Vanish

Bila memamg kau ada untukku
mengapa angin berlalu bisu?
Rinduku membelenggu hati
bebaskan aku dari hukuman mati ini
Sayap-sayap jiwaku mengelana bebas
haturkan tanya pada setiap risau
Kemanakah kau cinta?
Bila memang kau ada untukku
Mengapa hati terisis perih?
Penjaga takdir diam di sudut hari
tak membuka mata
meski bintang terus menghiba
Mimpiku tercabik nyata
tak lagi berdaya hadirkan wajahmu
Cintaku terhapus hujan
tinggalkan biru pada langit yang bergetar


Edelweiss


Menjunjung akal dalam kegilaan yang waras
Menentukan yang waras dalam ketabuan
Yang melunak dalam hati seharusnya kuterima
Namun kutantang dalam keperihan
Tetapi yang harus kubantah, kutelan dalam-dalam
Kengerian yang meruak setiap detik nadi
Membuat rasa didalamnya terpasung
Membayangkan segala yang tak pernah pasti
Dan menatap realita sebagai musuh abadi
Mencoba menyimpan segalanya rapat-rapat dan berharap
Doa yang tak pernah putus menghiasi lorong-lorong batin
Tuhan… keyakinan apa yang Kau berikan atas nama cinta
Semuanya sarat dengan makna tak terbaca
Teguh ini mempertahankan segala yang telah hilang
Tuhan menjanjikan jawaban untuk hamba-Nya yang berdoa
Entah kapan… entah dimana…
Aku terus menunggu sampai
Tuhan menjawabnya
                      

Desire


Sayang,
Kenalilah musim hujan yang basah
Dan kemarau yang meranggaskan daun-daun kering
Di sepanjang hari dalam dua belas purnama
Karna cintaku bersemi di dua musim
Kenalilah gelisah angin diantara buluh-buluh bambu
Yang meliuk kekanan dan meliuk kekiri
Yang gemerisik diantara sunyi
Karena ada bisikan tentang gelisahku
Ketika senja turun di bukit-bukit tak berpenghuni
Ada rona yang dilukiskan pada latar langit
Merah membara dan kadang-kadang lembayung
Kenalilah warnanya yang disapukan dari rinduku
Sayang,
Malam-malam ku adalah catatan tentang cinta
Dinginnya menghangatkan dan member aroma rasa
Aku jejaki purnama yang tenggelam di antara awan
Dan aku ingin terbenam bersama cinta yang kau bawa

Ruinous


Terbangun linglung, kudapati cinta berbuah kebencian
Dipenuhi ratusan ribu nanar
Akupun tenggelam dalam kesangsian akan hari depan
Dalam kalap jiwa yang kau jebak
Kutata muka dan berdiri patahkan rasa
Kenakan busana baru rajutan dendam
Dan penuhi tangki-tangki doa dengan kutukan
Tak kulihat warna selain buram
Setumpuk nilai pun sirna dibenam nafsu
Sungguh aku tertawan dan karam
Dalam lubang sempit bernama kekecewaan



Bosom


Kami empat mata angin bumi
Berlayar kita di lembah suka duka
Menghirup cerita lagu pedih hati meniup tiap sengsara jiwa
Aku,kamu,kamu,dan kamu
Kita seperti pasir isap satu tarikan tali
Kita adalah warna pelangi yang tak tertembus mentari
Kita bagai kumpulan anjing liar pemangsa pagi
Tuhan, aku harap tiada akhir yang aka nada
Seperti salju kutup yang selalu menemani bumi
Seperti ikan laut yang tak kekurangan garam dunia
Aku dan kita kupastikan tiada akhir nanti

Funeral

Cintamu  pernah berkilauan dibatinku
Seperti bola mata anak kecil
Yang bersih dilambung puisi
Tapi sekarang semua redam
Ia hidup dalam cahaya remang
Tersenyum menjaga rumah di negeri bulan
Siapakah itu yang kemari diantara siluet hujan?
Barangkali rohmu  melayang-layang
Mencari cinta, yang ada dalam genggamanku
Sayangnya kau terlambat, Sayang
cintaku sudah bersemayam dipemakaman

Parade Senja


Seberkas cahaya ku petik di penghujung senja
Berpadu pada warna langit jingga
Tak lupa ku iris sehelai awan muda
Untuk menemanimu membelai purmana
Kemasi persembahanku dalam balutan cinta
Sebelum kereta kencana membawa kita berkelana

Killing Me Softly


Rumah tangga pasangan muda itu semakin lengkap dengan kehadiran malaikat kecil di antara mereka. Dua tahun dalam penantian akhirnya mereka diberi anugerah seorang gadis kecil yang cantik dan menggemaskan. Dia tumbuh menjadi anak yang sehat, pertumbuhannya pun berkembang pesat, mulai dari merangkak, berjalan tertatih-tatih, berlari kecil sampai ia seringkali terjungkal karena keseimbangan yang belum sempurna.

