Doa Panjang Sabar

Dalam berdoa, pada umumnya kita meminta hal-hal yang wujudnya berada di luar diri kita, tak cepat habis (kalaupun habis langsung kelihatan), dan dapat dinikmati kapan saja. Itulah mengapa kita lebih sering dan banyak meminta hal dengan spesifikasi yang ketat seperti rumah (yang bagus), mobil (yang keren), anak (yang ganteng/cantik), naik haji (yang mabrur), naik kelas (yang ranking), naik jabatan (yang tinggi), istri (yang cantik). Ternyata, tujuan doa kita pun untuk hal yang simple saja: memiliki dan menggunakannya.

Itulah alasan mengapa kita jarang meminta hal-hal yang justru berada di dalam diri kita dan langsung menentukan karakter diri kita. Salah satunya adalah kesabaran. Dalam Al-Quran, ada dua kalimat yang sama bunyinya tentang kesabaran, yaitu: Rabban afrigh alayna shabran...(Al-Baqarah ayat 250 dan Al-A’raf 126). Doa itu bermakna sama: kita memohon agar Allah menganugerahi kita kesabaran. Mengapa Allah mewajibkan kita agar memohon diberikan kesabaran? Karena ternyata sabar adalah potensi yang tidak diproduksi oleh jiwa kita. Seperti vitamin C, kesabaran harus diasup dari luar diri kita, dalam hal ini langsung dari Allah, karena Dia-lah pemilik kesabaran. Kita tak pernah sanggup memproduksi kesabaran, oeh karenanya kta sering mengeluh dan marah; kesabaranku sudah habis!

Persoalannya; kita tak pernah menyadari hal ini, karena doa kita sudah dikerangkeng oleh kepentingan-kepentingan sesaat yangh sangat materialistik. Doa-doa kita lebih sering berisi hitung-hitungan matematis yang mirip kalkulator. Padahal, seluruh isi doa itu sangat berpotensi menimbulkan masalah yang sumber solusinya adalah kesabaran. Jadi, marilah kita memulai untuk mengisi doa-doa kita juga menyertakan permintaan agar Allah menganugerahi kita kesabaran. Jadi, bukan cuma doa panjang rezeki yang kita panjatkan, tapi juga doa panjang sabar.

Muhammad Yulius. Catcil. Annida No.2/XVIII/Oktober 2008

Pori-Pori Jiwa

Dari mana datangnya seluruh kesadaran kita pada hari ini? Mungkin banyak dari kita yang tak begitu memikirkannya; bahwa kapasitas kesadaran dalam diri kita tidak datang secara ujug-ujug. Dia terbentuk oleh lalu lintas keluar masuknya informasi yang melewati pori-pori jiwa kita. Taruhlah, sepuluh tahun yang lalu, kesadaran kita tentang sesuatu berbobot dua kilogram-mungkin terdiri atas sedikit ilmu dan beberapa kebodohan. Namun, saat kita melewati sebuah peristiwa dan ikut merasakannya, volume kesadaran kita bertambah beratnya-mungkin disebabkan oleh masuknya sejumlah ilmu dan leuarnya beberapa kebodohan tersebut.

Jika kita memang memiliki pori-pori, tempat keluar masuknya informasi yang ikut membentuk kesadran kita, yang umumnya terdiri atas dua “makhluk”: ilmu dan kebodohan. Kedua makhluk ini bisa keluar (yang berarti memambah bobot keilmuan kita jika yang keluar itu kebodohan) dan bisa masuk (yang artinya memperberat kebodohan kita jika yang keluar itu ilmu). Keluarnya kebodohan, dalam konteks ini, tentu saja bukanlah karena kebodohan itu ditransfer-apalagi diregenerasikan—melainkan benar-benar lenyap seperti embun pagi yang ditimpa sinar matahari. Dan keluarnya ilmu bukan karena diamalkan kepada orang lain, melainkan justru karena tak pernah diamalkan sama sekali hingga dia pergi, seperti usia tua yang tak mungkin menjadi muda kembali.

Kita menyadari pori-pori jiwa mungkin sebagai rasa sensitif atau peka yang bekerja mencerap informasi saat kita melewati sebuah peristiwa-yang kemudian kita rasakan sebagai inspirasi, ide, gagasan, yang menambah ilmu dan “mendepak” kebodohan-kebodohan kita. Sayangnya, rasa sensitif lebih sering kita gunakan sebagai pertahanan untuk hal-hal yang berkenaan dengan ego-sentris kita.Hasilnya, kita lebih sering tersinggung daripada berpikir untuk bertindak lebih baik dan kreatif.

Muhammad Yulius. Catcil. Annida No.3/XVIII November 2008.

Takut, Sang Pemersatu

Pada mulanya kita menyangka bahwa rasa takut merupakan naluri mendasar sang mangsa. Soiapa saja, sepanjang dalam dirinya bersemayam jiwa mangsa, maka rasa takut menjadi kesimpulan atas rangkaian hari-hari kehidupannya. Pemangsa dari rasa takut salah adalah mustahil-yang menerornya dengan pesimisme yang sadis. Lalu, di tengah kehidupan sang mangsa, rasa takut yang menggayutinya adalah takut gagal. Pemangsa segera menghadangnya dengan kegamangan-bertubu-tubi virus yang menyerang adalah disorientasi kerja. Akhirnya, mangsa benar-benar menemui hal yang ditakutinya, yaitu kenyataan yang telah ditakutinya sejak awal: salah dan gagal. Para pemangsa pun-mustahil, kegamangan, dan disorientasi-bersorak sorai meyakinkan keberhasilan mereka menaklukkan sang mangsa.

Tetapi, ternyata, rasa takut juga dimiliki oleh para pemangsa. Mustahil, misalnya, sangat takut kepada orang-orang yang tak pernah takut untuk berbuat salah ketika memulai sesuati. Orang ini ditakuti sang pemangsa karena optimisme yang dimilikinya tak mempan diteror oleh segala bentuk pesimisme. Ia juga menyebabkan tumbuhnya rasa takut pada diri-kegamangan, yang siap membantinya denga disorientasi tetapi rasa mantap dan fokus calon mangsa telah menbuyarkannya. Para pemangsa tak mampu berbuat apa-apa selain membiarkan orang itu merayakan keberhasilan paling hakiki dalam hidupnya, yaitu menjadi orang yang bebas dari mangsa siapapun.

