Rumah Puisi Taufiq Ismail







Taufik Ismail

DUA GUNUNG KEPADAKU BICARA

Kepada Singgalang bertanya aku
Wahai gunung masa kanakku di lututmu kampung ibuku
Kenapa indahmu dari dahulu tak habis-habis jadi rinduku
kepada Merapi berkata aku
Wahai gunung masa bayiku di telapakmu kampung ayahku
Kenapa gagahmu dari dahulu tak habis-habis dari ingatanku
Kedua gunung tentu saja
Cuaca dingin bahasanya
Kabut putih kosa katanya
Rintik hujan ungkapnnya
Senyap biru bisikannya
Kepada dua gunung kuulang tanya
Berjawab lewat desahan jutaan daun rimba raya
Bergema begitu indahnya lewat margasatwa
Ombak nyanyian insekta betapa merdunya
Bertanyalah pada Yang Di Atas Sana

( Idul Adha, Senin, 8 Desember 2008. Nagari Aie Angek, di seberang Nagari Pandai Sikek)

Decak kagum keluar dari bibirku saat membaca puisi karya sang maestro Taufik Ismail yang terpampang di dinding luar sebuah ruangan di kompleks Rumah Puisi.
Sampai detik ini aku masih mengagumi sosok Taufik Ismail dengan mahakaryanya yang membuatku merinding ketika membacanya. Karena alasan itu pula aku menyempatkan diri untuk singgah ke Rumah Puisi Taufik Ismail, padahal sudah setahun lebih bangunan itu berdiri, namun baru kali ini aku bisa menapakinya.

Rumah Puisi ini terletak di Jl. Raya Padangpanjang-Bukittinggi, Km. 6, Nagari Aie Angek Kec. X Koto, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat, tepatnya di kaki gunung Merapi, berseberangan dengan daerahku yaitu Nagari Pandai Sikek yang terletak di kaki gunung Singgalang. Jaraknya cukup dekat dari tempat aku tinggal, sekitar limabelas menit perjalanan dengan kendaraan. Berada si sana kita akan di suguhi pemandangan indah dari kedua lereng gunung, Sejauh mata memandang terlhat hamparan sawah dan ladang yang luas.Selain bisa menikmati puisi dan
karya sastra, di sini kita juga di suguhi pemandangan alam yang memikat. Serta taman bunga yang indah terbentang di halamannya, menggelitik mata siapa saja yang memandang.

Ketika aku berkunjung, tak satupun pengunjung lain yang datang. pengunjung hanya kami berdua yaitu aku dan Nina. Selebihnya para karyawan yang bertugas menjaga dan merawat lingkungan Rumah Puisi, serta terdapat beberapa orang pekerja bangunan yang sibuk menyelesaikan pembangunan komplek tersebut. Memang kawasan itu belum selesai seratus persen, masih ada beberapa bangunan yang masih berada dalam proses penyelesaian. Namun gedung utamanya telah lebih dulu siap dan dapat dikunjungi. Sebuah ruangan yang lumayan besar, di dalamnya terdapat aula, ruang baca, dan perpustakaan koleksi karya Taufik Ismail serta koleksi buku sastra lainnya. Namun sayang aku tidak dapat masuk ke dalam untuk membaca koleksi buku di sana. Aku nggak tau kenapa hari ini Rumah puisi tutup, padahal bukan hari libur. Tapi it's ok, toh aku masih bisa menikmatinya dari luar, mungkin rumah puisi menginginkan aku berulang kali mengunjunginya. Yeah, next time I'll be there. I love this place.



Failure

Mimpi buruk yang menghantuiku selama semester ini ternyata benar-benar terjadi. Sungguh diluar dugaan. Aku berharap ini hanya imajinasi dan bayangan ketakutanku saja. Namun realita tak dapat menutup-nutupi fakta yang ada. Kenyataan pahit yang harus aku terima dengan lapang dada meski sulit bagiku untuk menerima keadaan bahwa aku adalah seorang yang gagal. Aku telah gagal dalam mempertahankan nilai mata kuliahku kali ini. Nilai E terpampang jelas di kartu hasil studiku. Huruf yang sangat menyudutkanku, membuat perutku mual, membuat dadaku sesak, dan melemahkan pertahanan saat aku berdiri tegap.