Street Fighter


Suasana kelas enam riuh seperti pasar,  hiruk pikuk di saat jam pelajaran. Beginilah kondisi kalau tidak ada guru di kelas, semua sibuk dengan aktivits masing-masing, berharap rapat majelis guru berlangsung lama. Sehingga mereka bisa berbuat sesuka hati di dalam lokal tanpa pengawasan guru. Berberapa anak cowok bermain bola di bagian depan dekat papan tulis, yang lain menjadi suporter sambil memekik-mekik menyoraki jagoannya, ada beberapa anak cowok bermain gulat di bagian belakang kelas, mereka meniru aksi pegulat jagoannya yang sering mereka tonton di televisi. Anak perempuan lebih kalem, mereka tidak melakukan aktivitas agresif seperti anak lelaki, membuat satu lingkaran di sudut kelas, ngerumpi layaknya ibu-ibu, tertawa cekikikan hingga memambah hingar-bingar kelas. Aku salah satu dari mereka, sumber suara gaduh.

Hollow

Senyummu adalah gerimis pertama
 yang menyiram kegersangan kalbu
setelah kemarau panjang di awal musim.
Lembab, dingin menelisik jauh ke dasar hati,
melumerkan tiap kepingan darah yang sempat membatu.
Semusim ku dapati dirimu berjungkat-jungkit
dalam jangkar sepi di bawah bias mantari.
 ilalang bisu menatapmu riang
melambai di padang tak bertuan.
Apa gerangan yang kau rengkuah dalam dekapanmu?
 Mataku menangkap ada segumpal hati
 bagai permukaan bulan di sana,
berkawah, penuh lubang terpapar
Wajahmu tersaput kabut samar
Memburatkan bayang hampa
Kedua korneamu bicara mengisyaratkan makna
Ada bilur penyesalan terpantul
Di antara kicauan burung dan desau angin menerpa
Kau  ucapkan namaku perlahan
Seolah sengau dan tak lantang
Nadamu terdengar gamang untuk dilontarkan
Ada semburat keraguan terpancar
Percayalah aku bukan algojo yang akan mencincang jantungmu
Berikan gumpalah hatimu yang cacat itu padaku
Akan ku tutupi palungnya dengan aliran  nadi ini.
Hingga menciptakan hujan merah jambu
membasuh jiwamu yang berkalang luka.  

2011/01/29

Vanish

Bila memamg kau ada untukku
mengapa angin berlalu bisu?
Rinduku membelenggu hati
bebaskan aku dari hukuman mati ini
Sayap-sayap jiwaku mengelana bebas
haturkan tanya pada setiap risau
Kemanakah kau cinta?
Bila memang kau ada untukku
Mengapa hati terisis perih?
Penjaga takdir diam di sudut hari
tak membuka mata
meski bintang terus menghiba
Mimpiku tercabik nyata
tak lagi berdaya hadirkan wajahmu
Cintaku terhapus hujan
tinggalkan biru pada langit yang bergetar


Edelweiss


Menjunjung akal dalam kegilaan yang waras
Menentukan yang waras dalam ketabuan
Yang melunak dalam hati seharusnya kuterima
Namun kutantang dalam keperihan
Tetapi yang harus kubantah, kutelan dalam-dalam
Kengerian yang meruak setiap detik nadi
Membuat rasa didalamnya terpasung
Membayangkan segala yang tak pernah pasti
Dan menatap realita sebagai musuh abadi
Mencoba menyimpan segalanya rapat-rapat dan berharap
Doa yang tak pernah putus menghiasi lorong-lorong batin
Tuhan… keyakinan apa yang Kau berikan atas nama cinta
Semuanya sarat dengan makna tak terbaca
Teguh ini mempertahankan segala yang telah hilang
Tuhan menjanjikan jawaban untuk hamba-Nya yang berdoa
Entah kapan… entah dimana…
Aku terus menunggu sampai
Tuhan menjawabnya
                      

Desire


Sayang,
Kenalilah musim hujan yang basah
Dan kemarau yang meranggaskan daun-daun kering
Di sepanjang hari dalam dua belas purnama
Karna cintaku bersemi di dua musim
Kenalilah gelisah angin diantara buluh-buluh bambu
Yang meliuk kekanan dan meliuk kekiri
Yang gemerisik diantara sunyi
Karena ada bisikan tentang gelisahku
Ketika senja turun di bukit-bukit tak berpenghuni
Ada rona yang dilukiskan pada latar langit
Merah membara dan kadang-kadang lembayung
Kenalilah warnanya yang disapukan dari rinduku
Sayang,
Malam-malam ku adalah catatan tentang cinta
Dinginnya menghangatkan dan member aroma rasa
Aku jejaki purnama yang tenggelam di antara awan
Dan aku ingin terbenam bersama cinta yang kau bawa