Tentu ssaja, para mangsa bisa bangkit untuk keluar dari daftar korban para pemangsa. Ia bisa memulainya dengan bertarung melawan rasa takut salah, membunuh kegamangan, dan mendepak disorientasi . Apalagi ketika para mangsa tahu bahwa ternyata para pemangsa  juga punya rasa takut. Mereka akan bangkit dan mulai melakukan perlawanan dengan belajar dari kesalahan, berlatih untuk fokus dan mantap, dan mensyukuri setiap hasil akhir dengan bergairah dalam memperbaiki persentase gagal-berhasilny

Nah, jika rasa takut bisa menjadi pemersatu antara mangsa  dan pemangsa, sudah saatnya  mustahil, gamang, dan disorientasi dianggap sebagai makhluk biasa. Artinya, mangsa bisa berdampingan dengan pemangsa, tanpa saling menganggap istimewa.

Muhammad Yulius. Catcil. Annida No.7/XVI/ 15 Maret - 15 April 2007.

Rasa Memiliki

Tanpa sepotong pun bukti keterlibatan kita dalam proses penciptaan alam raya dan isinya ini, dapatkah kita mengklaim bahwa kita berhak memiliki sesuati yang berada di dalamnya? Tentu tidak. Tetapi, keperluan memuliakan manusia, Allah menciptakan rasa memiliki dalam diri kita. Tentu saja, rasa memiliki tidak sama dengan memiliki-yang kemudian dikonotasikan sebagai menguasai, mengatur, mengendalikan. Oleh karena itu, rasa memiliki bersifat fana; seperti makhluk hidup, ia dapat tumbuh, berkembang, atau bisa juga mati-baik secara perlahan-lahan maupun mendadak.

Rasa memiliki yang tumbuh dengan baik, dapat mengiriang kita untuk menyadari bahwa dalam konteks kita, memiliki adalah sekedar rasa, alih-alih, atau bahkan artifisial. Secara alamiah, kita merasakan buktinya melalui peristiwa yang mengharuskan kita berpisah untuk selama-lamanya dengan makhluk yang kita beri rasa untuk memilikinya, misalnya kematian orang tua. Sekeras apapun isak tangis kita, hal itu tidak dapat mengubah fakta bahwa kita harus berpisah dengan orang tua-dengan fakta lanjutan bahwa kematian orang tua menandakan bahwa ia bukan milik kita. 

Sebaliknya jika rasa memiliki mati secara diam-diam, kita akan merasakan bahwa kita tidak memilki siapapun, termasuk diri kita sendiri. Kita tidak memiliki ibu, bapak, adik, teman, saudara, karena rasa memilki terhadap mereka tak pernah kita pupuk untuk tumbuh dengan subur. Bahkan, rasa memiliki terhadap diri sendiri pelan-pelan menjelma menjadi keinginan untuk menghancurkan apa saja tentang diri kita. Itulah alasan mengapa ada orang yang rela menghancurkan dirinya sendiri dengan narkoba.

Pada akhirnya, rasa memiliki adalah jembatan yang menghubungkan antara diri kita dengan begitu banyak bukti kekuasaan Tuhan. Kitab dan bukti-bukti kekuasaan-Nya itu dihubungkan untuk saling menguatkan posisi masing-masing sebagai simbol kehebatan-Nya. So, kita akhirnya mahfum bahwa tanpa rasa memiliki, kita tak akan pernah menyadari bahwa untuk sekadar merasa kehilangan saja, kita membutuhkan pertolongan-Nya--karena seperti juga rasa memiliki, rasa kehilang adalah anugerah-Nya.

Muhammad Yuliaus. Catcil. Annida No.4/XVII Desember 2007.

Yang Aku Tahu Allah Bersamaku

Nuh bersipayah membuat kapal di puncak bukit tentu saja harus menahan geram ketika ditertawai, diganggu, dan dirusuh oleh kaumnya. Tetapi, sesudah hampir lima ratus tahun mengemban risalah dengan pengikut yang nyaris tak bertambah, nuh berkata dengan bijak, dengan cinta. “Kelak kami akan menertawai kalian sebagaimana kalian menertawai kami kini.

Ya, Nuh belum tahu bahwa kemudian banjir akan tumpah. Tercurah dari celah langit, terpancar dari rengkah bumi. Air meluap dari tungkunya orang membuat roti dan mengepung setinggi gunung. Nuh belum tahu. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya.

Ibrahim yang bermimpi, dia juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putra tercinta. Anak itu, yang lama dirindukannya, yang dia nanti dengan harap dan mata gerimis di tiap doa, tiba-tiba dititahkan untuk dipisahkan dari dirinya. Dulu ketika lahir dia dipisahkan dengan ditinggal di lembah Bakkah yang tak bertanaman, tak berhewan, tak bertuan. Kini Ismail harus dibunuh. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh tangannya sendiri.

Dibaringkan sang putra yang pasrah dalam taqwa. Dan ayah mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayau leher sang putera dengan pisau? Ayah mana yang sanggup mengalirkan darah di bawah kepala yang biasa dibelainya sambil tetap menatap wajahnya? Tidak. Ibrahim terpejam. Dan dia melakukannya! Ia melakukannya meski belum tahu bahwa seekor domba besar akan menggantikan sang korban. Yang diketahuinya saat itu bahwa dia diperintah Tuhannya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya.

Musa juga menemukan jalan buntu, terantuk Laut Merah dalam kejaran Firaun. Bani Israil yang dipimpinnya sudah riuh tercekam panik. “Kita pasti tersusul!”, kata mereka. “Tidak!”, seru Musa. “Sekali-kali tidak akan tersusul! Sesungguhnya Rabbku bersamaku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Petunjuk itu pun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata.”Apa gunanya? Lebih baik dipikulkan ke kepala Firaun!” Ya, bahkan Musa pun belum tahu bahwa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. Dan itu cukup baginya.

