“ Apakah engkau tidak pernah merasa, bahwa subsidi pendidikan yang oleh negara diberikan padamu untuk kelancaran kuliahmu adalah sebuah amanah? Amanah dari rakyat, amanah dari keringat serta penderitaan mereka, karena subsidi itu berasal dari pajak. Pajak yang dibayarkan dari pedagang, dari tukang becak yang membeli indomie misalnya, dari buruh yang membeli rokok, dari pemulung, dari pengemis, dari penjudi, dari pemabuk. Mereka semua menyimpan harapan bahwa kelak, engkau akan membangun bangsa ini menjadi lebih baik, karena mereka percaya bahwa engkau adalah kaum terdidik. Lalu bagaimana engkau bisa, menghamburkan waktumu dengan sibuk berjam-jam setiap hari memencet-mencet SMS, berhalo-halo menghamburkan uang bersama pacar-pacarmu, merusak komputermu dengan suara-suara dan gambar-gambar VCD bajakan, menghabiskan waktu dengan mengakses situs-situs tak bermutu di internet, berhura-hura di cafe-cafe, begadang tak menentu sampai larut malam untuk kemudian siangnya engkau mengantuk? Apakah engkau tahu, bahwa mengkhianati amanah jutaan rakyat adalah sebuah dosa besar, yang kelak akan engkau pertanggungjawabkan dengan berat di hadapan Tuhanmu?
Desperado
Labels:
Fiksi
Pada hakikatku berkisah. Cerita hidup sepi, sebatang kara. Biarkanlah kuberbagi pada kalian, yang belum merasakan arti sebuah kesendirian. Selami tiap inci hatiku, kau akan temukan sebidang tanah lapang, tandus, panas, gersang, hampa. Tak ada unsur apapun di sana. Bahkan setetes cinta.
Kawan, dulu aku adalah telaga, dulu aku adalah kebun anggur, dulu aku adalah muara. Dulu, dulu sekali, hingga kini kulelah dengan kata dulu. Tahukah kau mengapa? Karena dulu merupakan sejarah usang. Dulu buatku adalah penyesalan.
Siasat Pemburu Cerita
Labels:
Buku
Salah satu tempat cuci mata yang gak cuma menyegarkan mata tapi juga menormalkan kembali kesembrawutan saraf otak karena harus kerja rodi mencerna materi pelajaran selama beberapa bulan ini adalah toko buku. Target utama saya tentu saya bukan buku-buku kuliah ataupun buku yang membutuhkan kernyitan dahi untuk membacanya. Saya hanya lagi butuh buku-buku hiburan, seperti novel, kumpulan cerpen, buku cerita, pokoknya yang berbau fiksi. Rasanya pengen menghilang dulu dari realita yang menjemukan ini, lalu menenggelamkan diri ke dunia fantasi yang diciptakan si pengarang. Imajinasi saya perlu dibangkitkan lagi, setelah sekian lama otak saya diajak untuk berpikir keras tentang rasionalitas. Sekarang saatnya memanjakan kepala dengan suplai bacaan yang menyegarkan.
Mahakarya Bulan Puasa
Labels:
Motivasi
Rasa syukur yang tak hingga bagi Allah SWT yang masih memberikan saya kesempatan untuk menikmati indahnya Ramadhan tahun ini. Karena Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan ampunan, saya sadar bahwa begitu banyak dosa yang telah saya perbuat dan pahala yang masih sedikit saya tabung. Mudah-mudahan Ramadhan kali ini akan menjadi ajang bagi saya untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah SWT.
Saya berharap bulan ini target dunia akhirat saya tercapai. Tujuan akhirat tentu saja ibadah yang lebih baik, mengejar pahala palaha sebesar-besarnya. Sedangkan untuk target dunia, saya tengah berjibaku dengan sebuah mahakarya yang disebut skipsi. Semoga puasa menjadikan saya semakin giat menggarap skipsi yang tak kunjung selesai ini. Bagaimanapun juga tahun ini saya harus segera mengakhiri predikat saya sebagai mahasiswa. I promise!