Teringat saat aku pertama memeriksa nilaiku, dengan perasaan berkecamuk, rasa cemas yang terus menggerogoti pikiranku. Perlahan-lahan dan seksama mataku menyusuri deretan nilai yang baru dikeluarkan oleh dosen. Mataku berhenti pada satu titik, tepat dimana nama dan nomor bp ku tertera. Aku hanya tertegun dan bergeming menyaksikan huruf yang tertera disana. Tubuhku terasa lemas seolah energiku di serap oleh huruf yang beraura negatif itu. Huruf yang menghempaskan harapanku, menatapku sinis seolah menyeringai menertawakan kebodohanku. Menghujatku sebagai seorang pecundang.

Yah aku seorang pecundang. Aku seorang yang gagal. Aku seorang yang merugi. Aku tidak bisa memerbaiki nilaiku menjadi lebih baik. Jangankan untuk meningkatkan nilai mempertahankannya saja aku tidak sanggup. Meski mata kuliah berbeda namun dosennya tetap itu juga. Semestinya aku bisa memperbaiki setidaknya mempertahankan nilai dengan dosen yang sama. Semester lalu aku sudah hampir gagal dalam mata kuliah pertama yang ku ambil dengan dosen itu, beliau memberiku nilai D. Nilai yang jelek tapi masih bisa dikategorikan lulus. Walaupun harus mengantongi nilai D, tapi aku merasa sedikit lega setidaknya aku masih bisa mengambil mata kulah lanjutan. Mata kuliah itu adalah prasyarat untuk mengambil mata kuliah berikutnya. Semester lalu aku masih bisa mengambil mata kuliah lanjutan. Karena mata kuliah prasyaratku tidak gagal.

Keadaan berbeda untuk semester ini. Langkahku terhambat untuk melanjutkan mata kuliah yang ditawarkan. Nilaiku tidak memenuhi syarat untuk bisa mengikuti mata kuliah lanjutan. Semester depan aku harus memgulang dulu mata kuliah yang gagal ini untuk memperbaiki nilai. Setelah lulus baru aku bisa mengambil mata kuliah berikutnya. Bebanku makin berat, karena aku harus benar-benar berjuang agar mendapatkan nilai yang lebih baik. Aku tidak boleh gagal untuk yang kedua kalinya di mata kuliah yang sama. Itu akan membuatku sama saja dengan keledai, karena jatuh pada lobang yang sama. Aku bukan keledai, aku manusia yang dikaruniai akal dan pikiran untuk dapat berbuat yang lebih baik. Aku juga tidak mau memperpanjang masa kuliahku hanya karena harus mengulang mata kuliah yang itu-itu aja.

Dibalik kekecawaan dan keterpurukan ku ini, masih menyisakan sedikit celah yang membuatku sedikit tegar. Karena aku bukan satu-satunya mahasiswa yang mengalami kegagalan dalam mata kuliah ini. Masih ada beberapa orang temanku yang nasibnya sama denganku. Hanya sepuluh orang yang lulus dari tigapuluh orang mahasiswa yang mengikuti perkuliahan dengan dosen itu. Setidaknya aku bukan satu-satunya orang yang gagal. Aku bukan satu-satunya pecundang. Aku bukan satu-satunya orang yang merugi. Yang jelas aku tidak sendiri. Tapi aku selalu bertanya-tanya kenapa hal sering ini terjadi, kejadian serupa juga terjadi di saat aku mengambil meta kuliah pertama kalinya dengan dosen ini, hanya beberapa orang dari kami yang dapat mencapai nilai yang baik. Menurut mahasiswa senior yang mengambil mata kuliah dan diajar oleh dosen yang sama. Hal serupa memang ada dari tahun ke tahun. Semenjak mata kuliah ini diajar oleh dosen yang mengajar saat ini. Aku heran apa yang salah. Kenapa hal ini terjadi berulang kali. Apa karena pelajarannya terlalu sulit sehingga mahasiswa tidak dapat menguasainya dengan baik. Tapi kenapa ada juga mahasiswa yang mendapat nilai bagus, dan mahasiswa yang di ajar dosen lain nilainya tidak separah nilai yang kami dapatkan. Atau karena factor cara dosen mengajar mempengaruhi penguasaan materi oleh mahasiswa.