Merekalah para guru sejati. Yang kisahnya membuat punggung kita tegak, dada kita lapang, dan hati berseri-seri. Yang keteguhannya memancar memerangi. Yang keagungannya lahir dari iman yang kukuh, bergerun mengatasi gejolak hati dan nafsu diri. Di jalan cinta para pejuang iman melahirkan keajaiban., lalu keajaiban menguatkan iman. Semua itu terasa lebih indah karena terjadi dalam kejutan-kejutan. Yang kita tahu hanyalah, “ Allah bersamaku, Ia akan memberi petunjuk kepadaku.”

Nuh belum tahu bahwa banjir nanti tumpah ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai.
Ibarahim belum tahu bahwa akan tercawis domba ketika pisaunya nyaris memapas buah hatinya.
Musa belum tahu bahwa lautan akan terbelah saat ia diperintahkan memukulkan tongkat.
Di Badar Muhammad berkata, bahunya terguncang isak. “ Andai pasukan ini kalah, Kau tak lagi disembah!”

Dan kita pun belajar, alangkah agungnya iman.   

Jalan Cinta Para Pejuang. Salim A. Fillah

Membendung Abrasi

Tiap detik dalam waktu kita , laut tak pernah henti mengirimkan ombaknya ke tepi pantai. Siapa yang bisa menghentikannya? Tiada kecuali Tuhan. Maka yang kita terima dari ketiadaan itu adalah abrasi, pengikisan yang berlangsung secara perlahan namun pasti. Daratan kita lenyap dalam diam. Gerusan ombak itu menghasilkan ekspansi kekuatan lautan atas daratan, tak terhitung rembesan garamnya yang telah mengasinkan air tanah dengan radius yang jauh. Kita hanya ternganga, dan tak ada yang bisa kita perbuat, kecuali menerimanya sebagai peristiwa alamiah saja.

Inilah ibarat yang bisa kita pakai untuk memaknai betapa kuasanya media syahwat itu atas daratan kesadaran hidup kita. Mereka menggempur tiap detik dalam waktu kita, lewat pojok gelap keseharian kita; VCD; tabloid, situs, majalah, film... lalu apa yang kita terima dari ketiadahentian itu, juga adalah abrasi, pengikisan moralitas yang berlangsung secara perlahan tapi pasti. Daratan kesadaran kita bergeser dalam diam, dalam kontroversi , dalam kemunafikan, dalam taubat yang lambat. Gerusan media syahwat itu menghasilkan ekspansi kekuatan kejahatan kapitalistik yang terencana atas kebaikan yang daif dan compang-camping, tak terhitung rembesan pengaruhnya yang telah menumbangkan tunas-tunas muda dalam pusaran mahadahsyat lost generation, dalam radius gapai yang makin jauh; bahkan anak-anak usia SD telah fasih mempertontonkan adegan birahi dalam cadel mulutnya, kemayu gaya, dan kegiatan seks "kecil-kecilan" mereka.

Nah, siapakah yang dapat menghentikan laju gerusan yang tak terbendung ini?Mestinya kita semua, jika mengingat bahwa membendung abrasi adalah tindakan yang sama sejatinya dengan perang hak-batil yang baru berakhir setelah kehidupan di dunia ini dibubarkan. Kebaikan harus menjadi kekuatan kapitalistik terencana, dalam arti ia dibiayaidan dipikirkan secara profesional. tanpa begitu, akan makin banyak orang yang menjadi hancur dalam diam, dan makin sedikit orang yang menjadibaik-dalam kelelahan berjibaku dengan gerusan abrasi lautan kejahatan.

Iyus. Catcil. Annida No.7/XV/15 Maret - 15 April 2006.

Negeri Van Oranje

Membaca novel ini, membuat saya seperti di ajak berkeliling Belanda. Deskripsinya sangat detil menjelaskan seluk-beluk negeri Belanda, mulai dari kehidupan dan budaya masyarakat disana sampai pada tempat-tempat  eksotis ala Eropa. Membacanya saja sudah membuat saya larut dalam keindahan  negeri kincir angin ini, apalagi jika benar-benar berada di sana, gak kebayang gimana rasanya. Novel yang dikemas dengan gaya lincah, kocak, dan menyentuh emosi ini, membuat saya benar-benar ingin menginjakkan kaki di benua Eropa

Diceritakan tentang lima orang mahasiswa S2 asal indonesia yang tidak sengaja bertemu di sebuah stasiun kereta,  bernama Amersfort.  Pertemuan dramatis yang tanpa disadari akan membelokkan jalah hidup mereka. Berkat badai, kretek, dan takdir, terbentuklah sebuah geng yang dijuluki Aagaban alias Aliansi Amersrfort GAra-gara Badai di Netherlands. Berangotakan Lintang, Gery, Daus, Wicak, dan Banjar. Keberadaan Lintang yang satu-satunya perempuan, membawa cerita seru dan menarik di antara mereka. 

Suka duka kehidupan mahasiswa di negeri orang, dengan beasiswa terbatas, membuat mereka menyiasati segala hal agar tetap bisa menikmati keindahan dan kemewahan yang ditawarkan negara ini. Termasuk mencari tambahan euro dengan bekerja sambilan, seperti yang banyak dilakukan oleh mahasiswa Eropa. Belum lagi culture shock yang dihadapi, karena banyak perbedaan budaya sehari-hari antara Indonesia dengan Belanda. Termasuk perjuangan super keras untuk dapat manamatkan pendidikan dengan nilai yang tidak memalukan.

Konflik pun kemudian timbul dalam persahabatan mereka. Para pria anggota geng Aagaban keculai Gery, ternyata menaruh hati pada Lintang. Diam-diam tanpa sepengetahuan yang lain, masing-masing dari mereka mengeluarkan jurus jitu untuk mendapatkan perhatian Lintang. Apalagi setelah Lintang putus dengan kekasih bulenya, Jeroen. Mereka pun mencari akal agar bisa berduaan saja dengan Lintang, tanpa sahabat yang lain. Lintang sama sekali tidak menyadari perasaan rekan-rekannya ini. Hanya Gery yang menyita perhatian Lintang sepanjang waktu. Gery, sosok pria flamboyan dan baik hati, idaman semua wanita, termasuk Lintang.