Lontar Maaf
Meski kesempatan tak memberi kuasa untuk berjabat
Lewat aksara virtual ini
Izinkan aku melontarkan padamu
Sebentuk permohonan maaf
Atas salah dan khilaf yang pernah tertoreh
Sepanjang perjalanan kita
Sebab aku yang terkadang tak santun dalan bertutur
Sebab tingkah yang tak selalu patut dalam berlaku
Mungkin saja duri terselip di sela cengkerama
Sepantasnyalah kita, aku dan kamu
Sepantasnyalah kita, aku dan kamu
Saling memaafkan satu sama lain
Hingga kujemput Ramadhan dengan kesucian kalbu.
Last Season
Labels:
personal
Tahun terakhir kuliah menjadi ajang kumpul-kumpul yang lebih intens bagi saya dan teman-tema kuliah. Karena tidak lama lagi masing-masing dari kita mau tidak mau harus meninggalkan kampus tercinta. Dan tentu saja kebersamaan yang telah terjalalin hampir empat tahun akan segera usai. Sekarang aja udah ada dari beberapa teman seangkatan yang wisuda, walaupun gak banyak sih, tapi tetap membuktikan bahwa dari angkatan kita tetap ada yang melejit, tamat dengan predikat summa cum laude. Bahkan ada beberapa orang teman yang sudah punya kursi di dunia kerja, meskipun mereka belum tamat. Mereka berhasil menaklukkan tes masuk Price Waterhaouse Coopers (PWC), salah satu dari empat kantor akuntan publik terbesar di dunia. Keberuntungan-keberuntungan yang menjadi idaman setiap mahasiswa dimana pun, termasuk saya.
I Have A Dream
Labels:
personal
Saya punya mimpi dalam hidup. Sangat banyak. Tak perlu dirinci, karena kasihan jari ini mengeja sejuta impian yang bersemanyam di kepala. Sepertinya tidak patut pula saya ceritakan pada orang-orang tentang mimpi yang terus menghantui hari-hari saya. Mungkin saja mereka akan mencela, mengatai sebagai tukang khayal, bahkan menuduh saya kurang waras.
Tapi ini bukan hanya fantasi belaka. Bukan pula bunga tidur yang dilupakan setelah terbangun. Imajinasi liar saya tumbuh seolah-olah nyata dan terus tumbuh dalam jiwa dan raga. Tidak sekedar mimpi, tapi sebuah harapan yang menjadi tujuan hidup. Bagaimana mungkin membinasakanya. Kalau kebahagiaan saya melekat pada asa. Ruh saya seperti sudah menyatu dengan mimpi-mimpi. Apalah arti perjalanan tanpa suatu tujuan. Tak bisa saya bayangkan betapa hampa dan kosongnya hidup saya tanpa sebuah cita. Denyut hidup saya lebih terasa berdetak dengan adanya obsesi. Kehidupan saya menjadi terasa begitu bergairah.
Penyangga Rapuh
Labels:
Cupid Poems
Gulanaku berserak sepanjang jalan
seiring perlina kidung harapan
seiring perlina kidung harapan
Darahpun berceceran di jalan bersalju
noda memeta di hamparan putih
melukiskan jejak sebentuk cacat
melukiskan jejak sebentuk cacat
Ternyata sebilah pisau berkarat
terselip di balik lidahmu
mengoyakkkan sayap-sayap
membilah sesayat kalbu
Badai pun menerjang sekat amarah
mengoyakkkan sayap-sayap
membilah sesayat kalbu
Badai pun menerjang sekat amarah
Merambah penyangga rapuh
tanpa menyisakan secuil pegangan utuh
tanpa menyisakan secuil pegangan utuh
aku kehilangan pilar tempat bersandar
Lara Juli
Labels:
Flash Fiction
Namaku Juli. Tepat pertengahan bulan ketujuh kala itu aku berulang tahun yang sepuluh. Seperti biasa, tak pernah ada kado, lilin, kue, nyanyian, pesta, bahkan ucapan selamat ulang tahun. Tapi aku selalu bahagia. Aku merayakannya sendiri dalam hati sambil berpesta dengan Tuhan. Aku tahu Tuhan bersamaku, meski orang-orang melupakan momen pertama kali aku menyapa dunia bahkan hampir melupakan keberadaanku. Kulalui dengan senang hati.