Rasanya aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menguasai mata kuliah ini, walaupun aku kurang suka dengan cara mengajar dosennya, yang membuatku seharusnya suka menjadi muak dengan mata kuliah ini. Tapi aku tetap belajar dan mempersiapkan diri saat ujian. Sudahlah, whatever will be, will be. Apa yang terjadi, terjadilah. Bukan saatnya memikirkan dan mencari siapa yang salah. Bukan waktunya pula untuk terus meratapi dan menyesali diri. Sekarang waktunya untuk instrospeksi diri apa yang telah aku lakukan selama ini, sehingga menjadikan aku seorang yang gagal. Mungkin aku lalai dan tidak berusaha dengan maksimal. Ku akui memang usaha ku belum maksimal, aku masih menunda waktu belajar, aku belum mengerahklan segenap kemampuanku untuk menguasai materi kuliah. Sudah seharusnya aku mengambil hikmah dari kejadian ini, karena pengalaman adalah guru yang paling berharga. Kegagalan ini menjadin cambuk bagiku untuk bangkit lagi dan terus maju ke arah yang lebih baik.


Boekittinggi Again

Hobi travellingku kumat lagi. Biar tersalurkan aku mengajak kedua adikku untuk mememaniku jalan-jalan. Karena hobi kita sama, maka mereka mau banget waktu aku ngajak pergi. Semalaman kita membahas segala macam tentang rencana ini. Rapat pun berlangsung dengan seriusnya, mulai dari lokasi yang akan dikunjungi, ongkos dan segala macam yang ujung-ujungnya duit, sampai mencari siasat gimana caranya biar kita dapat izin dari ortua. Setelah melalui perundingan yang sengit dan dengan berbagai macam pertimbangan maka jadilah Bukittinggi sebagai objek sasaran kami. Walaupun rasanya udah berpuluh-puluhkali melanglang buana di kota yang terkenal dengan jan gadang ini, tetap saja masih ada keinginan untuk berkunjumg ke sana. Dan tetap saja dengan rute klasik Panorama – benteng – kebun binatang – jam gadang – pasar atas-pulang. Kami memilh Bukittngi karena lokasinya lumayan dekat dari rumah dan sekaligus untuk menghemat ongkos tentunya. Secara kita lagi kena kanker akut, alias kantong kering, Jadi sebisa mungkin menekan pengeluaran. Salah satunya dengan membawa bekal dari rumah. Karena biasanya harga makanan melonjak di tempat-tempat wisata. Kenapa harus membayar mahal untuk makanan yang sama toh kita juga bisa bikin di rumah dengan biaya murah. Intinya yang penting jalan-jalan dan bisa refreshing walau dengan uang pas-pasan.

Realita

Dalam keangkuhan kutetap melaju
Menjejaki setiap jengkal bumi yang ku pijak
Tak ada lagi air mata yang akan mengiringi kisah duka
Realita terus bicara seperti bertuan pada logika
Tanpa mengerti bahwa rasa masih ada bersemayam di dada
Aku menari di antara jelaga jelaga yang membumbung liar
Tanpa peduli hitam mewarnai raga yang seakan terbakar
Namun batin masih menyisakan kesucian tanpa noda
Karena Dunia bukan surga yang harus di agungkan
Bukan pula neraka yang harus dibinasakan
Dia hanya gerbang menuju keabdian.

I'm leaving You

Dear my lover….
Aku minta maaf atas keputusanku ini, keadaan memaksaku untuk menjauh darimu. Tak ada lagi alasan bagi kita untuk terus bersatu dalam hubungan ini. Karena akan menjadi bom waktu yang siap untuk meledak suatu saat nanti. Aku tak ingin semuanya menghancurkan hidupmu dan hidupku. Memang perpisahan sangat menyakitkan. Tapi aku sama sekali tak pernah menyesal pernah mengenalmu. Karena bersamamu aku telah belajar banyak hal. Dan kamu adalah orang yang sangat penting dalam hidupku. Mungkin tanpa kamu aku tak akan bisa mengenal arti cinta. Aku sangat berterima kasih karena kamu telah mencintaiku. Tapi cinta bukan satu satunya hal yang terpenting dalam sebuah hubungan. Aku tak pernah sedikitpun meragukan ketulusan cintamu, bahkan aku tak pernah mencintai sedalam kau mencintaiku. Banyak hal yang aku inginkan selain cinta dari mu, tapi sejauh ini aku tak pernah menemukannya dalam dirimu. Aku lelah menunggu, kau tak pernah berubah.
Babe,I’m leaving you…..