Impian Lintang kandas untuk mendapatkan cinta Gery setelah dia menyaksikan Gery berciuman mesra dengan seorang laki-laki di apartemennya. Ternyata Gery seorang gay. Gery tak pernah coming out pada para sahabatnya ini tentang orientasi seksualnya sebelum kejadian itu. Namun hal ini, tidak merusak persahabatan mereka. Seorang sahabat harus dapat menerima bagaimanapun keadaan sahabatnya.

Setelah menjalani proses perkuliahan yang berliku, menyelesaikan tesis yang menyita waktu dan tenaga, dan mendapatkan gelar di bidang masing-masing, akhirnya mereka memutuskan untuk berwisata menjelajahi eropa sebelum kembali ke Indonesia. Para sahabat ini , minus Gery ( Gery sudah sering keliling Eropa karena sudah di belanda sejak kuliah s1 ) kemuadian mengadakan perjalanan ke beberapa negara di benua Eropa.

 Perjalanan ala Eurotrip ini ternyata membuahkan suatu peristiwa penting yang akhirnya menentukan takdir mereka.

“ Lintang... I love you when you smile. I love you when you yell. I love you when you cry. I even love you when you’re drunk. All I know...is that I love you “

Wicak, the lucky guy yang berhasil mengutarakan perasaannya pada Lintang. Di saat itu, Lintang tak sekadar melihat wajah seorang sahabat saat memandang pria yang bicara padanya.

Pada akhirnya , mereka menemukan kebahagian masing-masing. Banjar sukses mendirikan sebuah perusahaan sendiri, Daus didapuk menjadi salah seorang juru bicara Istana Kepresidenan, Wicak bekerja di LSM internasional di Barcelona, Lintang menjadi diplomat di Depertemen Luar Negeri, dan Gery menjabat sebagai marketing manager di kantor pusat Philllips. Setelah menyelesika studi di Belanda, mereka kembali bertemu dalam sebuah acara spesial. Pernikahan Lintang dengan Wicak.

Selain berkisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga berbagi tip bertahan hidup di Eropa. Sungguh kisah yang sanagt inspiratif. Membuat saya makin termotivasi untuk bisa menyenyam pendidikan di Eropa, atau setidaknya menginjakkan kaki di benua Eopa.

Novel ini ditulis keroyokan oleh empat orang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda. Mereka adalah Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Perdana. Mereka sukses membuat impian saya makin menggeliat dalam diri ini.

Set Me Free

Hari ini, Indonesia merayakan kemerdekaanya yang ke 66. Sudah bertahun-tahun Indonesia merdeka dan bebas dari penjajah. Tiap kali merayakan dirgahayu Indonesia, saya selalu tergelitik dan bertanya-tanya tentang arti merdeka. Setidaknya kemerdekaan bagi diri saya sendiri.

Saya menggartikan merdeka itu sebagi sebuah kebebasan. Tanpa ada ikatan dan belenggu. Dari dulu saya merasa menjadi seseorang yang merdeka. Tak ada tuntutan yang mengekang langah saya dalam menjalani apapun keinginan saya. Orangtua saya bukanlah tipe orang tua yang diktator yang memaksakan kehendaknya. Juga bukan orang tua yang suka melarang keinginan anaknya. Itu yang saya suka dari orang tua saya, tidak banyak aturan. Selagi dalam batas norma,  lakukanlah apa yang kau mau. Rasa percaya mereka diletakkan di pundak saya. Tentu saja saya sangat menghargai kebebasan ini, segala tindakan dan keputusan yang saya ambil kelak akan saya pertanggungjawabkan kepada mereka.

The Lucky Key

Kejadian hari ini ­membuat saya benar-benar shock. Bagaimana mungkin saya dengan sembrononya meninggalkan kosan dalam keadaan siap untuk dimasuki siapa saja. Karena terburu-buru saya lupa mencabut kunci dari lubangnya. Padahal kemarain, teman sebelah kamar saya baru saja kemalingan karena meninggalkan pintu kamarnya dalam keadaan terbuka. Sebentar saja dia pergi ke dapur, tiba-tiba pas balik ke kamar, dia malah mendapati dompet dan handphone-nya lenyap. Tak seorang pun menyadari ada orang asing yang masuk ke area kosan, karena semua pada sibuk dengan aktivitas di kamar masing-masing. Kebangetan tu maling, bulan puasa masih sempat-sempatnya nyolong barang orang.

Jadi, siang ini saya berencana mau pergi menemui dosen pembimbing skripsi. Saya berangkat dengan semangat 45 meskipun di luar hujan mengguyur sangat lebat. Bahkan walau badai menghadang sekalipun, akan tetap saya tempuh demi segelintir perjuangan untuk masa depan ini. Cieleee!! ( efek 17 agustusan cin )

Menyingkap Kebohongan Lewat Bahasa Tubuh

Hampir setiap orang pernah berbohong, baik disadari maupun tidak, direncanakan maupun spontan. Pada saat tertentu mungkin seseorang mencurigai Anda bahwa Anda sedang berbohong. Atau sebaliknya, Anda curiga bahwa orang itulah yang sedang berbohong. Masalahnya, tahukan Anda kalau dia benar – benar berbohong?

Sebenarnya, tidaklah sulit untuk mengetahui apakah lawan bicara Anda sedang berbohong atau tidak. Bahasa tubuh, secara spontan dan sering tidak disadari, akan membeberkan kebohongan tersebut. Hal ini terjadi karena orang yang sedang berbohong lebih memerhatikan ucapannya dari pada apa yang terjadi pada tubuhnya.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Desmond Morris menyimpulkan bahwa Anda tidak dapat memalsukan bahasa tubuh. Akan tetapi, bukan tidak mungkin, orang yang pekerjaannya berbohong bisa mempelajari bahasa tubuh sehingga bisa memanipulasinya. Menangkap sinyal kebohongan dari orang seperti itu memang sedikit sulit.

Namun, sepintar-pintar menyembunyikan kebohongan , pastilah ada isyarat tubuh yang lepas kontrolnya karena otak memiliki sistem pengaman yang akan diteruskan apabila menerima pesan non verbal yang tidak selaras. Dalam hal ini, wajah merupakan bagian tubuh yang paling sering menunjukkan sinyal kebohongan.

