Limpapeh Bridge

Kamuflase

Aku menunggumu. Rindu-rindu yang menggantung sepanjang hari bangkit dari makam purbaku. Kemudian larut di perbatasan antara kabut bukit dan menjelma di balik rumpun bambu betung. Ada nyanyian kasmaran berdenting dawai resah. Aku menggenggam bara selepas magrib. Cinta meludahiku dengan hujan abu-abu. Aku pernah luruh di bawah sebatang pohon penuh duri. Yang pucuknya berhasrat merombengi matahari. Cabang dan rantingnya sibuk mencakari matahari. Akarnya seperti bandul jam melafalkan mantra dendam. Kupu-kupu lupa metamorphosis sayapnya terjerat jaring laba-laba. Sebait puisi lepas dengan huruf-huru penuh daki. Rindu-rindu yang menempel retak. Laba-laba merah bata bertapa di balik kungkungan. Kemana perginya harap yang ditindih kecemasan menyetubuhi resah. Aku pun pernah sembunyi dari kegelisahan rembulan, yang merangkai bunga api menuliskan syair api maka mimpi purbaku pecah. Sakit.

Japanese Tunnel

Misery


Nyanyian sang diam kembali merayap
Merasuki, akhirnya beri jeda dalam senyap
Hancur rasa menusuk, namun hanya hadir
Kepingan hasrat terserak, torehkan getir
Menjelma menjadi luka batin tanpa kendali
Ketukan nada sang bisu kini terdengar
Denyut emosi dan nadi cinta mulai terdengar
Harap jerat pelangi menyayat, memberi riap
Pada potongan jiwa yang telah sesat akan gelap
Bubuhkan pahit pada rasa yang dikecap
Tutur kata sang bijak terasa mendekat
Menarik sadar, lelah mengembara di padang kemunafikan
Menyadari tinta kelam kembali tertumpah pada angan
Ingin tahu jawab, jujur yang harus terucap
Walau tak kupungkiri, asaku tersayat
tanpa mampu menyatu kembali

Vanish

Bila memamg kau ada untukku
mengapa angin berlalu bisu?
Rinduku membelenggu hati
bebaskan aku dari hukuman mati ini
Sayap-sayap jiwaku mengelana bebas
haturkan tanya pada setiap risau
Kemanakah kau cinta?
Bila memang kau ada untukku
Mengapa hati terisis perih?
Penjaga takdir diam di sudut hari
tak membuka mata
meski bintang terus menghiba
Mimpiku tercabik nyata
tak lagi berdaya hadirkan wajahmu
Cintaku terhapus hujan
tinggalkan biru pada langit yang bergetar


Edelweiss


Menjunjung akal dalam kegilaan yang waras
Menentukan yang waras dalam ketabuan
Yang melunak dalam hati seharusnya kuterima
Namun kutantang dalam keperihan
Tetapi yang harus kubantah, kutelan dalam-dalam
Kengerian yang meruak setiap detik nadi
Membuat rasa didalamnya terpasung
Membayangkan segala yang tak pernah pasti
Dan menatap realita sebagai musuh abadi
Mencoba menyimpan segalanya rapat-rapat dan berharap
Doa yang tak pernah putus menghiasi lorong-lorong batin
Tuhan… keyakinan apa yang Kau berikan atas nama cinta
Semuanya sarat dengan makna tak terbaca
Teguh ini mempertahankan segala yang telah hilang
Tuhan menjanjikan jawaban untuk hamba-Nya yang berdoa
Entah kapan… entah dimana…
Aku terus menunggu sampai
Tuhan menjawabnya
                      

Desire


Sayang,
Kenalilah musim hujan yang basah
Dan kemarau yang meranggaskan daun-daun kering
Di sepanjang hari dalam dua belas purnama
Karna cintaku bersemi di dua musim
Kenalilah gelisah angin diantara buluh-buluh bambu
Yang meliuk kekanan dan meliuk kekiri
Yang gemerisik diantara sunyi
Karena ada bisikan tentang gelisahku
Ketika senja turun di bukit-bukit tak berpenghuni
Ada rona yang dilukiskan pada latar langit
Merah membara dan kadang-kadang lembayung
Kenalilah warnanya yang disapukan dari rinduku
Sayang,
Malam-malam ku adalah catatan tentang cinta
Dinginnya menghangatkan dan member aroma rasa
Aku jejaki purnama yang tenggelam di antara awan
Dan aku ingin terbenam bersama cinta yang kau bawa

