Happy Birthday Din


My Beloved Sibling.
Duapuluh tahun terlewatkan. Aku tak pernah bisa mengingat detik-detik kehadiranmu, saat ibu berjuang mempertaruhkan nyawa melahirkanmu, memori otakku tak dapat memutar kembali fragmen itu.  Mungkin aku masih terlalu kecil untuk dapat merekam peristiwa penting yang terjadi, saat  pertama kali kamu menyapa dunia umurku baru dua tahun, bocah kecil yang belum mengerti apa-apa. Seingatku entah diusia berapa, aku mempunyai seorang adik yang selalu menjadi teman bermainku. Adik yang sempat ku tuduh mencuri perhatian Ayah dan Ibu dariku.

Catatan dari Lembaran Tissue yang Tercecer


 Hari ini nyokap gue lagi marah-marah sama gue. Kadang nyokap selalu membeda-bedakan gue. Kenapa gak di depan kami bertiga dia marah?Kenapa nyokap harus marah di depan gue sendiri? Gue sedih banget. Kadang gue gak ngerti sama nyokap gue sendiri. Kadang gue merasa bukan bagian dari mereka. Gue ingin pergi dari rumah ini. Gue benci. Gue merasa gue lah penyebab semua masalah. Bahkan kesalahan yang  mereka buat. Gue pengen tinggal di asrama aja atau ngekost. Gue benci tinggal di rumah ini. Gue benar-benar gak ngerti. Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba nyokap marah-marah ke gue. Padahal anaknya kan gak gue doing. Gue pengen menjauh dari sini. Gue gak mau tinggal di rumah lagi, karena di rumah gue kena marah terus.

Bangkiray on the Mount

Bankiray, begitulah orang-orang di sekitar sini menyebutnya, tempat ini berada di lereng gunung Singgalang. Dari ketinggian ini kita dapat memanjakan mata dengan menyaksikan paparan danau Singkarak dari kejauhan.

Go Home

Mesjid Nurul Ihsan, selalu ada kerinduan yang membuncah menatapnya.
Saatnya pulang ke rumah, menghadap Sang pemilik hidup

Daddy and Pussy Cats


Ayahku adalah seorang laki-laki penyayang kucing. Ada banyak kucing berkeliaran di rumah kami. Mulai dari kucing lansia, paro baya, remaja, anak-anak, sampai pada bayi-bayi kucing yang masih menyusu pada induknya. Mereka sudah seperti keluarga besar yang menambah riuh suasana rumah. Awalnya karena kebiasaan ayah yang suka memberi makan kucing-kucing liar yang datang ke rumah. Lama kelamaan mereka betah, dan menganggap ayah sebagai tuannya. Dari beberapa ekor  menjelma menjadi banyak. sebab kucing betina pun mulai beranak, tiap kali beranak tidak hanya melahirkan satu ekor bayi kucing. Selalu kembar. Kembar dua, kembar, tiga, bahkan kembar empat. Setiap kucing betina selalu berbakat bunting. Mereka berkembang biak. Beranak pinak. Kawanan kucing yang lucu-lucu menyemarakkan rumah kami.

Annual Resolution

 
Setiap pergantian tahun aku selalu menginginkan banyak perubahan dalam hidupku. Setidaknya untuk memberikan warna pada hidupku yang biasa-biasa saja, datar, dan monotone. Namun, warna itu sering kali tidak kentara. Tak banyak yang dapat ku perbuat. Tidak seperti waktu yang terus bergulir, aku tertatih. Melangkah satu-satu dalam kisaran waktu yang kian membelenggu dan tanpa henti. Waktu takkan pernah berhenti, dia melaju terus menurut alurnya. Sementara aku hanya banyak diam, jalan ditempat, dan bergerak lambat. Tidak seperti waktu yang terus memburu, aku berjalan pelan hingga sering tertinggal.