2015/04/07

Doa Panjang Sabar

Dalam berdoa, pada umumnya kita meminta hal-hal yang wujudnya berada di luar diri kita, tak cepat habis (kalaupun habis langsung kelihatan), dan dapat dinikmati kapan saja. Itulah mengapa kita lebih sering dan banyak meminta hal dengan spesifikasi yang ketat seperti rumah (yang bagus), mobil (yang keren), anak (yang ganteng/cantik), naik haji (yang mabrur), naik kelas (yang ranking), naik jabatan (yang tinggi), istri (yang cantik). Ternyata, tujuan doa kita pun untuk hal yang simple saja: memiliki dan menggunakannya.

Itulah alasan mengapa kita jarang meminta hal-hal yang justru berada di dalam diri kita dan langsung menentukan karakter diri kita. Salah satunya adalah kesabaran. Dalam Al-Quran, ada dua kalimat yang sama bunyinya tentang kesabaran, yaitu: Rabban afrigh alayna shabran...(Al-Baqarah ayat 250 dan Al-A’raf 126). Doa itu bermakna sama: kita memohon agar Allah menganugerahi kita kesabaran. Mengapa Allah mewajibkan kita agar memohon diberikan kesabaran? Karena ternyata sabar adalah potensi yang tidak diproduksi oleh jiwa kita. Seperti vitamin C, kesabaran harus diasup dari luar diri kita, dalam hal ini langsung dari Allah, karena Dia-lah pemilik kesabaran. Kita tak pernah sanggup memproduksi kesabaran, oeh karenanya kta sering mengeluh dan marah; kesabaranku sudah habis!

Persoalannya; kita tak pernah menyadari hal ini, karena doa kita sudah dikerangkeng oleh kepentingan-kepentingan sesaat yangh sangat materialistik. Doa-doa kita lebih sering berisi hitung-hitungan matematis yang mirip kalkulator. Padahal, seluruh isi doa itu sangat berpotensi menimbulkan masalah yang sumber solusinya adalah kesabaran. Jadi, marilah kita memulai untuk mengisi doa-doa kita juga menyertakan permintaan agar Allah menganugerahi kita kesabaran. Jadi, bukan cuma doa panjang rezeki yang kita panjatkan, tapi juga doa panjang sabar.

Muhammad Yulius. Catcil. Annida No.2/XVIII/Oktober 2008

Pori-Pori Jiwa

Dari mana datangnya seluruh kesadaran kita pada hari ini? Mungkin banyak dari kita yang tak begitu memikirkannya; bahwa kapasitas kesadaran dalam diri kita tidak datang secara ujug-ujug. Dia terbentuk oleh lalu lintas keluar masuknya informasi yang melewati pori-pori jiwa kita. Taruhlah, sepuluh tahun yang lalu, kesadaran kita tentang sesuatu berbobot dua kilogram-mungkin terdiri atas sedikit ilmu dan beberapa kebodohan. Namun, saat kita melewati sebuah peristiwa dan ikut merasakannya, volume kesadaran kita bertambah beratnya-mungkin disebabkan oleh masuknya sejumlah ilmu dan leuarnya beberapa kebodohan tersebut.

Jika kita memang memiliki pori-pori, tempat keluar masuknya informasi yang ikut membentuk kesadran kita, yang umumnya terdiri atas dua “makhluk”: ilmu dan kebodohan. Kedua makhluk ini bisa keluar (yang berarti memambah bobot keilmuan kita jika yang keluar itu kebodohan) dan bisa masuk (yang artinya memperberat kebodohan kita jika yang keluar itu ilmu). Keluarnya kebodohan, dalam konteks ini, tentu saja bukanlah karena kebodohan itu ditransfer-apalagi diregenerasikan—melainkan benar-benar lenyap seperti embun pagi yang ditimpa sinar matahari. Dan keluarnya ilmu bukan karena diamalkan kepada orang lain, melainkan justru karena tak pernah diamalkan sama sekali hingga dia pergi, seperti usia tua yang tak mungkin menjadi muda kembali.

Kita menyadari pori-pori jiwa mungkin sebagai rasa sensitif atau peka yang bekerja mencerap informasi saat kita melewati sebuah peristiwa-yang kemudian kita rasakan sebagai inspirasi, ide, gagasan, yang menambah ilmu dan “mendepak” kebodohan-kebodohan kita. Sayangnya, rasa sensitif lebih sering kita gunakan sebagai pertahanan untuk hal-hal yang berkenaan dengan ego-sentris kita.Hasilnya, kita lebih sering tersinggung daripada berpikir untuk bertindak lebih baik dan kreatif.

Muhammad Yulius. Catcil. Annida No.3/XVIII November 2008.

2015/04/04

Takut, Sang Pemersatu

Pada mulanya kita menyangka bahwa rasa takut merupakan naluri mendasar sang mangsa. Soiapa saja, sepanjang dalam dirinya bersemayam jiwa mangsa, maka rasa takut menjadi kesimpulan atas rangkaian hari-hari kehidupannya. Pemangsa dari rasa takut salah adalah mustahil-yang menerornya dengan pesimisme yang sadis. Lalu, di tengah kehidupan sang mangsa, rasa takut yang menggayutinya adalah takut gagal. Pemangsa segera menghadangnya dengan kegamangan-bertubu-tubi virus yang menyerang adalah disorientasi kerja. Akhirnya, mangsa benar-benar menemui hal yang ditakutinya, yaitu kenyataan yang telah ditakutinya sejak awal: salah dan gagal. Para pemangsa pun-mustahil, kegamangan, dan disorientasi-bersorak sorai meyakinkan keberhasilan mereka menaklukkan sang mangsa.

Tetapi, ternyata, rasa takut juga dimiliki oleh para pemangsa. Mustahil, misalnya, sangat takut kepada orang-orang yang tak pernah takut untuk berbuat salah ketika memulai sesuati. Orang ini ditakuti sang pemangsa karena optimisme yang dimilikinya tak mempan diteror oleh segala bentuk pesimisme. Ia juga menyebabkan tumbuhnya rasa takut pada diri-kegamangan, yang siap membantinya denga disorientasi tetapi rasa mantap dan fokus calon mangsa telah menbuyarkannya. Para pemangsa tak mampu berbuat apa-apa selain membiarkan orang itu merayakan keberhasilan paling hakiki dalam hidupnya, yaitu menjadi orang yang bebas dari mangsa siapapun.

