Dancing in the Rain

Kotaku diguyur hujan lebat yang tak kunjung berhenti dari pagi. Tak ada terik matahari, yang terasa hanya hawa dingin dari tetesan air yang turun dari langit. Mendung, basah , dan dingin menyatu dalam suasana hujan, Ah, musim hujan. Aku selalu suka hujan. Ada romantisme tersendiri dari hujan, entah kenapa, mungkin datang dari percampuran antara cemas menemukan tempat berteduh, pengharapan melihat pelangi saat hujan selesai, mencari kehangatan dalam suasana yang dingin dan merenung sendiri dari balik kaca jendela menatap keindahan bulir-bulir hujan yang turun. Hujan membawa itu semua: cemas, harap, dan perenungan.
Aku suka hujan. Aku suka menatap hujan dari balik kaca jendela sambil melamun, melihat jalanan melalui kaca yang berembun. Lalu aku menghapusnya dengan tangan, kadang melukis dengan jari, entah itu gambar atau tulisan-tulisan tak menentu, kemudian aku menghapusnya, lalu menorehkan jemari kembali, hingga aku menghapusnya lagi.

Be My Lady

Siang itu, pas istirahat Adi kebetulan lewat di depan perpustakaan. Tak sengaja matanya tertuju pada Ayu yang lagi asyik baca buku di sana. Adi pun masuk menghampiri Ayu,”Lagi nyari buku apaan,Yu?”sapa Adi pada makhluk manis yang tengah mencari-cari buku di rak sembari asyik membolak-balikkan buku-buku di tangannya.

Ayu sibuk dengan buku-bukunya. Seperti biasa, mendengar sapaan Adi ia hanya diam, cuek tulen, menoleh pun tidak. Adi geleng-geleng kepala. Ini adalah target yang paling sulit ditaklukan, jurus-jurus jitunya hampir habis.  Padahal ia sudah mati-matian nyari perhatian tuh cewek. Ia bertekat untuk tidak menyerah dengan kecuekannya. Pokoknya enggak menyerah, atau ia akan menjadi bulan-bulanan kekonyolan teman-temannya di X.D, yang kondang sebagai markasnya para playboy norak.

Don't Leave Me


“Kak ini aku Vano, buka pintunya dong!” ujar Vano dari balik pintu kamar Meta. Tidak ada jawaban. Vano khawatir dari kemarin Meta  tidak mau keluar kamar. Kata mamanya, Meta mengurung diri terus sejak  pulang kuliah. Bahkan untuk makan pun diak tidak mau. “Van kamu bujuk Meta ya! Dari kemarin dia belum makan. Tante takut  kalau dia nanti jatuh sakit,” ucap tante Diah sambil membawakan makanan untuk Meta. “Emangnya kak Meta kenapa Tante, waktu Vano main kesini dia baik-baik aja?” tanya Vano heran melihat sikap Meta. “Enggak tau tuh Van, waktu Tante tanya dia cuma nangis dan langsung mengunci diri di kamar. Mungkin kalau kamu yang bujuk, dia bakal mau,” ujar mama  Meta lagi. “Iya deh Tante, Vano coba ngomong sama kak Meta,” Vano mengangguk pelan dan mengambil mampan dari tangan tante Diah.

Elegi Dua Hati : Part 1

Langit mulai mendung dan kelabu. Arakan awan hitam menodai cakrawala. Tanda-tanda akan turun hujan semakin jelas. Benar, sebentar saja rintik-rintik hujan membasahi langit dan tetesan gerimis mulai menancapkan kakinya di tanah. Hujan. Tidak ada siapa-siapa di halte itu, selain aku. Sepi. Sore semakin gelap karena matahari ditutupi awan hitam. Hujan tak kunjung berhenti, tetesannya masih turun walaupun  tidak selebat tadi.

Nulis Yuk!

Aku terlalu sibuk memikirkan apa yang harus ku tulis dan bagaimana merangkai kata-kata untuk menciptakan sebuah tulisan. Padahal banyak yang ide yang berkecamuk dipikiranku yang bisa kutuangkan dalam tulisanku. Ah, aku tak peduli lagi dengan kata-kata yang akan terlontar dalam barisan tulisan yang ku rangkai. Yang penting aku menulis, menulis apapun yang terlintas dalam benak dan apapun yang terasa dalam hati. Terlalu banyak waktu yang ku habiskan untuk hal-hal yang tak berguna. Lebih baik aku berkisah tentang hidupku, bercerita tentang harapan dan impian, merekam semuanya. Tulisan menandakan bahwa aku pernah hidup dan menikmatinya.