Resah

Apakah malam bisa menyembunyikan ke kalutanku?
Kalau begitu aku tak ingin malam berganti siang
Bersama bintang aku menari di balik purnama
Tapi kenapa hati terus resah seakan gelap malam menelanku
Mungkin mentari yang dapat mencerahkan hati yang suram
Tapi kenapa kalbu memanas seakan terbakar
Tak kutemukan tempat untuk lari
Hati tetap saja sunyi
Cinta tak pernah singgah saat aku ingin berlabuh




Lazy

Aktivitasku dimulai dari jam 5 pagi. Aku terbangun ketika mendengar azan berkumandang, suara muazin mengalun syahdu di telingaku. Karena jarak rumahku dekat dengan mesjid, suara dari pengeras suara terdengar jelas. Namun mataku tidak mau di ajak berkompromi, terasa sulit untuk di buka. Seakan ada pemberat yang membuatnya terpejam lagi. Udara dingin masuk ke dalam kamarku, reflek aku menarik selimut untuk menghangatkan tubuhku, sehingga membuatku enggan meninggalkan tempat tidur yang hangat dan nyaman. Aku melanjutkan kembali tidurku. Padahal semalam aku sudah berniat untuk bangun lebih awal dan pergi shalat subuh berjamaah ke mesjid. Sebelum tidur aku berdoa agar dibangunkan ketika azan subuh. Memang benar kata orang, bahwa malaikat akan membangunkan setiap insane dikala fajar untk menghadap Sang Khalik.
Escape From lazy

Metamorfosa


Waktu mengejarku, memasuki umur yang semakin menua. sebuah pencapaian usia yang mulai matang. Aku bukan anak-anak lagi dan masa remajaku juga sudah lewat. Gerbang kedewasaan mulai menapaki hidupku, lorong waktu terus berjalan tanpa aku sadari. Sudah dua puluh tahun berlalu sejak aku mulai membuka mata dan mengucapkan selamat datang pada dunia, saat itu aku bukan siapa-siapa. Makhluk mungil tak berdaya yang hanya bisa merengek agar orang-orang bisa memahamiku. Berada dalam dekapan hangat bunda, hanya itu yang membuatku nyaman, tanpa tau untuk apa aku dikeluarkan dari dari rahimnya dan bergabung dengan makluk dunia yang tidak aku kenal. Yang jelas aku telah membuat perjanjian dengan sang khalik, ketika ruh ditiupkan ke dalan ragaku, aku hanyalah seorang hamba yang ditugaskan untuk menjadi khalifah di muka bumi, dan suatu nanti saat aku akan kembali kepangkuan-Nya, sebuah kepastian yang tak pernah aku tahu kapan masanya. Inilah saatnya aku bersandiwara dalam panggung dunia, tentunya debgan skenario hebat dari sutradara yang maha agung. Apakah aku bisa membawakan peranku dengan mulus, tak terasa kepompong mulai menjalani metamorfosa kehidupan menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.



Lonely


Kadang aku merasa orang yang paling kesepian di dunia. Walaupun banyak orang menemani hari-hariku. Keluarga dan sahabat-sahabat yang menyayangiku, tapi sepertinya itu tidak lengkap, seperti ada yang kurang dalam hidupku. Ada ruang kosong di sudut hatiku yang belum terisi. Jiwaku terasa belum sempurna. Aku selalu berharap Tuhan mengirim seseorang untuk mengisi ruang hampa di hatiku.

Aku butuh seseorang yang selalu ada untukku, mendampingiku setiap saat, tempat berbagi cerita, dan seseorang tempat aku bersandar ketika lelah. Teman hidup yang paling memahami siapa diriku, melebihi aku mengerti siapa diriku sendiri. Seseorang yang selalu memperhatikan kebutuhannku dan memahamiku seutuhnya.

Aku percaya bahwa belahan jiwa itu memang ada. Dia ada di suatu tempat yang tak pernah aku ketahui. Dan pastinya akan tetap menjadi rahasia ilahi sampai waktunya tiba. Suatu saat nanti, di waktu yang tepat Tuhan akan mempertemukan kami, untuk menyatukan hati dan jiwa yang terpisah. Memang, waktunya bukan sekarang, karena semua akan indah pada waktunya.




Talk Less Do More

“Putuskan apa yang kau inginkan, dan berusahalah untuk menjadikannya kenyataan.