Tentu ssaja, para mangsa bisa bangkit untuk keluar dari daftar korban para pemangsa. Ia bisa memulainya dengan bertarung melawan rasa takut salah, membunuh kegamangan, dan mendepak disorientasi . Apalagi ketika para mangsa tahu bahwa ternyata para pemangsa  juga punya rasa takut. Mereka akan bangkit dan mulai melakukan perlawanan dengan belajar dari kesalahan, berlatih untuk fokus dan mantap, dan mensyukuri setiap hasil akhir dengan bergairah dalam memperbaiki persentase gagal-berhasilny

Nah, jika rasa takut bisa menjadi pemersatu antara mangsa  dan pemangsa, sudah saatnya  mustahil, gamang, dan disorientasi dianggap sebagai makhluk biasa. Artinya, mangsa bisa berdampingan dengan pemangsa, tanpa saling menganggap istimewa.

Muhammad Yulius. Catcil. Annida No.7/XVI/ 15 Maret - 15 April 2007.

2015/04/03

Rasa Memiliki

Tanpa sepotong pun bukti keterlibatan kita dalam proses penciptaan alam raya dan isinya ini, dapatkah kita mengklaim bahwa kita berhak memiliki sesuati yang berada di dalamnya? Tentu tidak. Tetapi, keperluan memuliakan manusia, Allah menciptakan rasa memiliki dalam diri kita. Tentu saja, rasa memiliki tidak sama dengan memiliki-yang kemudian dikonotasikan sebagai menguasai, mengatur, mengendalikan. Oleh karena itu, rasa memiliki bersifat fana; seperti makhluk hidup, ia dapat tumbuh, berkembang, atau bisa juga mati-baik secara perlahan-lahan maupun mendadak.

Rasa memiliki yang tumbuh dengan baik, dapat mengiriang kita untuk menyadari bahwa dalam konteks kita, memiliki adalah sekedar rasa, alih-alih, atau bahkan artifisial. Secara alamiah, kita merasakan buktinya melalui peristiwa yang mengharuskan kita berpisah untuk selama-lamanya dengan makhluk yang kita beri rasa untuk memilikinya, misalnya kematian orang tua. Sekeras apapun isak tangis kita, hal itu tidak dapat mengubah fakta bahwa kita harus berpisah dengan orang tua-dengan fakta lanjutan bahwa kematian orang tua menandakan bahwa ia bukan milik kita. 

Sebaliknya jika rasa memiliki mati secara diam-diam, kita akan merasakan bahwa kita tidak memilki siapapun, termasuk diri kita sendiri. Kita tidak memiliki ibu, bapak, adik, teman, saudara, karena rasa memilki terhadap mereka tak pernah kita pupuk untuk tumbuh dengan subur. Bahkan, rasa memiliki terhadap diri sendiri pelan-pelan menjelma menjadi keinginan untuk menghancurkan apa saja tentang diri kita. Itulah alasan mengapa ada orang yang rela menghancurkan dirinya sendiri dengan narkoba.

Pada akhirnya, rasa memiliki adalah jembatan yang menghubungkan antara diri kita dengan begitu banyak bukti kekuasaan Tuhan. Kitab dan bukti-bukti kekuasaan-Nya itu dihubungkan untuk saling menguatkan posisi masing-masing sebagai simbol kehebatan-Nya. So, kita akhirnya mahfum bahwa tanpa rasa memiliki, kita tak akan pernah menyadari bahwa untuk sekadar merasa kehilangan saja, kita membutuhkan pertolongan-Nya--karena seperti juga rasa memiliki, rasa kehilang adalah anugerah-Nya.

Muhammad Yuliaus. Catcil. Annida No.4/XVII Desember 2007.

Yang Aku Tahu Allah Bersamaku

Nuh bersipayah membuat kapal di puncak bukit tentu saja harus menahan geram ketika ditertawai, diganggu, dan dirusuh oleh kaumnya. Tetapi, sesudah hampir lima ratus tahun mengemban risalah dengan pengikut yang nyaris tak bertambah, nuh berkata dengan bijak, dengan cinta. “Kelak kami akan menertawai kalian sebagaimana kalian menertawai kami kini.

Ya, Nuh belum tahu bahwa kemudian banjir akan tumpah. Tercurah dari celah langit, terpancar dari rengkah bumi. Air meluap dari tungkunya orang membuat roti dan mengepung setinggi gunung. Nuh belum tahu. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya.

Ibrahim yang bermimpi, dia juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putra tercinta. Anak itu, yang lama dirindukannya, yang dia nanti dengan harap dan mata gerimis di tiap doa, tiba-tiba dititahkan untuk dipisahkan dari dirinya. Dulu ketika lahir dia dipisahkan dengan ditinggal di lembah Bakkah yang tak bertanaman, tak berhewan, tak bertuan. Kini Ismail harus dibunuh. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh tangannya sendiri.

Dibaringkan sang putra yang pasrah dalam taqwa. Dan ayah mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayau leher sang putera dengan pisau? Ayah mana yang sanggup mengalirkan darah di bawah kepala yang biasa dibelainya sambil tetap menatap wajahnya? Tidak. Ibrahim terpejam. Dan dia melakukannya! Ia melakukannya meski belum tahu bahwa seekor domba besar akan menggantikan sang korban. Yang diketahuinya saat itu bahwa dia diperintah Tuhannya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya.

Musa juga menemukan jalan buntu, terantuk Laut Merah dalam kejaran Firaun. Bani Israil yang dipimpinnya sudah riuh tercekam panik. “Kita pasti tersusul!”, kata mereka. “Tidak!”, seru Musa. “Sekali-kali tidak akan tersusul! Sesungguhnya Rabbku bersamaku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Petunjuk itu pun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata.”Apa gunanya? Lebih baik dipikulkan ke kepala Firaun!” Ya, bahkan Musa pun belum tahu bahwa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. Dan itu cukup baginya.

Merekalah para guru sejati. Yang kisahnya membuat punggung kita tegak, dada kita lapang, dan hati berseri-seri. Yang keteguhannya memancar memerangi. Yang keagungannya lahir dari iman yang kukuh, bergerun mengatasi gejolak hati dan nafsu diri. Di jalan cinta para pejuang iman melahirkan keajaiban., lalu keajaiban menguatkan iman. Semua itu terasa lebih indah karena terjadi dalam kejutan-kejutan. Yang kita tahu hanyalah, “ Allah bersamaku, Ia akan memberi petunjuk kepadaku.”

