Anugerah di Kesempatan Kedua


Dengan jantung berdebar tak karuan  perlahan ku buka akunku di portal akademik kampus, aku klik pada bagian kartu hasi studi dengan jemari sedikit gemetar. Deg, jantungku hampir  berceceran! Alhamdulillah! Sontak aku berteriak dalam hati.  Perjuanganku selama ini membuahkan hasil, meskipun tidak mendapatkan nilai tertinggi, setidaknya aku lulus di mata kuliah ini dengan nilai yang cukup memuaskan. Tiada kata yang pantas ku ucapkan selain rasa syukur yang mendalam atas jawaban Allah terhadap doa-doaku.
Berkutat dengan mata kuliah yang satu ini memang menjadi momok yang menakutkan bagiku. Masalahnya ini adalah kesempatan kedua setelah mengalami kegagalan di semester lalu. Trauma dengan kesadisan dosen yang menghargai perjuanganku dengan nilai serendah itu, aku memutuskan  mengulangnya dengan dosen berbeda. Berharap dosen ini bisa memberikan sistem penilaian yang lebih baik. Aku yakin performaku dalam mata kuliah ini tidak terlalu buruk hingga harus dicela dengan satu kata “gagal”, aku masih memegang pendirian bahwa bukan aku yang terlalu bodoh, namun dosen itu yang tidak mampu menilaiku.

Mist

Hujan menodai cakrawala, kabut memenuhi ladang dengan bayangan biru. Lima merpati putih menanti di atas pohon jati. Semuanya terdiam. Bahkan aku, menanti di bawah langit terbuka, wajahku basah dan muda. Bukan pagi, bukan malam, sesuatu di antara kuda-kuda di bawah sinar matahari.  Belalang bersenandung dalam sinar keemasan. Musim yang begitu hangat, daun-daun lembab merah merebak di tanah. Ini di antara tempat yang diapit oleh biru dan merpati yang menanti. Di sinilah tempat aku menanti di antara masa kanak-kanak dan dewasa, tertidur dan terjaga, tahu dan tidak tahu.

Reap

Aku tak pernah lelah mengeja hari tanpa sandaran cinta pasti. Banyak kekuatan yang mematriku untuk bertahan dalam lorong sepi. Dalam sunyi aku menuai benih-benih cinta yang siap ku tebar bila sang pemanah telah melesatkan anak panahnya tepat di ulu hati, tempat aku menyimpan sejuta kerinduan yang ku tata rapi. Tidak mudah memang membendung gemuruh hasrat  yang mudah datang kemudian secepat kilat berlalu pergi. Keteguhan membawaku pada tujuan abadi. Akhir penantian sakral yang mati-matian ku jaga di antara dua musim yang datang silih berganti. Meski terpasung waktu, tiada memudarkan asa yang tertancap dalam cengkeraman kepingan cinta yang ku pungut dari lembaran kisah yang tercecer. Ku rangkum semua serpihan itu dalam balutan kain sutera emas yang ku sulam dengan benang termahal yang pernah ada.  Hingga ketika sang waktu mulai menjamah dan memberi tanda pada semesta, saat itu pula ku lepaskan sesuatu yang tersimpan itu pelan-pelan. Membiarkannya terbang membubung tinggi meniti langit. Menjemput takdir, lalu melenggang menuju keabadian.

Moonlight

Mereka bergumul bermandikan cahaya purnama di pertengahan bulan. Menari – nari diiringi desau angin yang mengalunkan melodi picisan. Sepertinya menggairahkan, hingga merelakan tubuh terombang ambing di bawah hentakan nada yang dialunkan similir angin malam. Aku bergeming di balik benteng yang ku bangun dengan sedikit keangkuhan, tiada peduli pada rayuan bulan yang mampu menlenyapkan kepekatan malam. Dengan santai aku tetap meringkuk dalam bilik temaram ditemani jelaga hitam yang membumbung liar menghiasi langit-langit kamar. Desahan dalam balutan derai tawa tidak mampu menggelitikku sedikitpun. Tiada menarik bagiku yang merindui cahaya sejati. Ratusan kali purnama menyembul indah, hanya memberikan semburat harapan kosong di mataku. Aku tak sudi merelakan diri ini terkatung-katung ditunggangi rembulan dengan cahaya maya. Bukankah lebih baik seperti ini, menggantungkan asa pada  sinar abadi.