Ruinous


Terbangun linglung, kudapati cinta berbuah kebencian
Dipenuhi ratusan ribu nanar
Akupun tenggelam dalam kesangsian akan hari depan
Dalam kalap jiwa yang kau jebak
Kutata muka dan berdiri patahkan rasa
Kenakan busana baru rajutan dendam
Dan penuhi tangki-tangki doa dengan kutukan
Tak kulihat warna selain buram
Setumpuk nilai pun sirna dibenam nafsu
Sungguh aku tertawan dan karam
Dalam lubang sempit bernama kekecewaan



Bosom


Kami empat mata angin bumi
Berlayar kita di lembah suka duka
Menghirup cerita lagu pedih hati meniup tiap sengsara jiwa
Aku,kamu,kamu,dan kamu
Kita seperti pasir isap satu tarikan tali
Kita adalah warna pelangi yang tak tertembus mentari
Kita bagai kumpulan anjing liar pemangsa pagi
Tuhan, aku harap tiada akhir yang aka nada
Seperti salju kutup yang selalu menemani bumi
Seperti ikan laut yang tak kekurangan garam dunia
Aku dan kita kupastikan tiada akhir nanti

2011/01/28

Funeral

Cintamu  pernah berkilauan dibatinku
Seperti bola mata anak kecil
Yang bersih dilambung puisi
Tapi sekarang semua redam
Ia hidup dalam cahaya remang
Tersenyum menjaga rumah di negeri bulan
Siapakah itu yang kemari diantara siluet hujan?
Barangkali rohmu  melayang-layang
Mencari cinta, yang ada dalam genggamanku
Sayangnya kau terlambat, Sayang
cintaku sudah bersemayam dipemakaman

Parade Senja


Seberkas cahaya ku petik di penghujung senja
Berpadu pada warna langit jingga
Tak lupa ku iris sehelai awan muda
Untuk menemanimu membelai purmana
Kemasi persembahanku dalam balutan cinta
Sebelum kereta kencana membawa kita berkelana

Killing Me Softly


Rumah tangga pasangan muda itu semakin lengkap dengan kehadiran malaikat kecil di antara mereka. Dua tahun dalam penantian akhirnya mereka diberi anugerah seorang gadis kecil yang cantik dan menggemaskan. Dia tumbuh menjadi anak yang sehat, pertumbuhannya pun berkembang pesat, mulai dari merangkak, berjalan tertatih-tatih, berlari kecil sampai ia seringkali terjungkal karena keseimbangan yang belum sempurna.

2011/01/27

Street Fighter


Suasana kelas enam riuh seperti pasar,  hiruk pikuk di saat jam pelajaran. Beginilah kondisi kalau tidak ada guru di kelas, semua sibuk dengan aktivits masing-masing, berharap rapat majelis guru berlangsung lama. Sehingga mereka bisa berbuat sesuka hati di dalam lokal tanpa pengawasan guru. Berberapa anak cowok bermain bola di bagian depan dekat papan tulis, yang lain menjadi suporter sambil memekik-mekik menyoraki jagoannya, ada beberapa anak cowok bermain gulat di bagian belakang kelas, mereka meniru aksi pegulat jagoannya yang sering mereka tonton di televisi. Anak perempuan lebih kalem, mereka tidak melakukan aktivitas agresif seperti anak lelaki, membuat satu lingkaran di sudut kelas, ngerumpi layaknya ibu-ibu, tertawa cekikikan hingga memambah hingar-bingar kelas. Aku salah satu dari mereka, sumber suara gaduh.

Hollow

Senyummu adalah gerimis pertama
 yang menyiram kegersangan kalbu
setelah kemarau panjang di awal musim.
Lembab, dingin menelisik jauh ke dasar hati,
melumerkan tiap kepingan darah yang sempat membatu.
Semusim ku dapati dirimu berjungkat-jungkit
dalam jangkar sepi di bawah bias mantari.
 ilalang bisu menatapmu riang
melambai di padang tak bertuan.
Apa gerangan yang kau rengkuah dalam dekapanmu?
 Mataku menangkap ada segumpal hati
 bagai permukaan bulan di sana,
berkawah, penuh lubang terpapar
Wajahmu tersaput kabut samar
Memburatkan bayang hampa
Kedua korneamu bicara mengisyaratkan makna
Ada bilur penyesalan terpantul
Di antara kicauan burung dan desau angin menerpa
Kau  ucapkan namaku perlahan
Seolah sengau dan tak lantang
Nadamu terdengar gamang untuk dilontarkan
Ada semburat keraguan terpancar
Percayalah aku bukan algojo yang akan mencincang jantungmu
Berikan gumpalah hatimu yang cacat itu padaku
Akan ku tutupi palungnya dengan aliran  nadi ini.
Hingga menciptakan hujan merah jambu
membasuh jiwamu yang berkalang luka.  

Copyright @ Miscellaneous Thoughts | Floral Day theme designed by SimplyWP | Bloggerized by GirlyBlogger | Distributed by: best blogger template personal best blogger magazine theme | cheapest vpn for mac cheap vpn with open ports