Nuh belum tahu bahwa banjir nanti tumpah ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai.
Ibarahim belum tahu bahwa akan tercawis domba ketika pisaunya nyaris memapas buah hatinya.
Musa belum tahu bahwa lautan akan terbelah saat ia diperintahkan memukulkan tongkat.
Di Badar Muhammad berkata, bahunya terguncang isak. “ Andai pasukan ini kalah, Kau tak lagi disembah!”

Dan kita pun belajar, alangkah agungnya iman.   

Jalan Cinta Para Pejuang. Salim A. Fillah

Membendung Abrasi

Tiap detik dalam waktu kita , laut tak pernah henti mengirimkan ombaknya ke tepi pantai. Siapa yang bisa menghentikannya? Tiada kecuali Tuhan. Maka yang kita terima dari ketiadaan itu adalah abrasi, pengikisan yang berlangsung secara perlahan namun pasti. Daratan kita lenyap dalam diam. Gerusan ombak itu menghasilkan ekspansi kekuatan lautan atas daratan, tak terhitung rembesan garamnya yang telah mengasinkan air tanah dengan radius yang jauh. Kita hanya ternganga, dan tak ada yang bisa kita perbuat, kecuali menerimanya sebagai peristiwa alamiah saja.

Inilah ibarat yang bisa kita pakai untuk memaknai betapa kuasanya media syahwat itu atas daratan kesadaran hidup kita. Mereka menggempur tiap detik dalam waktu kita, lewat pojok gelap keseharian kita; VCD; tabloid, situs, majalah, film... lalu apa yang kita terima dari ketiadahentian itu, juga adalah abrasi, pengikisan moralitas yang berlangsung secara perlahan tapi pasti. Daratan kesadaran kita bergeser dalam diam, dalam kontroversi , dalam kemunafikan, dalam taubat yang lambat. Gerusan media syahwat itu menghasilkan ekspansi kekuatan kejahatan kapitalistik yang terencana atas kebaikan yang daif dan compang-camping, tak terhitung rembesan pengaruhnya yang telah menumbangkan tunas-tunas muda dalam pusaran mahadahsyat lost generation, dalam radius gapai yang makin jauh; bahkan anak-anak usia SD telah fasih mempertontonkan adegan birahi dalam cadel mulutnya, kemayu gaya, dan kegiatan seks "kecil-kecilan" mereka.

Nah, siapakah yang dapat menghentikan laju gerusan yang tak terbendung ini?Mestinya kita semua, jika mengingat bahwa membendung abrasi adalah tindakan yang sama sejatinya dengan perang hak-batil yang baru berakhir setelah kehidupan di dunia ini dibubarkan. Kebaikan harus menjadi kekuatan kapitalistik terencana, dalam arti ia dibiayaidan dipikirkan secara profesional. tanpa begitu, akan makin banyak orang yang menjadi hancur dalam diam, dan makin sedikit orang yang menjadibaik-dalam kelelahan berjibaku dengan gerusan abrasi lautan kejahatan.

Iyus. Catcil. Annida No.7/XV/15 Maret - 15 April 2006.

2011/08/20

Negeri Van Oranje

Membaca novel ini, membuat saya seperti di ajak berkeliling Belanda. Deskripsinya sangat detil menjelaskan seluk-beluk negeri Belanda, mulai dari kehidupan dan budaya masyarakat disana sampai pada tempat-tempat  eksotis ala Eropa. Membacanya saja sudah membuat saya larut dalam keindahan  negeri kincir angin ini, apalagi jika benar-benar berada di sana, gak kebayang gimana rasanya. Novel yang dikemas dengan gaya lincah, kocak, dan menyentuh emosi ini, membuat saya benar-benar ingin menginjakkan kaki di benua Eropa

Diceritakan tentang lima orang mahasiswa S2 asal indonesia yang tidak sengaja bertemu di sebuah stasiun kereta,  bernama Amersfort.  Pertemuan dramatis yang tanpa disadari akan membelokkan jalah hidup mereka. Berkat badai, kretek, dan takdir, terbentuklah sebuah geng yang dijuluki Aagaban alias Aliansi Amersrfort GAra-gara Badai di Netherlands. Berangotakan Lintang, Gery, Daus, Wicak, dan Banjar. Keberadaan Lintang yang satu-satunya perempuan, membawa cerita seru dan menarik di antara mereka. 

Suka duka kehidupan mahasiswa di negeri orang, dengan beasiswa terbatas, membuat mereka menyiasati segala hal agar tetap bisa menikmati keindahan dan kemewahan yang ditawarkan negara ini. Termasuk mencari tambahan euro dengan bekerja sambilan, seperti yang banyak dilakukan oleh mahasiswa Eropa. Belum lagi culture shock yang dihadapi, karena banyak perbedaan budaya sehari-hari antara Indonesia dengan Belanda. Termasuk perjuangan super keras untuk dapat manamatkan pendidikan dengan nilai yang tidak memalukan.

Konflik pun kemudian timbul dalam persahabatan mereka. Para pria anggota geng Aagaban keculai Gery, ternyata menaruh hati pada Lintang. Diam-diam tanpa sepengetahuan yang lain, masing-masing dari mereka mengeluarkan jurus jitu untuk mendapatkan perhatian Lintang. Apalagi setelah Lintang putus dengan kekasih bulenya, Jeroen. Mereka pun mencari akal agar bisa berduaan saja dengan Lintang, tanpa sahabat yang lain. Lintang sama sekali tidak menyadari perasaan rekan-rekannya ini. Hanya Gery yang menyita perhatian Lintang sepanjang waktu. Gery, sosok pria flamboyan dan baik hati, idaman semua wanita, termasuk Lintang.

Impian Lintang kandas untuk mendapatkan cinta Gery setelah dia menyaksikan Gery berciuman mesra dengan seorang laki-laki di apartemennya. Ternyata Gery seorang gay. Gery tak pernah coming out pada para sahabatnya ini tentang orientasi seksualnya sebelum kejadian itu. Namun hal ini, tidak merusak persahabatan mereka. Seorang sahabat harus dapat menerima bagaimanapun keadaan sahabatnya.