Catatan Hati di Setiap Sujudku


Membaca buku  Catatan Hati di Setiap Sujudku  (Asma Nadia, dkk ) membuatku merasa ditonjok. Buku yang berisi kisah sejati orang-orang yang memiliki ketabahan luar biasa dalam menjalani ujian dari Allah ini mampu membuatku termenung menyadari kekhilafanku selama ini. Air mataku menetes tanpa sengaja, mendesak ingin keluar tatkala mencerna satu-persatu hubungan mesra yang terjalin antara orang-orang ajaib ini dengan Allah. Mereka berkomunikasi dengan Sang khalik melalui doa yang khusyuk dan tak henti-hentinya.

Self Esteem

Sungguh sangat mengesalkan ketika kegagalan datang menghampiri, padahal kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Namun keadaan berkata lain, ada saja yang menghalanginya, sesuatu yang kita inginkan memang tidak selalu ada ketika kita sangat mengharapkannya. Rasanya menjadi orang yang paling sengsara sedunia kerena kita tidak bisa memperolehnya, padahal perjuangan yang dilakukan tidak sedikit.

Sianok Ravine

Campus on the Street

Soccer Addict

Gara-gara ikut menyaksikan pertandingan sepak bola di piala AFF beberapa waktu yang lalu, jadi kebawa pengen jadi pemain bola :p. Padahal sebelum-sebelumnya aku gak terlalu suka tuh sama sepak bola.

Running to the Beach

Pantai Padang tetap menggoda.

2011/01/25

Anugerah di Kesempatan Kedua


Dengan jantung berdebar tak karuan  perlahan ku buka akunku di portal akademik kampus, aku klik pada bagian kartu hasi studi dengan jemari sedikit gemetar. Deg, jantungku hampir  berceceran! Alhamdulillah! Sontak aku berteriak dalam hati.  Perjuanganku selama ini membuahkan hasil, meskipun tidak mendapatkan nilai tertinggi, setidaknya aku lulus di mata kuliah ini dengan nilai yang cukup memuaskan. Tiada kata yang pantas ku ucapkan selain rasa syukur yang mendalam atas jawaban Allah terhadap doa-doaku.
Berkutat dengan mata kuliah yang satu ini memang menjadi momok yang menakutkan bagiku. Masalahnya ini adalah kesempatan kedua setelah mengalami kegagalan di semester lalu. Trauma dengan kesadisan dosen yang menghargai perjuanganku dengan nilai serendah itu, aku memutuskan  mengulangnya dengan dosen berbeda. Berharap dosen ini bisa memberikan sistem penilaian yang lebih baik. Aku yakin performaku dalam mata kuliah ini tidak terlalu buruk hingga harus dicela dengan satu kata “gagal”, aku masih memegang pendirian bahwa bukan aku yang terlalu bodoh, namun dosen itu yang tidak mampu menilaiku.

Mist

Hujan menodai cakrawala, kabut memenuhi ladang dengan bayangan biru. Lima merpati putih menanti di atas pohon jati. Semuanya terdiam. Bahkan aku, menanti di bawah langit terbuka, wajahku basah dan muda. Bukan pagi, bukan malam, sesuatu di antara kuda-kuda di bawah sinar matahari.  Belalang bersenandung dalam sinar keemasan. Musim yang begitu hangat, daun-daun lembab merah merebak di tanah. Ini di antara tempat yang diapit oleh biru dan merpati yang menanti. Di sinilah tempat aku menanti di antara masa kanak-kanak dan dewasa, tertidur dan terjaga, tahu dan tidak tahu.