Jangan sampai kau lupa hidup karena terlalu sibuk bermimpi”

(Joseph, When Tomorrow Comes – Peter O’Connor)



2010/04/19

Rumah Puisi Taufiq Ismail







Taufik Ismail

DUA GUNUNG KEPADAKU BICARA

Kepada Singgalang bertanya aku
Wahai gunung masa kanakku di lututmu kampung ibuku
Kenapa indahmu dari dahulu tak habis-habis jadi rinduku
kepada Merapi berkata aku
Wahai gunung masa bayiku di telapakmu kampung ayahku
Kenapa gagahmu dari dahulu tak habis-habis dari ingatanku
Kedua gunung tentu saja
Cuaca dingin bahasanya
Kabut putih kosa katanya
Rintik hujan ungkapnnya
Senyap biru bisikannya
Kepada dua gunung kuulang tanya
Berjawab lewat desahan jutaan daun rimba raya
Bergema begitu indahnya lewat margasatwa
Ombak nyanyian insekta betapa merdunya
Bertanyalah pada Yang Di Atas Sana

( Idul Adha, Senin, 8 Desember 2008. Nagari Aie Angek, di seberang Nagari Pandai Sikek)

Decak kagum keluar dari bibirku saat membaca puisi karya sang maestro Taufik Ismail yang terpampang di dinding luar sebuah ruangan di kompleks Rumah Puisi.
Sampai detik ini aku masih mengagumi sosok Taufik Ismail dengan mahakaryanya yang membuatku merinding ketika membacanya. Karena alasan itu pula aku menyempatkan diri untuk singgah ke Rumah Puisi Taufik Ismail, padahal sudah setahun lebih bangunan itu berdiri, namun baru kali ini aku bisa menapakinya.

Rumah Puisi ini terletak di Jl. Raya Padangpanjang-Bukittinggi, Km. 6, Nagari Aie Angek Kec. X Koto, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat, tepatnya di kaki gunung Merapi, berseberangan dengan daerahku yaitu Nagari Pandai Sikek yang terletak di kaki gunung Singgalang. Jaraknya cukup dekat dari tempat aku tinggal, sekitar limabelas menit perjalanan dengan kendaraan. Berada si sana kita akan di suguhi pemandangan indah dari kedua lereng gunung, Sejauh mata memandang terlhat hamparan sawah dan ladang yang luas.Selain bisa menikmati puisi dan
karya sastra, di sini kita juga di suguhi pemandangan alam yang memikat. Serta taman bunga yang indah terbentang di halamannya, menggelitik mata siapa saja yang memandang.

Ketika aku berkunjung, tak satupun pengunjung lain yang datang. pengunjung hanya kami berdua yaitu aku dan Nina. Selebihnya para karyawan yang bertugas menjaga dan merawat lingkungan Rumah Puisi, serta terdapat beberapa orang pekerja bangunan yang sibuk menyelesaikan pembangunan komplek tersebut. Memang kawasan itu belum selesai seratus persen, masih ada beberapa bangunan yang masih berada dalam proses penyelesaian. Namun gedung utamanya telah lebih dulu siap dan dapat dikunjungi. Sebuah ruangan yang lumayan besar, di dalamnya terdapat aula, ruang baca, dan perpustakaan koleksi karya Taufik Ismail serta koleksi buku sastra lainnya. Namun sayang aku tidak dapat masuk ke dalam untuk membaca koleksi buku di sana. Aku nggak tau kenapa hari ini Rumah puisi tutup, padahal bukan hari libur. Tapi it's ok, toh aku masih bisa menikmatinya dari luar, mungkin rumah puisi menginginkan aku berulang kali mengunjunginya. Yeah, next time I'll be there. I love this place.



2010/04/03

Failure

Mimpi buruk yang menghantuiku selama semester ini ternyata benar-benar terjadi. Sungguh diluar dugaan. Aku berharap ini hanya imajinasi dan bayangan ketakutanku saja. Namun realita tak dapat menutup-nutupi fakta yang ada. Kenyataan pahit yang harus aku terima dengan lapang dada meski sulit bagiku untuk menerima keadaan bahwa aku adalah seorang yang gagal. Aku telah gagal dalam mempertahankan nilai mata kuliahku kali ini. Nilai E terpampang jelas di kartu hasil studiku. Huruf yang sangat menyudutkanku, membuat perutku mual, membuat dadaku sesak, dan melemahkan pertahanan saat aku berdiri tegap.