Setelah menjalani proses perkuliahan yang berliku, menyelesaikan tesis yang menyita waktu dan tenaga, dan mendapatkan gelar di bidang masing-masing, akhirnya mereka memutuskan untuk berwisata menjelajahi eropa sebelum kembali ke Indonesia. Para sahabat ini , minus Gery ( Gery sudah sering keliling Eropa karena sudah di belanda sejak kuliah s1 ) kemuadian mengadakan perjalanan ke beberapa negara di benua Eropa.

 Perjalanan ala Eurotrip ini ternyata membuahkan suatu peristiwa penting yang akhirnya menentukan takdir mereka.

“ Lintang... I love you when you smile. I love you when you yell. I love you when you cry. I even love you when you’re drunk. All I know...is that I love you “

Wicak, the lucky guy yang berhasil mengutarakan perasaannya pada Lintang. Di saat itu, Lintang tak sekadar melihat wajah seorang sahabat saat memandang pria yang bicara padanya.

Pada akhirnya , mereka menemukan kebahagian masing-masing. Banjar sukses mendirikan sebuah perusahaan sendiri, Daus didapuk menjadi salah seorang juru bicara Istana Kepresidenan, Wicak bekerja di LSM internasional di Barcelona, Lintang menjadi diplomat di Depertemen Luar Negeri, dan Gery menjabat sebagai marketing manager di kantor pusat Philllips. Setelah menyelesika studi di Belanda, mereka kembali bertemu dalam sebuah acara spesial. Pernikahan Lintang dengan Wicak.

Selain berkisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga berbagi tip bertahan hidup di Eropa. Sungguh kisah yang sanagt inspiratif. Membuat saya makin termotivasi untuk bisa menyenyam pendidikan di Eropa, atau setidaknya menginjakkan kaki di benua Eopa.

Novel ini ditulis keroyokan oleh empat orang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda. Mereka adalah Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Perdana. Mereka sukses membuat impian saya makin menggeliat dalam diri ini.

2011/08/17

Set Me Free

Hari ini, Indonesia merayakan kemerdekaanya yang ke 66. Sudah bertahun-tahun Indonesia merdeka dan bebas dari penjajah. Tiap kali merayakan dirgahayu Indonesia, saya selalu tergelitik dan bertanya-tanya tentang arti merdeka. Setidaknya kemerdekaan bagi diri saya sendiri.

Saya menggartikan merdeka itu sebagi sebuah kebebasan. Tanpa ada ikatan dan belenggu. Dari dulu saya merasa menjadi seseorang yang merdeka. Tak ada tuntutan yang mengekang langah saya dalam menjalani apapun keinginan saya. Orangtua saya bukanlah tipe orang tua yang diktator yang memaksakan kehendaknya. Juga bukan orang tua yang suka melarang keinginan anaknya. Itu yang saya suka dari orang tua saya, tidak banyak aturan. Selagi dalam batas norma,  lakukanlah apa yang kau mau. Rasa percaya mereka diletakkan di pundak saya. Tentu saja saya sangat menghargai kebebasan ini, segala tindakan dan keputusan yang saya ambil kelak akan saya pertanggungjawabkan kepada mereka.

2011/08/16

The Lucky Key

Kejadian hari ini ­membuat saya benar-benar shock. Bagaimana mungkin saya dengan sembrononya meninggalkan kosan dalam keadaan siap untuk dimasuki siapa saja. Karena terburu-buru saya lupa mencabut kunci dari lubangnya. Padahal kemarain, teman sebelah kamar saya baru saja kemalingan karena meninggalkan pintu kamarnya dalam keadaan terbuka. Sebentar saja dia pergi ke dapur, tiba-tiba pas balik ke kamar, dia malah mendapati dompet dan handphone-nya lenyap. Tak seorang pun menyadari ada orang asing yang masuk ke area kosan, karena semua pada sibuk dengan aktivitas di kamar masing-masing. Kebangetan tu maling, bulan puasa masih sempat-sempatnya nyolong barang orang.

Jadi, siang ini saya berencana mau pergi menemui dosen pembimbing skripsi. Saya berangkat dengan semangat 45 meskipun di luar hujan mengguyur sangat lebat. Bahkan walau badai menghadang sekalipun, akan tetap saya tempuh demi segelintir perjuangan untuk masa depan ini. Cieleee!! ( efek 17 agustusan cin )

2011/08/15

Menyingkap Kebohongan Lewat Bahasa Tubuh

Hampir setiap orang pernah berbohong, baik disadari maupun tidak, direncanakan maupun spontan. Pada saat tertentu mungkin seseorang mencurigai Anda bahwa Anda sedang berbohong. Atau sebaliknya, Anda curiga bahwa orang itulah yang sedang berbohong. Masalahnya, tahukan Anda kalau dia benar – benar berbohong?

Sebenarnya, tidaklah sulit untuk mengetahui apakah lawan bicara Anda sedang berbohong atau tidak. Bahasa tubuh, secara spontan dan sering tidak disadari, akan membeberkan kebohongan tersebut. Hal ini terjadi karena orang yang sedang berbohong lebih memerhatikan ucapannya dari pada apa yang terjadi pada tubuhnya.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Desmond Morris menyimpulkan bahwa Anda tidak dapat memalsukan bahasa tubuh. Akan tetapi, bukan tidak mungkin, orang yang pekerjaannya berbohong bisa mempelajari bahasa tubuh sehingga bisa memanipulasinya. Menangkap sinyal kebohongan dari orang seperti itu memang sedikit sulit.

Namun, sepintar-pintar menyembunyikan kebohongan , pastilah ada isyarat tubuh yang lepas kontrolnya karena otak memiliki sistem pengaman yang akan diteruskan apabila menerima pesan non verbal yang tidak selaras. Dalam hal ini, wajah merupakan bagian tubuh yang paling sering menunjukkan sinyal kebohongan.

Copyright @ Miscellaneous Thoughts | Floral Day theme designed by SimplyWP | Bloggerized by GirlyBlogger | Distributed by: best blogger template personal best blogger magazine theme | cheapest vpn for mac cheap vpn with open ports