam untuk membaca koleksi buku di sana. Aku nggak tau kenapa hari ini Rumah puisi tutup, padahal bukan hari libur. Tapi it's ok, toh aku masih bisa menikmatinya dari luar, mungkin rumah puisi menginginkan aku berulang kali mengunjunginya. Yeah, next time I'll be there. I love this place.



Copyright @ Miscellaneous Thoughts | Floral Day theme designed by SimplyWP | Bloggerized by GirlyBlogger | Distributed by: best blogger template personal best blogger magazine theme | cheapest vpn for mac cheap vpn with open ports