Teringat saat aku pertama memeriksa nilaiku, dengan perasaan berkecamuk, rasa cemas yang terus menggerogoti pikiranku. Perlahan-lahan dan seksama mataku menyusuri deretan nilai yang baru dikeluarkan oleh dosen. Mataku berhenti pada satu titik, tepat dimana nama dan nomor bp ku tertera. Aku hanya tertegun dan bergeming menyaksikan huruf yang tertera disana. Tubuhku terasa lemas seolah energiku di serap oleh huruf yang beraura negatif itu. Huruf yang menghempaskan harapanku, menatapku sinis seolah menyeringai menertawakan kebodohanku. Menghujatku sebagai seorang pecundang.

Yah aku seorang pecundang. Aku seorang yang gagal. Aku seorang yang merugi. Aku tidak bisa memerbaiki nilaiku menjadi lebih baik. Jangankan untuk meningkatkan nilai mempertahankannya saja aku tidak sanggup. Meski mata kuliah berbeda namun dosennya tetap itu juga. Semestinya aku bisa memperbaiki setidaknya mempertahankan nilai dengan dosen yang sama. Semester lalu aku sudah hampir gagal dalam mata kuliah pertama yang ku ambil dengan dosen itu, beliau memberiku nilai D. Nilai yang jelek tapi masih bisa dikategorikan lulus. Walaupun harus mengantongi nilai D, tapi aku merasa sedikit lega setidaknya aku masih bisa mengambil mata kulah lanjutan. Mata kuliah itu adalah prasyarat untuk mengambil mata kuliah berikutnya. Semester lalu aku masih bisa mengambil mata kuliah lanjutan. Karena mata kuliah prasyaratku tidak gagal.

Keadaan berbeda untuk semester ini. Langkahku terhambat untuk melanjutkan mata kuliah yang ditawarkan. Nilaiku tidak memenuhi syarat untuk bisa mengikuti mata kuliah lanjutan. Semester depan aku harus memgulang dulu mata kuliah yang gagal ini untuk memperbaiki nilai. Setelah lulus baru aku bisa mengambil mata kuliah berikutnya. Bebanku makin berat, karena aku harus benar-benar berjuang agar mendapatkan nilai yang lebih baik. Aku tidak boleh gagal untuk yang kedua kalinya di mata kuliah yang sama. Itu akan membuatku sama saja dengan keledai, karena jatuh pada lobang yang sama. Aku bukan keledai, aku manusia yang dikaruniai akal dan pikiran untuk dapat berbuat yang lebih baik. Aku juga tidak mau memperpanjang masa kuliahku hanya karena harus mengulang mata kuliah yang itu-itu aja.

Dibalik kekecawaan dan keterpurukan ku ini, masih menyisakan sedikit celah yang membuatku sedikit tegar. Karena aku bukan satu-satunya mahasiswa yang mengalami kegagalan dalam mata kuliah ini. Masih ada beberapa orang temanku yang nasibnya sama denganku. Hanya sepuluh orang yang lulus dari tigapuluh orang mahasiswa yang mengikuti perkuliahan dengan dosen itu. Setidaknya aku bukan satu-satunya orang yang gagal. Aku bukan satu-satunya pecundang. Aku bukan satu-satunya orang yang merugi. Yang jelas aku tidak sendiri. Tapi aku selalu bertanya-tanya kenapa hal sering ini terjadi, kejadian serupa juga terjadi di saat aku mengambil meta kuliah pertama kalinya dengan dosen ini, hanya beberapa orang dari kami yang dapat mencapai nilai yang baik. Menurut mahasiswa senior yang mengambil mata kuliah dan diajar oleh dosen yang sama. Hal serupa memang ada dari tahun ke tahun. Semenjak mata kuliah ini diajar oleh dosen yang mengajar saat ini. Aku heran apa yang salah. Kenapa hal ini terjadi berulang kali. Apa karena pelajarannya terlalu sulit sehingga mahasiswa tidak dapat menguasainya dengan baik. Tapi kenapa ada juga mahasiswa yang mendapat nilai bagus, dan mahasiswa yang di ajar dosen lain nilainya tidak separah nilai yang kami dapatkan. Atau karena factor cara dosen mengajar mempengaruhi penguasaan materi oleh mahasiswa.