Namun, kali ini tak lagi aku gembira. Kesedihan menyelimuti hariku. Ulang tahun terpahit yang pernah aku lalui. Kata bu guru, raporku kebakaran.Aku tinggal kelas! Oh alangkah bodohnya diriku. Apa kata papa nanti? Pasti beliau kecewa lagi. Ingin aku bicara dengan papa dan menjelaskan duduk perkaranya. Kutunggu papa didepan pintu hingga penghujung senja. Beliu tak muncul. Sampai malam papa tak jua datang.
Namun, kali ini tak lagi aku gembira. Kesedihan menyelimuti hariku. Ulang tahun terpahit yang pernah aku lalui. Kata bu guru, raporku kebakaran.Aku tinggal kelas! Oh alangkah bodohnya diriku. Apa kata papa nanti? Pasti beliau kecewa lagi. Ingin aku bicara dengan papa dan menjelaskan duduk perkaranya. Kutunggu papa didepan pintu hingga penghujung senja. Beliu tak muncul. Sampai malam papa tak jua datang.
Tengah malam bagai mimpi buruk aku tersentak mendengar suara bariton lelaki yang kucintai. Dia berteriak-teriak sambil mengemasi pakaiannya, dan kulihat mama menangis di sudut kamar setelah mereka bertengkar hebat. Dengan tangis terisak kusaksikan papa melesat hilang ditelan malam. Papa meninggalkanku, meninggalkan adik-adik, meninggalkan mama. Betapa jerinya hatiku. Papa pergi! Tak kujumpai lagi papa sejak malam itu. Aku rasa dibuang.
Putri kecil hapus laramu. Hidup terkadang pahit, tapi kamu bisa membuatnya manis dengan lirih do’a yang kau untai dalam sujudmu. Sebelum tidur, jangan lupa selipkan mimpimu di bawah bantal, karena ibu peri masih setia mengirimkannya ke langit. Hingga Tuhan menjadikannya nyata.
Subscribe to:
Posts (Atom)
2011/08/06
Tanya Kenapa
“ Apakah engkau tidak pernah merasa, bahwa subsidi pendidikan yang oleh negara diberikan padamu untuk kelancaran kuliahmu adalah sebuah amanah? Amanah dari rakyat, amanah dari keringat serta penderitaan mereka, karena subsidi itu berasal dari pajak. Pajak yang dibayarkan dari pedagang, dari tukang becak yang membeli indomie misalnya, dari buruh yang membeli rokok, dari pemulung, dari pengemis, dari penjudi, dari pemabuk. Mereka semua menyimpan harapan bahwa kelak, engkau akan membangun bangsa ini menjadi lebih baik, karena mereka percaya bahwa engkau adalah kaum terdidik. Lalu bagaimana engkau bisa, menghamburkan waktumu dengan sibuk berjam-jam setiap hari memencet-mencet SMS, berhalo-halo menghamburkan uang bersama pacar-pacarmu, merusak komputermu dengan suara-suara dan gambar-gambar VCD bajakan, menghabiskan waktu dengan mengakses situs-situs tak bermutu di internet, berhura-hura di cafe-cafe, begadang tak menentu sampai larut malam untuk kemudian siangnya engkau mengantuk? Apakah engkau tahu, bahwa mengkhianati amanah jutaan rakyat adalah sebuah dosa besar, yang kelak akan engkau pertanggungjawabkan dengan berat di hadapan Tuhanmu?
Desperado
Pada hakikatku berkisah. Cerita hidup sepi, sebatang kara. Biarkanlah kuberbagi pada kalian, yang belum merasakan arti sebuah kesendirian. Selami tiap inci hatiku, kau akan temukan sebidang tanah lapang, tandus, panas, gersang, hampa. Tak ada unsur apapun di sana. Bahkan setetes cinta.
Kawan, dulu aku adalah telaga, dulu aku adalah kebun anggur, dulu aku adalah muara. Dulu, dulu sekali, hingga kini kulelah dengan kata dulu. Tahukah kau mengapa? Karena dulu merupakan sejarah usang. Dulu buatku adalah penyesalan.