Dancing in the Rain

Kotaku diguyur hujan lebat yang tak kunjung berhenti dari pagi. Tak ada terik matahari, yang terasa hanya hawa dingin dari tetesan air yang turun dari langit. Mendung, basah , dan dingin menyatu dalam suasana hujan, Ah, musim hujan. Aku selalu suka hujan. Ada romantisme tersendiri dari hujan, entah kenapa, mungkin datang dari percampuran antara cemas menemukan tempat berteduh, pengharapan melihat pelangi saat hujan selesai, mencari kehangatan dalam suasana yang dingin dan merenung sendiri dari balik kaca jendela menatap keindahan bulir-bulir hujan yang turun. Hujan membawa itu semua: cemas, harap, dan perenungan.
Aku suka hujan. Aku suka menatap hujan dari balik kaca jendela sambil melamun, melihat jalanan melalui kaca yang berembun. Lalu aku menghapusnya dengan tangan, kadang melukis dengan jari, entah itu gambar atau tulisan-tulisan tak menentu, kemudian aku menghapusnya, lalu menorehkan jemari kembali, hingga aku menghapusnya lagi.

Be My Lady

Siang itu, pas istirahat Adi kebetulan lewat di depan perpustakaan. Tak sengaja matanya tertuju pada Ayu yang lagi asyik baca buku di sana. Adi pun masuk menghampiri Ayu,”Lagi nyari buku apaan,Yu?”sapa Adi pada makhluk manis yang tengah mencari-cari buku di rak sembari asyik membolak-balikkan buku-buku di tangannya.

Ayu sibuk dengan buku-bukunya. Seperti biasa, mendengar sapaan Adi ia hanya diam, cuek tulen, menoleh pun tidak. Adi geleng-geleng kepala. Ini adalah target yang paling sulit ditaklukan, jurus-jurus jitunya hampir habis.  Padahal ia sudah mati-matian nyari perhatian tuh cewek. Ia bertekat untuk tidak menyerah dengan kecuekannya. Pokoknya enggak menyerah, atau ia akan menjadi bulan-bulanan kekonyolan teman-temannya di X.D, yang kondang sebagai markasnya para playboy norak.

Don't Leave Me


“Kak ini aku Vano, buka pintunya dong!” ujar Vano dari balik pintu kamar Meta. Tidak ada jawaban. Vano khawatir dari kemarin Meta  tidak mau keluar kamar. Kata mamanya, Meta mengurung diri terus sejak  pulang kuliah. Bahkan untuk makan pun diak tidak mau. “Van kamu bujuk Meta ya! Dari kemarin dia belum makan. Tante takut  kalau dia nanti jatuh sakit,” ucap tante Diah sambil membawakan makanan untuk Meta. “Emangnya kak Meta kenapa Tante, waktu Vano main kesini dia baik-baik aja?” tanya Vano heran melihat sikap Meta. “Enggak tau tuh Van, waktu Tante tanya dia cuma nangis dan langsung mengunci diri di kamar. Mungkin kalau kamu yang bujuk, dia bakal mau,” ujar mama  Meta lagi. “Iya deh Tante, Vano coba ngomong sama kak Meta,” Vano mengangguk pelan dan mengambil mampan dari tangan tante Diah.

Elegi Dua Hati : Part 1

Langit mulai mendung dan kelabu. Arakan awan hitam menodai cakrawala. Tanda-tanda akan turun hujan semakin jelas. Benar, sebentar saja rintik-rintik hujan membasahi langit dan tetesan gerimis mulai menancapkan kakinya di tanah. Hujan. Tidak ada siapa-siapa di halte itu, selain aku. Sepi. Sore semakin gelap karena matahari ditutupi awan hitam. Hujan tak kunjung berhenti, tetesannya masih turun walaupun  tidak selebat tadi.