Rasanya aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menguasai mata kuliah ini, walaupun aku kurang suka dengan cara mengajar dosennya, yang membuatku seharusnya suka menjadi muak dengan mata kuliah ini. Tapi aku tetap belajar dan mempersiapkan diri saat ujian. Sudahlah, whatever will be, will be. Apa yang terjadi, terjadilah. Bukan saatnya memikirkan dan mencari siapa yang salah. Bukan waktunya pula untuk terus meratapi dan menyesali diri. Sekarang waktunya untuk instrospeksi diri apa yang telah aku lakukan selama ini, sehingga menjadikan aku seorang yang gagal. Mungkin aku lalai dan tidak berusaha dengan maksimal. Ku akui memang usaha ku belum maksimal, aku masih menunda waktu belajar, aku belum mengerahklan segenap kemampuanku untuk menguasai materi kuliah. Sudah seharusnya aku mengambil hikmah dari kejadian ini, karena pengalaman adalah guru yang paling berharga. Kegagalan ini menjadin cambuk bagiku untuk bangkit lagi dan terus maju ke arah yang lebih baik.


2010/03/25

Boekittinggi Again

Hobi travellingku kumat lagi. Biar tersalurkan aku mengajak kedua adikku untuk mememaniku jalan-jalan. Karena hobi kita sama, maka mereka mau banget waktu aku ngajak pergi. Semalaman kita membahas segala macam tentang rencana ini. Rapat pun berlangsung dengan seriusnya, mulai dari lokasi yang akan dikunjungi, ongkos dan segala macam yang ujung-ujungnya duit, sampai mencari siasat gimana caranya biar kita dapat izin dari ortua. Setelah melalui perundingan yang sengit dan dengan berbagai macam pertimbangan maka jadilah Bukittinggi sebagai objek sasaran kami. Walaupun rasanya udah berpuluh-puluhkali melanglang buana di kota yang terkenal dengan jan gadang ini, tetap saja masih ada keinginan untuk berkunjumg ke sana. Dan tetap saja dengan rute klasik Panorama – benteng – kebun binatang – jam gadang – pasar atas-pulang. Kami memilh Bukittngi karena lokasinya lumayan dekat dari rumah dan sekaligus untuk menghemat ongkos tentunya. Secara kita lagi kena kanker akut, alias kantong kering, Jadi sebisa mungkin menekan pengeluaran. Salah satunya dengan membawa bekal dari rumah. Karena biasanya harga makanan melonjak di tempat-tempat wisata. Kenapa harus membayar mahal untuk makanan yang sama toh kita juga bisa bikin di rumah dengan biaya murah. Intinya yang penting jalan-jalan dan bisa refreshing walau dengan uang pas-pasan.

2010/03/14

Realita

Dalam keangkuhan kutetap melaju
Menjejaki setiap jengkal bumi yang ku pijak
Tak ada lagi air mata yang akan mengiringi kisah duka
Realita terus bicara seperti bertuan pada logika
Tanpa mengerti bahwa rasa masih ada bersemayam di dada
Aku menari di antara jelaga jelaga yang membumbung liar
Tanpa peduli hitam mewarnai raga yang seakan terbakar
Namun batin masih menyisakan kesucian tanpa noda
Karena Dunia bukan surga yang harus di agungkan
Bukan pula neraka yang harus dibinasakan
Dia hanya gerbang menuju keabdian.

I'm leaving You

Dear my lover….
Aku minta maaf atas keputusanku ini, keadaan memaksaku untuk menjauh darimu. Tak ada lagi alasan bagi kita untuk terus bersatu dalam hubungan ini. Karena akan menjadi bom waktu yang siap untuk meledak suatu saat nanti. Aku tak ingin semuanya menghancurkan hidupmu dan hidupku. Memang perpisahan sangat menyakitkan. Tapi aku sama sekali tak pernah menyesal pernah mengenalmu. Karena bersamamu aku telah belajar banyak hal. Dan kamu adalah orang yang sangat penting dalam hidupku. Mungkin tanpa kamu aku tak akan bisa mengenal arti cinta. Aku sangat berterima kasih karena kamu telah mencintaiku. Tapi cinta bukan satu satunya hal yang terpenting dalam sebuah hubungan. Aku tak pernah sedikitpun meragukan ketulusan cintamu, bahkan aku tak pernah mencintai sedalam kau mencintaiku. Banyak hal yang aku inginkan selain cinta dari mu, tapi sejauh ini aku tak pernah menemukannya dalam dirimu. Aku lelah menunggu, kau tak pernah berubah.
Babe,I’m leaving you…..