Siasat Pemburu Cerita
Salah satu tempat cuci mata yang gak cuma menyegarkan mata tapi juga menormalkan kembali kesembrawutan saraf otak karena harus kerja rodi mencerna materi pelajaran selama beberapa bulan ini adalah toko buku. Target utama saya tentu saya bukan buku-buku kuliah ataupun buku yang membutuhkan kernyitan dahi untuk membacanya. Saya hanya lagi butuh buku-buku hiburan, seperti novel, kumpulan cerpen, buku cerita, pokoknya yang berbau fiksi. Rasanya pengen menghilang dulu dari realita yang menjemukan ini, lalu menenggelamkan diri ke dunia fantasi yang diciptakan si pengarang. Imajinasi saya perlu dibangkitkan lagi, setelah sekian lama otak saya diajak untuk berpikir keras tentang rasionalitas. Sekarang saatnya memanjakan kepala dengan suplai bacaan yang menyegarkan.
2011/08/03
Mahakarya Bulan Puasa
Rasa syukur yang tak hingga bagi Allah SWT yang masih memberikan saya kesempatan untuk menikmati indahnya Ramadhan tahun ini. Karena Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan ampunan, saya sadar bahwa begitu banyak dosa yang telah saya perbuat dan pahala yang masih sedikit saya tabung. Mudah-mudahan Ramadhan kali ini akan menjadi ajang bagi saya untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah SWT.
Saya berharap bulan ini target dunia akhirat saya tercapai. Tujuan akhirat tentu saja ibadah yang lebih baik, mengejar pahala palaha sebesar-besarnya. Sedangkan untuk target dunia, saya tengah berjibaku dengan sebuah mahakarya yang disebut skipsi. Semoga puasa menjadikan saya semakin giat menggarap skipsi yang tak kunjung selesai ini. Bagaimanapun juga tahun ini saya harus segera mengakhiri predikat saya sebagai mahasiswa. I promise!
2011/07/31
Lontar Maaf
Meski kesempatan tak memberi kuasa untuk berjabat
Lewat aksara virtual ini
Izinkan aku melontarkan padamu
Sebentuk permohonan maaf
Atas salah dan khilaf yang pernah tertoreh
Sepanjang perjalanan kita
Sebab aku yang terkadang tak santun dalan bertutur
Sebab tingkah yang tak selalu patut dalam berlaku
Mungkin saja duri terselip di sela cengkerama
Sepantasnyalah kita, aku dan kamu
Sepantasnyalah kita, aku dan kamu
Saling memaafkan satu sama lain
Hingga kujemput Ramadhan dengan kesucian kalbu.
2011/07/28
Last Season
Tahun terakhir kuliah menjadi ajang kumpul-kumpul yang lebih intens bagi saya dan teman-tema kuliah. Karena tidak lama lagi masing-masing dari kita mau tidak mau harus meninggalkan kampus tercinta. Dan tentu saja kebersamaan yang telah terjalalin hampir empat tahun akan segera usai. Sekarang aja udah ada dari beberapa teman seangkatan yang wisuda, walaupun gak banyak sih, tapi tetap membuktikan bahwa dari angkatan kita tetap ada yang melejit, tamat dengan predikat summa cum laude. Bahkan ada beberapa orang teman yang sudah punya kursi di dunia kerja, meskipun mereka belum tamat. Mereka berhasil menaklukkan tes masuk Price Waterhaouse Coopers (PWC), salah satu dari empat kantor akuntan publik terbesar di dunia. Keberuntungan-keberuntungan yang menjadi idaman setiap mahasiswa dimana pun, termasuk saya.
2011/07/25
I Have A Dream
Saya punya mimpi dalam hidup. Sangat banyak. Tak perlu dirinci, karena kasihan jari ini mengeja sejuta impian yang bersemanyam di kepala. Sepertinya tidak patut pula saya ceritakan pada orang-orang tentang mimpi yang terus menghantui hari-hari saya. Mungkin saja mereka akan mencela, mengatai sebagai tukang khayal, bahkan menuduh saya kurang waras.