2011/01/19

Happy Birthday Din


My Beloved Sibling.
Duapuluh tahun terlewatkan. Aku tak pernah bisa mengingat detik-detik kehadiranmu, saat ibu berjuang mempertaruhkan nyawa melahirkanmu, memori otakku tak dapat memutar kembali fragmen itu.  Mungkin aku masih terlalu kecil untuk dapat merekam peristiwa penting yang terjadi, saat  pertama kali kamu menyapa dunia umurku baru dua tahun, bocah kecil yang belum mengerti apa-apa. Seingatku entah diusia berapa, aku mempunyai seorang adik yang selalu menjadi teman bermainku. Adik yang sempat ku tuduh mencuri perhatian Ayah dan Ibu dariku.

Catatan dari Lembaran Tissue yang Tercecer


 Hari ini nyokap gue lagi marah-marah sama gue. Kadang nyokap selalu membeda-bedakan gue. Kenapa gak di depan kami bertiga dia marah?Kenapa nyokap harus marah di depan gue sendiri? Gue sedih banget. Kadang gue gak ngerti sama nyokap gue sendiri. Kadang gue merasa bukan bagian dari mereka. Gue ingin pergi dari rumah ini. Gue benci. Gue merasa gue lah penyebab semua masalah. Bahkan kesalahan yang  mereka buat. Gue pengen tinggal di asrama aja atau ngekost. Gue benci tinggal di rumah ini. Gue benar-benar gak ngerti. Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba nyokap marah-marah ke gue. Padahal anaknya kan gak gue doing. Gue pengen menjauh dari sini. Gue gak mau tinggal di rumah lagi, karena di rumah gue kena marah terus.

Bangkiray on the Mount

Bankiray, begitulah orang-orang di sekitar sini menyebutnya, tempat ini berada di lereng gunung Singgalang. Dari ketinggian ini kita dapat memanjakan mata dengan menyaksikan paparan danau Singkarak dari kejauhan.

2011/01/18

Go Home

Mesjid Nurul Ihsan, selalu ada kerinduan yang membuncah menatapnya.
Saatnya pulang ke rumah, menghadap Sang pemilik hidup

2011/01/14

Daddy and Pussy Cats


Ayahku adalah seorang laki-laki penyayang kucing. Ada banyak kucing berkeliaran di rumah kami. Mulai dari kucing lansia, paro baya, remaja, anak-anak, sampai pada bayi-bayi kucing yang masih menyusu pada induknya. Mereka sudah seperti keluarga besar yang menambah riuh suasana rumah. Awalnya karena kebiasaan ayah yang suka memberi makan kucing-kucing liar yang datang ke rumah. Lama kelamaan mereka betah, dan menganggap ayah sebagai tuannya. Dari beberapa ekor  menjelma menjadi banyak. sebab kucing betina pun mulai beranak, tiap kali beranak tidak hanya melahirkan satu ekor bayi kucing. Selalu kembar. Kembar dua, kembar, tiga, bahkan kembar empat. Setiap kucing betina selalu berbakat bunting. Mereka berkembang biak. Beranak pinak. Kawanan kucing yang lucu-lucu menyemarakkan rumah kami.

2011/01/13

Annual Resolution

 
Setiap pergantian tahun aku selalu menginginkan banyak perubahan dalam hidupku. Setidaknya untuk memberikan warna pada hidupku yang biasa-biasa saja, datar, dan monotone. Namun, warna itu sering kali tidak kentara. Tak banyak yang dapat ku perbuat. Tidak seperti waktu yang terus bergulir, aku tertatih. Melangkah satu-satu dalam kisaran waktu yang kian membelenggu dan tanpa henti. Waktu takkan pernah berhenti, dia melaju terus menurut alurnya. Sementara aku hanya banyak diam, jalan ditempat, dan bergerak lambat. Tidak seperti waktu yang terus memburu, aku berjalan pelan hingga sering tertinggal.