Resah

Apakah malam bisa menyembunyikan ke kalutanku?
Kalau begitu aku tak ingin malam berganti siang
Bersama bintang aku menari di balik purnama
Tapi kenapa hati terus resah seakan gelap malam menelanku
Mungkin mentari yang dapat mencerahkan hati yang suram
Tapi kenapa kalbu memanas seakan terbakar
Tak kutemukan tempat untuk lari
Hati tetap saja sunyi
Cinta tak pernah singgah saat aku ingin berlabuh




Lazy

Aktivitasku dimulai dari jam 5 pagi. Aku terbangun ketika mendengar azan berkumandang, suara muazin mengalun syahdu di telingaku. Karena jarak rumahku dekat dengan mesjid, suara dari pengeras suara terdengar jelas. Namun mataku tidak mau di ajak berkompromi, terasa sulit untuk di buka. Seakan ada pemberat yang membuatnya terpejam lagi. Udara dingin masuk ke dalam kamarku, reflek aku menarik selimut untuk menghangatkan tubuhku, sehingga membuatku enggan meninggalkan tempat tidur yang hangat dan nyaman. Aku melanjutkan kembali tidurku. Padahal semalam aku sudah berniat untuk bangun lebih awal dan pergi shalat subuh berjamaah ke mesjid. Sebelum tidur aku berdoa agar dibangunkan ketika azan subuh. Memang benar kata orang, bahwa malaikat akan membangunkan setiap insane dikala fajar untk menghadap Sang Khalik.
Escape From lazy

Metamorfosa


Waktu mengejarku, memasuki umur yang semakin menua. sebuah pencapaian usia yang mulai matang. Aku bukan anak-anak lagi dan masa remajaku juga sudah lewat. Gerbang kedewasaan mulai menapaki hidupku, lorong waktu terus berjalan tanpa aku sadari. Sudah dua puluh tahun berlalu sejak aku mulai membuka mata dan mengucapkan selamat datang pada dunia, saat itu aku bukan siapa-siapa. Makhluk mungil tak berdaya yang hanya bisa merengek agar orang-orang bisa memahamiku. Berada dalam dekapan hangat bunda, hanya itu yang membuatku nyaman, tanpa tau untuk apa aku dikeluarkan dari dari rahimnya dan bergabung dengan makluk dunia yang tidak aku kenal. Yang jelas aku telah membuat perjanjian dengan sang khalik, ketika ruh ditiupkan ke dalan ragaku, aku hanyalah seorang hamba yang ditugaskan untuk menjadi khalifah di muka bumi, dan suatu nanti saat aku akan kembali kepangkuan-Nya, sebuah kepastian yang tak pernah aku tahu kapan masanya. Inilah saatnya aku bersandiwara dalam panggung dunia, tentunya debgan skenario hebat dari sutradara yang maha agung. Apakah aku bisa membawakan peranku dengan mulus, tak terasa kepompong mulai menjalani metamorfosa kehidupan menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.



Lonely


Kadang aku merasa orang yang paling kesepian di dunia. Walaupun banyak orang menemani hari-hariku. Keluarga dan sahabat-sahabat yang menyayangiku, tapi sepertinya itu tidak lengkap, seperti ada yang kurang dalam hidupku. Ada ruang kosong di sudut hatiku yang belum terisi. Jiwaku terasa belum sempurna. Aku selalu berharap Tuhan mengirim seseorang untuk mengisi ruang hampa di hatiku.

Aku butuh seseorang yang selalu ada untukku, mendampingiku setiap saat, tempat berbagi cerita, dan seseorang tempat aku bersandar ketika lelah. Teman hidup yang paling memahami siapa diriku, melebihi aku mengerti siapa diriku sendiri. Seseorang yang selalu memperhatikan kebutuhannku dan memahamiku seutuhnya.

Aku percaya bahwa belahan jiwa itu memang ada. Dia ada di suatu tempat yang tak pernah aku ketahui. Dan pastinya akan tetap menjadi rahasia ilahi sampai waktunya tiba. Suatu saat nanti, di waktu yang tepat Tuhan akan mempertemukan kami, untuk menyatukan hati dan jiwa yang terpisah. Memang, waktunya bukan sekarang, karena semua akan indah pada waktunya.




Talk Less Do More

“Putuskan apa yang kau inginkan, dan berusahalah untuk menjadikannya kenyataan.

Jangan sampai kau lupa hidup karena terlalu sibuk bermimpi”

(Joseph, When Tomorrow Comes – Peter O’Connor)



Copyright @ Miscellaneous Thoughts | Floral Day theme designed by SimplyWP | Bloggerized by GirlyBlogger | Distributed by: best blogger template personal best blogger magazine theme | cheapest vpn for mac cheap vpn with open ports