Lamentation

Air mata apa yang kau punya

Hingga bulirannya mampu meredam luka

Peluh bersimbah luluh dengan tanah

Darah membuncah kadang di selipi amarah

Namun cintamu tetap berlinang

Terus menggenangi  aku, dia, dan dia

Tak tampak bahasa lelah di setiap langkah

Walau gerimis menancapkan kaki di punggungmu

Meski surya menyengat kulitmu

Kasihmu tetap membakar.


PWC Reject Me

Baru saja aku merima sms dari sebuah nomor yang tidak aku kenal. Setelah ku baca, ternyata sms itu berasal dari PWC. Huu...sebuah sms penolakan, yang menyatakan aku tidak bisa melanjutkan tes berikutnya. Langsung ku cek emailku, ada kotak masuk baru disana. Masih dari PWC.

Sepucuk Surat Untuk Sahabat yang Sedang Berulang Tahun.


Kepada Yuna_Chan

Sahabat yang kusayangi dan kukasihi.

Jemariku bergetar, kenangan masa lalu kita terputar. Memoriku kembali ke masa silam Enam tahun lalu, awal aku mengenalmu, saat kita sama-sama memasuki bangku SMA. Dengan mudah aku mengenalimu, karena kamu adalah teman cewek terjangkung yang pernah aku punya:) Aku masih ingat wajah ramahmu yang kerap kali menyapaku. Nama kerenmu masih terngiang ditelingaku meskipun sudah terasa asing di lidahku untuk menyebutnya.  Di gedung sekolah berwarna  biru itu, kita menikmati indahnya masa-masa SMA. Hari-hari yang penuh dengan canda, tawa, dan kebersamaan.

Get Married

Akhirnya sepupuku Ade melepas masa lajangnya, di permulaan tahun ini dengan gadis pujaan hatinya ( cieilee). Kalau udah ketemu jodoh ngapain harus nunggu lagi. Mendingan nikah daripada menjalani hubungan enggak jelas ( baca : pacaran ). Di umur yang udah memasuki kepala dua ini, pertanyaan ke arah sana pun sering dilontarkan padaku. 
" Kamu kapan wisuda?"
" Udah punya pacar belum?"
" Kapan kawin ?" 
Hanya bisa meringis.
"Mei," jawabku asal.




On the Eve of the New Year

2011/01/13

Dancing in the Rain

Kotaku diguyur hujan lebat yang tak kunjung berhenti dari pagi. Tak ada terik matahari, yang terasa hanya hawa dingin dari tetesan air yang turun dari langit. Mendung, basah , dan dingin menyatu dalam suasana hujan, Ah, musim hujan. Aku selalu suka hujan. Ada romantisme tersendiri dari hujan, entah kenapa, mungkin datang dari percampuran antara cemas menemukan tempat berteduh, pengharapan melihat pelangi saat hujan selesai, mencari kehangatan dalam suasana yang dingin dan merenung sendiri dari balik kaca jendela menatap keindahan bulir-bulir hujan yang turun. Hujan membawa itu semua: cemas, harap, dan perenungan.
Aku suka hujan. Aku suka menatap hujan dari balik kaca jendela sambil melamun, melihat jalanan melalui kaca yang berembun. Lalu aku menghapusnya dengan tangan, kadang melukis dengan jari, entah itu gambar atau tulisan-tulisan tak menentu, kemudian aku menghapusnya, lalu menorehkan jemari kembali, hingga aku menghapusnya lagi.

2011/01/04

Be My Lady

Siang itu, pas istirahat Adi kebetulan lewat di depan perpustakaan. Tak sengaja matanya tertuju pada Ayu yang lagi asyik baca buku di sana. Adi pun masuk menghampiri Ayu,”Lagi nyari buku apaan,Yu?”sapa Adi pada makhluk manis yang tengah mencari-cari buku di rak sembari asyik membolak-balikkan buku-buku di tangannya.

Ayu sibuk dengan buku-bukunya. Seperti biasa, mendengar sapaan Adi ia hanya diam, cuek tulen, menoleh pun tidak. Adi geleng-geleng kepala. Ini adalah target yang paling sulit ditaklukan, jurus-jurus jitunya hampir habis.  Padahal ia sudah mati-matian nyari perhatian tuh cewek. Ia bertekat untuk tidak menyerah dengan kecuekannya. Pokoknya enggak menyerah, atau ia akan menjadi bulan-bulanan kekonyolan teman-temannya di X.D, yang kondang sebagai markasnya para playboy norak.