Dancing in the Rain

Kotaku diguyur hujan lebat yang tak kunjung berhenti dari pagi. Tak ada terik matahari, yang terasa hanya hawa dingin dari tetesan air yang turun dari langit. Mendung, basah , dan dingin menyatu dalam suasana hujan, Ah, musim hujan. Aku selalu suka hujan. Ada romantisme tersendiri dari hujan, entah kenapa, mungkin datang dari percampuran antara cemas menemukan tempat berteduh, pengharapan melihat pelangi saat hujan selesai, mencari kehangatan dalam suasana yang dingin dan merenung sendiri dari balik kaca jendela menatap keindahan bulir-bulir hujan yang turun. Hujan membawa itu semua: cemas, harap, dan perenungan.
Aku suka hujan. Aku suka menatap hujan dari balik kaca jendela sambil melamun, melihat jalanan melalui kaca yang berembun. Lalu aku menghapusnya dengan tangan, kadang melukis dengan jari, entah itu gambar atau tulisan-tulisan tak menentu, kemudian aku menghapusnya, lalu menorehkan jemari kembali, hingga aku menghapusnya lagi.

2011/01/04

Be My Lady

Siang itu, pas istirahat Adi kebetulan lewat di depan perpustakaan. Tak sengaja matanya tertuju pada Ayu yang lagi asyik baca buku di sana. Adi pun masuk menghampiri Ayu,”Lagi nyari buku apaan,Yu?”sapa Adi pada makhluk manis yang tengah mencari-cari buku di rak sembari asyik membolak-balikkan buku-buku di tangannya.

Ayu sibuk dengan buku-bukunya. Seperti biasa, mendengar sapaan Adi ia hanya diam, cuek tulen, menoleh pun tidak. Adi geleng-geleng kepala. Ini adalah target yang paling sulit ditaklukan, jurus-jurus jitunya hampir habis.  Padahal ia sudah mati-matian nyari perhatian tuh cewek. Ia bertekat untuk tidak menyerah dengan kecuekannya. Pokoknya enggak menyerah, atau ia akan menjadi bulan-bulanan kekonyolan teman-temannya di X.D, yang kondang sebagai markasnya para playboy norak.

Don't Leave Me


“Kak ini aku Vano, buka pintunya dong!” ujar Vano dari balik pintu kamar Meta. Tidak ada jawaban. Vano khawatir dari kemarin Meta  tidak mau keluar kamar. Kata mamanya, Meta mengurung diri terus sejak  pulang kuliah. Bahkan untuk makan pun diak tidak mau. “Van kamu bujuk Meta ya! Dari kemarin dia belum makan. Tante takut  kalau dia nanti jatuh sakit,” ucap tante Diah sambil membawakan makanan untuk Meta. “Emangnya kak Meta kenapa Tante, waktu Vano main kesini dia baik-baik aja?” tanya Vano heran melihat sikap Meta. “Enggak tau tuh Van, waktu Tante tanya dia cuma nangis dan langsung mengunci diri di kamar. Mungkin kalau kamu yang bujuk, dia bakal mau,” ujar mama  Meta lagi. “Iya deh Tante, Vano coba ngomong sama kak Meta,” Vano mengangguk pelan dan mengambil mampan dari tangan tante Diah.

Elegi Dua Hati : Part 1

Langit mulai mendung dan kelabu. Arakan awan hitam menodai cakrawala. Tanda-tanda akan turun hujan semakin jelas. Benar, sebentar saja rintik-rintik hujan membasahi langit dan tetesan gerimis mulai menancapkan kakinya di tanah. Hujan. Tidak ada siapa-siapa di halte itu, selain aku. Sepi. Sore semakin gelap karena matahari ditutupi awan hitam. Hujan tak kunjung berhenti, tetesannya masih turun walaupun  tidak selebat tadi.

Copyright @ Miscellaneous Thoughts | Floral Day theme designed by SimplyWP | Bloggerized by GirlyBlogger | Distributed by: best blogger template personal best blogger magazine theme | cheapest vpn for mac cheap vpn with open ports