Ruinous


Terbangun linglung, kudapati cinta berbuah kebencian
Dipenuhi ratusan ribu nanar
Akupun tenggelam dalam kesangsian akan hari depan
Dalam kalap jiwa yang kau jebak
Kutata muka dan berdiri patahkan rasa
Kenakan busana baru rajutan dendam
Dan penuhi tangki-tangki doa dengan kutukan
Tak kulihat warna selain buram
Setumpuk nilai pun sirna dibenam nafsu
Sungguh aku tertawan dan karam
Dalam lubang sempit bernama kekecewaan



Bosom


Kami empat mata angin bumi
Berlayar kita di lembah suka duka
Menghirup cerita lagu pedih hati meniup tiap sengsara jiwa
Aku,kamu,kamu,dan kamu
Kita seperti pasir isap satu tarikan tali
Kita adalah warna pelangi yang tak tertembus mentari
Kita bagai kumpulan anjing liar pemangsa pagi
Tuhan, aku harap tiada akhir yang aka nada
Seperti salju kutup yang selalu menemani bumi
Seperti ikan laut yang tak kekurangan garam dunia
Aku dan kita kupastikan tiada akhir nanti

Funeral

Cintamu  pernah berkilauan dibatinku
Seperti bola mata anak kecil
Yang bersih dilambung puisi
Tapi sekarang semua redam
Ia hidup dalam cahaya remang
Tersenyum menjaga rumah di negeri bulan
Siapakah itu yang kemari diantara siluet hujan?
Barangkali rohmu  melayang-layang
Mencari cinta, yang ada dalam genggamanku
Sayangnya kau terlambat, Sayang
cintaku sudah bersemayam dipemakaman

2011/01/31

Limpapeh Bridge

Kamuflase

Aku menunggumu. Rindu-rindu yang menggantung sepanjang hari bangkit dari makam purbaku. Kemudian larut di perbatasan antara kabut bukit dan menjelma di balik rumpun bambu betung. Ada nyanyian kasmaran berdenting dawai resah. Aku menggenggam bara selepas magrib. Cinta meludahiku dengan hujan abu-abu. Aku pernah luruh di bawah sebatang pohon penuh duri. Yang pucuknya berhasrat merombengi matahari. Cabang dan rantingnya sibuk mencakari matahari. Akarnya seperti bandul jam melafalkan mantra dendam. Kupu-kupu lupa metamorphosis sayapnya terjerat jaring laba-laba. Sebait puisi lepas dengan huruf-huru penuh daki. Rindu-rindu yang menempel retak. Laba-laba merah bata bertapa di balik kungkungan. Kemana perginya harap yang ditindih kecemasan menyetubuhi resah. Aku pun pernah sembunyi dari kegelisahan rembulan, yang merangkai bunga api menuliskan syair api maka mimpi purbaku pecah. Sakit.

Japanese Tunnel

2011/01/29

Misery


Nyanyian sang diam kembali merayap
Merasuki, akhirnya beri jeda dalam senyap
Hancur rasa menusuk, namun hanya hadir
Kepingan hasrat terserak, torehkan getir
Menjelma menjadi luka batin tanpa kendali
Ketukan nada sang bisu kini terdengar
Denyut emosi dan nadi cinta mulai terdengar
Harap jerat pelangi menyayat, memberi riap
Pada potongan jiwa yang telah sesat akan gelap
Bubuhkan pahit pada rasa yang dikecap
Tutur kata sang bijak terasa mendekat
Menarik sadar, lelah mengembara di padang kemunafikan
Menyadari tinta kelam kembali tertumpah pada angan
Ingin tahu jawab, jujur yang harus terucap
Walau tak kupungkiri, asaku tersayat
tanpa mampu menyatu kembali