Don't Leave Me


“Kak ini aku Vano, buka pintunya dong!” ujar Vano dari balik pintu kamar Meta. Tidak ada jawaban. Vano khawatir dari kemarin Meta  tidak mau keluar kamar. Kata mamanya, Meta mengurung diri terus sejak  pulang kuliah. Bahkan untuk makan pun diak tidak mau. “Van kamu bujuk Meta ya! Dari kemarin dia belum makan. Tante takut  kalau dia nanti jatuh sakit,” ucap tante Diah sambil membawakan makanan untuk Meta. “Emangnya kak Meta kenapa Tante, waktu Vano main kesini dia baik-baik aja?” tanya Vano heran melihat sikap Meta. “Enggak tau tuh Van, waktu Tante tanya dia cuma nangis dan langsung mengunci diri di kamar. Mungkin kalau kamu yang bujuk, dia bakal mau,” ujar mama  Meta lagi. “Iya deh Tante, Vano coba ngomong sama kak Meta,” Vano mengangguk pelan dan mengambil mampan dari tangan tante Diah.

Elegi Dua Hati : Part 1

Langit mulai mendung dan kelabu. Arakan awan hitam menodai cakrawala. Tanda-tanda akan turun hujan semakin jelas. Benar, sebentar saja rintik-rintik hujan membasahi langit dan tetesan gerimis mulai menancapkan kakinya di tanah. Hujan. Tidak ada siapa-siapa di halte itu, selain aku. Sepi. Sore semakin gelap karena matahari ditutupi awan hitam. Hujan tak kunjung berhenti, tetesannya masih turun walaupun  tidak selebat tadi.

2011/01/03

Nulis Yuk!

Aku terlalu sibuk memikirkan apa yang harus ku tulis dan bagaimana merangkai kata-kata untuk menciptakan sebuah tulisan. Padahal banyak yang ide yang berkecamuk dipikiranku yang bisa kutuangkan dalam tulisanku. Ah, aku tak peduli lagi dengan kata-kata yang akan terlontar dalam barisan tulisan yang ku rangkai. Yang penting aku menulis, menulis apapun yang terlintas dalam benak dan apapun yang terasa dalam hati. Terlalu banyak waktu yang ku habiskan untuk hal-hal yang tak berguna. Lebih baik aku berkisah tentang hidupku, bercerita tentang harapan dan impian, merekam semuanya. Tulisan menandakan bahwa aku pernah hidup dan menikmatinya.

Lamentation

Air mata apa yang kau punya

Hingga bulirannya mampu meredam luka

Peluh bersimbah luluh dengan tanah

Darah membuncah kadang di selipi amarah

Namun cintamu tetap berlinang

Terus menggenangi  aku, dia, dan dia

Tak tampak bahasa lelah di setiap langkah

Walau gerimis menancapkan kaki di punggungmu

Meski surya menyengat kulitmu

Kasihmu tetap membakar.


PWC Reject Me

Baru saja aku merima sms dari sebuah nomor yang tidak aku kenal. Setelah ku baca, ternyata sms itu berasal dari PWC. Huu...sebuah sms penolakan, yang menyatakan aku tidak bisa melanjutkan tes berikutnya. Langsung ku cek emailku, ada kotak masuk baru disana. Masih dari PWC.

Sepucuk Surat Untuk Sahabat yang Sedang Berulang Tahun.


Kepada Yuna_Chan

Sahabat yang kusayangi dan kukasihi.

Jemariku bergetar, kenangan masa lalu kita terputar. Memoriku kembali ke masa silam Enam tahun lalu, awal aku mengenalmu, saat kita sama-sama memasuki bangku SMA. Dengan mudah aku mengenalimu, karena kamu adalah teman cewek terjangkung yang pernah aku punya:) Aku masih ingat wajah ramahmu yang kerap kali menyapaku. Nama kerenmu masih terngiang ditelingaku meskipun sudah terasa asing di lidahku untuk menyebutnya.  Di gedung sekolah berwarna  biru itu, kita menikmati indahnya masa-masa SMA. Hari-hari yang penuh dengan canda, tawa, dan kebersamaan.

2011/01/01

Get Married

Akhirnya sepupuku Ade melepas masa lajangnya, di permulaan tahun ini dengan gadis pujaan hatinya ( cieilee). Kalau udah ketemu jodoh ngapain harus nunggu lagi. Mendingan nikah daripada menjalani hubungan enggak jelas ( baca : pacaran ). Di umur yang udah memasuki kepala dua ini, pertanyaan ke arah sana pun sering dilontarkan padaku. 
" Kamu kapan wisuda?"
" Udah punya pacar belum?"
" Kapan kawin ?" 
Hanya bisa meringis.
"Mei," jawabku asal.




On the Eve of the New Year

Copyright @ Miscellaneous Thoughts | Floral Day theme designed by SimplyWP | Bloggerized by GirlyBlogger | Distributed by: best blogger template personal best blogger magazine theme | cheapest vpn for mac cheap vpn with open ports