Tapi ini bukan hanya fantasi belaka. Bukan pula bunga tidur yang dilupakan setelah terbangun. Imajinasi liar saya tumbuh seolah-olah nyata dan terus tumbuh dalam jiwa dan raga. Tidak sekedar mimpi, tapi sebuah harapan yang menjadi tujuan hidup. Bagaimana mungkin membinasakanya. Kalau kebahagiaan saya melekat pada asa. Ruh saya seperti sudah menyatu dengan mimpi-mimpi. Apalah arti perjalanan tanpa suatu tujuan. Tak bisa saya bayangkan betapa hampa dan kosongnya hidup saya tanpa sebuah cita. Denyut hidup saya lebih terasa berdetak dengan adanya obsesi. Kehidupan saya menjadi terasa begitu bergairah.
2011/07/23
Penyangga Rapuh
Gulanaku berserak sepanjang jalan
seiring perlina kidung harapan
seiring perlina kidung harapan
Darahpun berceceran di jalan bersalju
noda memeta di hamparan putih
melukiskan jejak sebentuk cacat
melukiskan jejak sebentuk cacat
Ternyata sebilah pisau berkarat
terselip di balik lidahmu
mengoyakkkan sayap-sayap
membilah sesayat kalbu
Badai pun menerjang sekat amarah
mengoyakkkan sayap-sayap
membilah sesayat kalbu
Badai pun menerjang sekat amarah
Merambah penyangga rapuh
tanpa menyisakan secuil pegangan utuh
tanpa menyisakan secuil pegangan utuh
aku kehilangan pilar tempat bersandar
2011/07/05
Lara Juli
Namaku Juli. Tepat pertengahan bulan ketujuh kala itu aku berulang tahun yang sepuluh. Seperti biasa, tak pernah ada kado, lilin, kue, nyanyian, pesta, bahkan ucapan selamat ulang tahun. Tapi aku selalu bahagia. Aku merayakannya sendiri dalam hati sambil berpesta dengan Tuhan. Aku tahu Tuhan bersamaku, meski orang-orang melupakan momen pertama kali aku menyapa dunia bahkan hampir melupakan keberadaanku. Kulalui dengan senang hati.
Namun, kali ini tak lagi aku gembira. Kesedihan menyelimuti hariku. Ulang tahun terpahit yang pernah aku lalui. Kata bu guru, raporku kebakaran.Aku tinggal kelas! Oh alangkah bodohnya diriku. Apa kata papa nanti? Pasti beliau kecewa lagi. Ingin aku bicara dengan papa dan menjelaskan duduk perkaranya. Kutunggu papa didepan pintu hingga penghujung senja. Beliu tak muncul. Sampai malam papa tak jua datang.
Namun, kali ini tak lagi aku gembira. Kesedihan menyelimuti hariku. Ulang tahun terpahit yang pernah aku lalui. Kata bu guru, raporku kebakaran.Aku tinggal kelas! Oh alangkah bodohnya diriku. Apa kata papa nanti? Pasti beliau kecewa lagi. Ingin aku bicara dengan papa dan menjelaskan duduk perkaranya. Kutunggu papa didepan pintu hingga penghujung senja. Beliu tak muncul. Sampai malam papa tak jua datang.
Tengah malam bagai mimpi buruk aku tersentak mendengar suara bariton lelaki yang kucintai. Dia berteriak-teriak sambil mengemasi pakaiannya, dan kulihat mama menangis di sudut kamar setelah mereka bertengkar hebat. Dengan tangis terisak kusaksikan papa melesat hilang ditelan malam. Papa meninggalkanku, meninggalkan adik-adik, meninggalkan mama. Betapa jerinya hatiku. Papa pergi! Tak kujumpai lagi papa sejak malam itu. Aku rasa dibuang.
Putri kecil hapus laramu. Hidup terkadang pahit, tapi kamu bisa membuatnya manis dengan lirih do’a yang kau untai dalam sujudmu. Sebelum tidur, jangan lupa selipkan mimpimu di bawah bantal, karena ibu peri masih setia mengirimkannya ke langit. Hingga Tuhan menjadikannya nyata.