Vanish

Bila memamg kau ada untukku
mengapa angin berlalu bisu?
Rinduku membelenggu hati
bebaskan aku dari hukuman mati ini
Sayap-sayap jiwaku mengelana bebas
haturkan tanya pada setiap risau
Kemanakah kau cinta?
Bila memang kau ada untukku
Mengapa hati terisis perih?
Penjaga takdir diam di sudut hari
tak membuka mata
meski bintang terus menghiba
Mimpiku tercabik nyata
tak lagi berdaya hadirkan wajahmu
Cintaku terhapus hujan
tinggalkan biru pada langit yang bergetar


Edelweiss


Menjunjung akal dalam kegilaan yang waras
Menentukan yang waras dalam ketabuan
Yang melunak dalam hati seharusnya kuterima
Namun kutantang dalam keperihan
Tetapi yang harus kubantah, kutelan dalam-dalam
Kengerian yang meruak setiap detik nadi
Membuat rasa didalamnya terpasung
Membayangkan segala yang tak pernah pasti
Dan menatap realita sebagai musuh abadi
Mencoba menyimpan segalanya rapat-rapat dan berharap
Doa yang tak pernah putus menghiasi lorong-lorong batin
Tuhan… keyakinan apa yang Kau berikan atas nama cinta
Semuanya sarat dengan makna tak terbaca
Teguh ini mempertahankan segala yang telah hilang
Tuhan menjanjikan jawaban untuk hamba-Nya yang berdoa
Entah kapan… entah dimana…
Aku terus menunggu sampai
Tuhan menjawabnya
                      

Desire


Sayang,
Kenalilah musim hujan yang basah
Dan kemarau yang meranggaskan daun-daun kering
Di sepanjang hari dalam dua belas purnama
Karna cintaku bersemi di dua musim
Kenalilah gelisah angin diantara buluh-buluh bambu
Yang meliuk kekanan dan meliuk kekiri
Yang gemerisik diantara sunyi
Karena ada bisikan tentang gelisahku
Ketika senja turun di bukit-bukit tak berpenghuni
Ada rona yang dilukiskan pada latar langit
Merah membara dan kadang-kadang lembayung
Kenalilah warnanya yang disapukan dari rinduku
Sayang,
Malam-malam ku adalah catatan tentang cinta
Dinginnya menghangatkan dan member aroma rasa
Aku jejaki purnama yang tenggelam di antara awan
Dan aku ingin terbenam bersama cinta yang kau bawa

Ruinous


Terbangun linglung, kudapati cinta berbuah kebencian
Dipenuhi ratusan ribu nanar
Akupun tenggelam dalam kesangsian akan hari depan
Dalam kalap jiwa yang kau jebak
Kutata muka dan berdiri patahkan rasa
Kenakan busana baru rajutan dendam
Dan penuhi tangki-tangki doa dengan kutukan
Tak kulihat warna selain buram
Setumpuk nilai pun sirna dibenam nafsu
Sungguh aku tertawan dan karam
Dalam lubang sempit bernama kekecewaan



Bosom


Kami empat mata angin bumi
Berlayar kita di lembah suka duka
Menghirup cerita lagu pedih hati meniup tiap sengsara jiwa
Aku,kamu,kamu,dan kamu
Kita seperti pasir isap satu tarikan tali
Kita adalah warna pelangi yang tak tertembus mentari
Kita bagai kumpulan anjing liar pemangsa pagi
Tuhan, aku harap tiada akhir yang aka nada
Seperti salju kutup yang selalu menemani bumi
Seperti ikan laut yang tak kekurangan garam dunia
Aku dan kita kupastikan tiada akhir nanti

2011/01/28

Funeral

Cintamu  pernah berkilauan dibatinku
Seperti bola mata anak kecil
Yang bersih dilambung puisi
Tapi sekarang semua redam
Ia hidup dalam cahaya remang
Tersenyum menjaga rumah di negeri bulan
Siapakah itu yang kemari diantara siluet hujan?
Barangkali rohmu  melayang-layang
Mencari cinta, yang ada dalam genggamanku
Sayangnya kau terlambat, Sayang
cintaku sudah bersemayam dipemakaman

Copyright @ Miscellaneous Thoughts | Floral Day theme designed by SimplyWP | Bloggerized by GirlyBlogger | Distributed by: best blogger template personal best blogger magazine theme | cheapest vpn for mac cheap vpn with open ports