2011/01/24

Reap

Aku tak pernah lelah mengeja hari tanpa sandaran cinta pasti. Banyak kekuatan yang mematriku untuk bertahan dalam lorong sepi. Dalam sunyi aku menuai benih-benih cinta yang siap ku tebar bila sang pemanah telah melesatkan anak panahnya tepat di ulu hati, tempat aku menyimpan sejuta kerinduan yang ku tata rapi. Tidak mudah memang membendung gemuruh hasrat  yang mudah datang kemudian secepat kilat berlalu pergi. Keteguhan membawaku pada tujuan abadi. Akhir penantian sakral yang mati-matian ku jaga di antara dua musim yang datang silih berganti. Meski terpasung waktu, tiada memudarkan asa yang tertancap dalam cengkeraman kepingan cinta yang ku pungut dari lembaran kisah yang tercecer. Ku rangkum semua serpihan itu dalam balutan kain sutera emas yang ku sulam dengan benang termahal yang pernah ada.  Hingga ketika sang waktu mulai menjamah dan memberi tanda pada semesta, saat itu pula ku lepaskan sesuatu yang tersimpan itu pelan-pelan. Membiarkannya terbang membubung tinggi meniti langit. Menjemput takdir, lalu melenggang menuju keabadian.

Moonlight

Mereka bergumul bermandikan cahaya purnama di pertengahan bulan. Menari – nari diiringi desau angin yang mengalunkan melodi picisan. Sepertinya menggairahkan, hingga merelakan tubuh terombang ambing di bawah hentakan nada yang dialunkan similir angin malam. Aku bergeming di balik benteng yang ku bangun dengan sedikit keangkuhan, tiada peduli pada rayuan bulan yang mampu menlenyapkan kepekatan malam. Dengan santai aku tetap meringkuk dalam bilik temaram ditemani jelaga hitam yang membumbung liar menghiasi langit-langit kamar. Desahan dalam balutan derai tawa tidak mampu menggelitikku sedikitpun. Tiada menarik bagiku yang merindui cahaya sejati. Ratusan kali purnama menyembul indah, hanya memberikan semburat harapan kosong di mataku. Aku tak sudi merelakan diri ini terkatung-katung ditunggangi rembulan dengan cahaya maya. Bukankah lebih baik seperti ini, menggantungkan asa pada  sinar abadi.

Catatan Hati di Setiap Sujudku


Membaca buku  Catatan Hati di Setiap Sujudku  (Asma Nadia, dkk ) membuatku merasa ditonjok. Buku yang berisi kisah sejati orang-orang yang memiliki ketabahan luar biasa dalam menjalani ujian dari Allah ini mampu membuatku termenung menyadari kekhilafanku selama ini. Air mataku menetes tanpa sengaja, mendesak ingin keluar tatkala mencerna satu-persatu hubungan mesra yang terjalin antara orang-orang ajaib ini dengan Allah. Mereka berkomunikasi dengan Sang khalik melalui doa yang khusyuk dan tak henti-hentinya.

2011/01/22

Self Esteem

Sungguh sangat mengesalkan ketika kegagalan datang menghampiri, padahal kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Namun keadaan berkata lain, ada saja yang menghalanginya, sesuatu yang kita inginkan memang tidak selalu ada ketika kita sangat mengharapkannya. Rasanya menjadi orang yang paling sengsara sedunia kerena kita tidak bisa memperolehnya, padahal perjuangan yang dilakukan tidak sedikit.

2011/01/20

Sianok Ravine

Campus on the Street

2011/01/19

Soccer Addict

Gara-gara ikut menyaksikan pertandingan sepak bola di piala AFF beberapa waktu yang lalu, jadi kebawa pengen jadi pemain bola :p. Padahal sebelum-sebelumnya aku gak terlalu suka tuh sama sepak bola.

Running to the Beach

Pantai Padang tetap menggoda.

Copyright @ Miscellaneous Thoughts | Floral Day theme designed by SimplyWP | Bloggerized by GirlyBlogger | Distributed by: best blogger template personal best blogger magazine theme | cheapest vpn for mac cheap vpn with open ports